Breaking News

Pilkada Jujur dan Damai Lahirkan Pemimpin Berkualitas

Soal pragmatisme telah menjadi masalah menahun di Indonesia. Bukan sekadar pragmatis, lebih jauh telah sampai pada level pasrah.

Tayang:
Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN MEDAN/RISKY CAHYADI
JALAN BERSAMA - Calon Gubernur Sumut Djarot Saiful Hidayat (kiri), dan Calon Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi (kanan), berjalan bersama saat mengikuti Deklarasi Kampanye Damai di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan, 18 Februari 2018. Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur berkomitmen melaksanakan Pilkada Sumut yang damai. 

Persoalannya, apakah masyarakat pemilih kita, termasuk di Sumut, bisa benar-benar memastikan secara cermat pilihan mereka atas dasar pertimbangan ini? Apakah masyarakat pemilih bisa menepikan pragmatisme?

Soal pragmatisme juga telah menjadi masalah menahun di pemilihan-pemilihan umum di Indonesia. Bahkan sesungguhnya bukan sekadar pragmatis, tetapi lebih jauh telah sampai pada level pasrah. Sikap yang antara lain melahirkan satu anekdot berbahaya: "terima uangnya jangan pilih orangnya."

Perkara memberi dan menerima pastilah didasari hubungan timbal balik. Ini sudah jadi hukum alam. Hanya matahari yang bersedia memberi tanpa berharap kembali. Dalam hal menerima sesuatu dari pihak yang sedang bertarung di ajang pemilihan umum, tentulah pihak penerima paham bahwa yang diterimanya itu bukanlah cuma-cuma. Penerima mesti menukar apa yang dia terima, entah uang atau barang atau iming-iming, dengan suaranya.

Benar pula bahwa sepanjang tidak ada perjanjian tertulis, penerima bisa saja abai dan acuh, atau pura-pura tak paham. Terima uangnya jangan pilih orangnya. Namun, tak dapat dimungkiri betapa di lain sisi, sikap pragmatis ini yang membuat politik uang terus marak.

Lantas bagaimana sebaiknya bersikap? Negara telah memberikan rambu berupa undang-undang. Penyelenggara pemilu dan pengawas pemilu telah menetapkan aturan-aturan main yang masing-masing tidak boleh dilanggar. Namun, kita juga tahu betapa makin banyak undang-undang, makin ketat aturan, makin kreatif upaya untuk mencari celah.

Karenanya, baik buruk pemilu, pada dasarnya terpulang pada diri masing-masing yang terlibat. Terutama warga pemilik hak suara. Apakah akan terus bersikap pragmatis, pasrah, membiarkan kepala dibeli dengan murah, atau bersama-sama membulatkan tekad untuk melangkah keluar dari lingkaran kekeliruan.

Tanpa tekad, tanpa kesadaran, maka pemilu apapun bentuknya, akan begini-begini saja. Jangan harap lahir pemimpin berkualitas. Pemilu yang berjalan tidak jujur, riuh oleh kabar-kabar bohong, hanya akan sampai pada pengulangan sejarah yang sama buruknya.(jefri susetio)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved