Kontroversi Muntahan Paus Bernilai Miliaran Rupiah, Ternyata Ini Yang Bikin Mahal

Kini benda berupa bongkahan padat itu telah disita oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam, NTT.

tribunmedan.com
ilustrasi muntahan paus 

Ambergris, saat pertama kali dikeluarkan berwarna hitam dan berbau busuk.

Namun setelah melalui proses yang panjang, lama-kelamaan ambergris berubah menjadi harum.

"Proses-proses kimia itu mengarah ke struktur kimia baru yang kemudian berubah sifat menjadi lebih harum. Tidak juga seperti hal yang ajaib, begitu keluar langsung harum. Pada awal keluar juga bau", terang Prof. Jamaludin Lompa, pakar Biologi Kelautan, seperti dikutip Grid.ID dari BBC.

Benarkah perusahaan parfum ternama masih menggunakan ambergris?

Meski kerap jadi incaran para pembuat parfum, ambergris hari ini nyatanya tak lagi digunakan di perusahaan parfum ternama.

Tris Tjahjadin, ahli parfum yang belajar di Prancis, menjelaskan hal ini disebabkan peraturan ketat yang dikeluarkan Asosiasi Parfum Internasional atau IFRA (International Fragrance Association).

"Lambat laun badan yang mengatur bahan dasar parfum tambah lama tambah ketat jadi banyak bahan yang sekarang sudah tidak diperbolehkan", jelas Tris yang sebelum mempelajari parfum secara dalam, sempat mendalami biokimia di Amerika.

"Misalnya (parfum) Chanel no 5 yang kita beli tahun 80-an dengan Chanel no 5 yang sekarang itu sebenarnya baunya beda tapi untuk konsumen mungkin tidak bisa bedain kecuali orang yang fanatik dengan parfum. Karena ada bahan tertentu yang sudah dilarang atau sudah tidak boleh dipasarkan, atau sudah terlalu mahal juga" tambah Tris.

Bahkan, saat Tris mendatangi ekspo bahan baku wewangian di Eropa maupun tanah air, ia mengaku belum pernah melihat ambergrisdiperdagangkan.

"Selama ini saya tidak pernah lihat ada orang yang bawa ambergris sih, jujur saja", katanya sambil terkekeh.

"Setahu saya kalau negara-negara yang badan POM-nya kuat, hukumnya kuat, itu pasti sudah tidak mungkin ada di pasaran," ujar Tris.

Meski Asosiasi Parfum Internasional melarang penggunaan parfum berbahan ambergris, kenyataannya di lapangan, para pemburu ambergrismasih berkeliaran.

"Pembeli-pembeli (ambergris) seperti penjual parfum dengan pasar ceruk, atau mau coba jadi artisan yang berjualan di atas lima juta (rupiah), mungkin bisa. Mungkin pasarnya itu, kalau perusahaan besar saya rasa sudah tidak berani" tutup Tris.

Sementara itu dari hasil penelusuran, tercatat sebuah situs jual beli ambergris asal Selandia Baru, menjual ambergris seharga USD$29 (Rp400 ribu) per gram. Belum termasuk biaya pengiriman internasional sebesar $16 (Rp220 ribu) per pemesanan. (*)

 
Sumber: Grid.ID
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved