Hebat, Dosen ITB Ciptakan Alat Pengubah Sampah Plastik jadi Minyak Tanah
Plastik akan mencair dan berubah menjadi gas yang kemudian mengalir melalui pipa melewati kondensor.
Ketika diuji coba, minyak hasil olahan bungkus mi instan itu bisa mendidihkan air sebanyak 200 mililiter dalam waktu kurang dari tiga menit.
Minyak sampah plastik, kata Pandji, lebih cocok dipakai sebagai pengganti kerosin atau minyak tanah dibanding bensin.
Sebab, minyak yang dihasilkan bersumber dari sampah plastik sudah tercampur dengan zat lain, sehingga berisiko bila digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
Sedangkan dari sisi ekonomi, harga minyak sampah plastik sulit bersaing dengan bensin dan solar yang masih disubsidi.
"Kita tahu harga minyak tanah sekarang sekitar Rp13 ribu perliter. Jadi sebetulnya dari sisi itu, ini bisa jadi substitusi minyak tanah yang ekonomis. Bisa dijual di kisaran Rp5000 per liter," ujar Pandji.
Reaktor pirolisis yang belum diberi nama itu, menurut Pandji, memberi manfaat bagai 'dua lalat tertangkap dengan sekali tepuk', sampahnya hilang, minyaknya dapat.
Ke depan, dia berharap bisa merancang reaktornya dengan konsep yang portabel dan komunal agar bisa digunakan masyarakat di daerah yang tidak memiliki akses terhadap bahan bakar cair, tapi memproduksi banyak sekali sampah plastik.
Dia mencontohkan Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta. Pulau kecil ini kesulitan mengakses BBM, sementara sampah plastiknya menumpuk sebagai dampak dari industri pariwisata.
"Nah, kalau itu kita manfaatkan sebagai energi bahan bakar cair, seharusnya pulau-pulau kecil itu bisa terpenuhi kebutuhannya dengan sampah plastik yang ada di industri pariwisata," kata doktor lulusan Fakultas Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Tokyo.

Hasil pemanasan sampah plastik berupa gas akan dikondensasi menjadi minyak yang ditampung di sebuah wadah/JULIA ALAZKA.
Perilaku masyarakat
Merakit reaktornya juga terbilang mudah. Tingkat kesulitannya hampir sama dengan merakit kompor minyak.
Meski demikian, Pandji menyadari bakal ada kendala dalam proses pemasarannya, terutama dalam hal mengubah perilaku masyarakat.
"Karena ini teknologi baru, dari sisi komersial mungkin orang akan ragu-ragu, apakah layak membeli ini. Artinya, saya sekarang sudah bisa punya elpiji, punya kompor minyak tanah sendiri, kenapa saya harus mengeluarkan uang untuk mengolah plastik menjadi minyak?" kata Pandji, memprediksi.
Di samping itu, ada persoalan dalam proses pirolisis, yaitu keluarnya bau yang menyengat. Namun menurut Pandji, persoalan itu bisa diupayakan agar dalam prosesnya, bau tidak bocor ke lingkungan sekitar.
"Begitu pakai sampah plastik itu, ada bagian yaitu bagian pewarna. Ini yang kita tidak bisa lawan baunya. Dan memang proses pirolisis ini lebih diutamakan supaya dia tidak bocor ke lingkungan. Jadi akan lebih mahal karena kita tidak ingin ada efek-efek ke lingkungan sekitar," ungkap Pandji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/minyak-dari-plastik_20180426_120018.jpg)