Pilgub Sumut

Menjenguk Keysa Penderita Stunting, Djarot Bahas Susu dengan Sang Dokter

Bocah pasangan S Lature dan Weni Sarumaha tersebut menurut Djarot sudah membaik dari hari ke hari.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HO/Tim Djoss
Djarot Saiful Hidayat bertemu Kesya, anak penderita Stunting, Selasa (29/5/2018) 

Djarot menuturkan, memberikan anak makanan yang bergizi juga tidak sulit.

Baginya, masih banyak makanan bergizi yang murah. Seperti sayur-suyuran, ikan, tahu, tempe hingga umbi-umbian.

"Kalau buah, pepaya harganya masih murah. Kita punya buah lokal yang baik, gizinya juga bagus," ucapnya.

Djarot menjelaskan alasannya mengangkat stunting dan gizi buruk menjadi program penting yang dibahas karena ia berharap Sumut memiliki generasi yang cerdas, kuat dan sehat ke depan.

Baginya, ke depan generasi muda menjadi ujung tombak negara ini adalah generasi saat ini.

"Untuk itu saya imbau agar masyarakat terus menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi," katanya.

Stunting Mirip Si Cebol, Tpi Sebenarnya Beda

Stunting adalah keadaan anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga ia lebih pendek daripada teman-teman seusianya. Dalam kasus tertentu anak tampak kerdil sekali, mirip seperti cebol.

Ciri utama perawakan tubuh pendek.

Stunting
Stunting (NET)

Baca: Debat Cagub Sumut 2018, Pasangan Edy Rahmayadi tak Tahu Stunting, Ini Katanya. . . !

Baca: Ibu-ibu Cemas Ancaman Penyakit Aneh, Banyak Balita di Langkat Kena Stunting

Baca: Ibu-ibu Kaget Ada Stunting, Balita di Desa Ini Bertubuh Kecil

Walau demikian stunting berbeda dengan dwarfisme atau cebol. Orang kerdil stunting adalah disebabkan kurang gizi. Sedangkan dwarfisme atau cebok bisa karena keturunan atau gangguan hormon.

Banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil. Apalagi, stunting dialami anak yang masih di bawah usia 2 tahun.

Kondisi ini harus ditangani segera dan tepat. Sebab stunting adalah kejadian yang tak bisa dibuat seperti anak normal, jika sudah terlanjur pertumbuhan kerdil.

Stunting disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan 20 persen kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan.

Asupan gizi ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved