Kedai Tok Awang
Kalau Saja Indonesia Ikut Piala Dunia
Kalok masih kayak gini-gini jugaknya sepakbola Indonesia diurus, sampai kapanpun tidak akan ikut di Piala Dunia kita
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
"Maksudku, kalau sekarang bisa mengimbangi, tentunya ke depan tetap ada potensi untuk mengimbangi, kan? Kalau imbang, tentu, seperti Korea Selatan, Indonesia juga bisa ikut Piala Dunia, kan? Kita pun bisa seperti orang-orang di Korea, di Jepang. Mendukung tim nasional negara sendiri. Teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, pakai kostum, coret-coret mukak. Mantap kali kurasa. Enggak kayak sekarang ini, di kede ini kita duduk, bedebat sampek begadoh-gadoh gara-gara tim nasional negara lain."
Mendengar kalimat ini, Ane Selwa yang sedang main catur dengan Jontra Polta angkat bicara. "Kau pun sama aja kayak penonton boy band tadi. Sudah lamanya kau nonton bola Indonesia, masak masih tak ngerti. Kalok masih kayak gini-gini jugaknya sepakbola Indonesia diurus, sampai kapanpun tidak akan ikut di Piala Dunia kita," katanya.
Ane Selwa lalu menceritakan pengalamannya saat masih jadi pemain bola di tahun-tahun akhir 1980-an. Sebagai anak Medan klub impiannya tentulah PSMS. Namun berkali-kali ikut seleksi, tak pernah sekalipun dia lolos. Beberapa bahkan langsung gugur di tahap awal.
Walau pernah mendengar perihal "pemain titipan" dan semacamnya, Ane Selwa mencoba berbaik sangka, dan memang, hal ini tidak pernah dia jadikan sebagai alasan kegagalannya berkostum PSMS sampai memutuskan pensiun menyepak bola. Hal yang membuatnya kesal justru kecentrang-prenangan pembinaan. Satu di antaranya menyeruak dalam bentuk tarkam, pertandingan antar kampung.
"Bisa kelen bayangkan, pemain-pemain yang sudah main di PSMS, main di PSDS, main di Mercu Buana, juga kemudian Medan Jaya dan klub-klub liga, masih jugak mau main di kampung-kampung hanya karena dibayar beberapa ratus ribu perak. Karena punya nama, merekalah yang main, sedangkan pemain-pemain kampung yang mungkin saja sebenarnya lebih paten, enggak dapat kesempatan. Kalok pun masuk tim, ya, jadi cadangan abadi."
"Nah, karena di klub yang main pemain yang itu-itu aja, tim nasional pun isinya pemain yang itu-itu jugak. Padahal, pemain-pemain ini sudah berkali-kali main di tim nasional dan berkali-kali pulak gagal. Sementara di negara lain, makin maju mereka. Jepang dulu enggak jauh-jauh kali sama kita. Boleh dikata imbang lah, kadang menang kadang kalah. Sekarang sudah beda. Mereka cumak perlu ngirim tim lapis empat yang isinya pemain bola nyambi tukang bikin dinsum untuk ngelawan kita."
Ane Selwa terus nyerocos. "Sekarang kompetisi kita katanya profesional. Padahal, ya, masih jauh. Masih kompetisi kampungan dengan manajemen sukak-sukak ati. Macam mana mau profesional kalok aturan bisa dengan gampang dikangkangi dan diganti-ganti."
"Ketuanya ajapun sekarang enggak jelas siapa. Entah masih cuti ato udah berhenti enggak ngerti awak."
"Sabar, Ne, sabar," kata Jontra Polta memotong cerocosan Ane Selwa. Dia kemudian berdiri, lalu memijat tengkuk lelaki itu. "Sabar, Ne. Kumat pulak darah tinggi Ane nanti kami-kami di sini jugak yang capek. Bangke Ane besar kayak gini. Cik, kasikan lah dulu air putih."
Ocik Nensi yang sedang memeriksa pembukuan kedai, dari balik steling menyahut. "Hebat kali kau, ya, Jon. Kalok cumak air putihnya kelen ambeklah sendiri. Mesti kali Ocik antar-antar. Kalok teh susu tadi masih boleh lah."
"Hahaha, sensi kali Ocik ini. Lagi PMS kurasa Ocik."
"Kurang ajar, kau. Duluan aku lahir dari omak kau, ya."
"Hahaha, sori, sori."
Sudung menimpali percakapan, memutusnya hingga tak jadi perdebatan yang makin panjang dan berpotensi chaos. "Sebenarnya anak penonton boy band itu tak salah-salah kali. Jangankan Korea, lawan Brasil pun Indonesia pernah menang, kok."
"Ah, mana pulak ada itu. Ngada-ngada aja kau," kata Ane Selwa menyergah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/indonesia1_20180629_155005.jpg)