Kedai Tok Awang

Sampai Kapan Inggris Bertahan?

BAHWA mendadak Pak Udo mengatakan 'Amerika kita setrika, Inggris kita Linggis', janganlah disangka dia telah menjadi seorang Sukarnois.

Sampai Kapan Inggris Bertahan?
AFP PHOTO/MARK RALSTON
STRIKER tim nasional Inggris, Harry Kane (keempat dari kanan), merayakan gol yang dicetaknya bersama rekan-rekannya pada laga kontra Tunisia, 19 Juni. 

TRIBUN-MEDAN.com-BAHWA mendadak Pak Udo mengatakan 'Amerika kita setrika, Inggris kita Linggis', janganlah disangka dia telah menjadi seorang Sukarnois.

Sama sekali tidak. Pak Udo tetap pada posisinya semula: memandang politik sekadar sebagai lelucon yang sering kali tak lucu.

Adapun kalimatnya, tentu, tiada lain dan tiada bukan berhubungan dengan Inggris saja. Toh Amerika tidak ikut Piala Dunia dan konon ini mengecewakan Vladimir Putin.

Sebagai pendukung Jerman garis keras, Pak Udo merasa terlinggisnya Inggris akan jadi pelampiasan paling sempurna. Walau pasti tidak akan tuntas, setidaknya, jika Inggris ikut pulang, sakit hatinya atas terdepaknya Jerman pagi-pagi dari Piala Dunia 2018 bisa terobati.

Persoalannya, apakah Inggris juga akan kena linggis? Apakah Inggris juga akan ikut pulang bersama Jerman dan tiga mantan juara dunia lainnya --Argentina, Portugal, dan Spanyol?

Kecuali Mak Idam, tak ada pengunjung tetap kedai Tok Awang yang berada satu gerbong dengan Pak Udo. Umumnya berpendapat Inggris akan bertahan. Setidaknya sampai babak perempat final. Bahkan Wak Razoki, Ane Selwa, dan Lek Tuman, punya satu pandangan, Inggris akan mengulang pencapaian di Italia 1990, yakni lolos ke semifinal.

Namun ternyata, walau hanya berdua, Pak Udo dan Mak Idam bersikukuh dengan pendapat mereka. Tak ayal debat pun terjadi. Riuh dan panas, mirip betul dengan acara debat di televisi.

"Ari tu Mamak pernah bilang kalok di antara negara-negara yang kelas, Inggris yang paling enggak bekelas. Awak setuju itu, awalnya. Namun makin ke sini kayaknya Si Southgate bisa bentuk tim kelas. Maksud awak benar-benar berkelas," kata Wak Razoki.

"Iyalah, kita kalok ngomong itu, ya, pakek pakta lah. Jangan pulak asal libas. Macam baru nonton bola sehari dua hari aja," ujar Ane Selwa menimpali. Katanya pula, Inggris berkembang dalam senyap. Lantaran sejak mula diremehkan, tidak banyak yang mencermati betapa dari laga ke laga, mulai dari fase kualifikasi, kekuatan Inggris tumbuh dan makin membaik.

Mereka tidak pernah kalah di kualifikasi. Rekornya, 10-8-2-0, mencetak 18 gol dan hanya kebobolan tiga gol. Tak mengesankan memang apabila dibandingkan dengan Jerman. Namun di Rusia, Inggis membaik --terlepas dari lawan-lawan mereka, di luar Belgia, yang kurang sepadan.

Halaman
1234
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved