Kedai Tok Awang

Yang Beruntung dan Yang Sial

orang-orang di kedai Tok Awang membikin pemeringkatan pertandingan-pertandingan babak 16 besar.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/ODD ANDERSEN
SEORANG suporter tim nasional Jepang, menangis usai laga Jepang kontra Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2018, 3 Juli. Jepang kalah 2-3 dan tersingkir dari Piala Dunia. 

BABAK perdelapan final Piala Dunia 2018 sudah lewat dan di kedai Tok Awang orang-orang membikin pemeringkatan berdasarkan dua kategori. Yaitu laga-laga yang paling pantas untuk diperbincangkan dan laga mana pula yang tidak perlu-perlu benar dibahas.

Lewat diskusi yang tak berlangsung sengit, disepakati, pertandingan yang tak perlu-perlu benar dibahas adalah Portugal melawan Uruguay dan Argentina melawan Perancis.

Di antara sejumlah alasan, adalah alasan yang dikemukakan Tok Awang yang akhirnya diakuri bersama. Bahwa era Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, setidaknya di kancah sepakbola antar negara, sudah tamat. Saatnya dunia bersiap move on dari segala tetek bengek drama yang mengikuti tiap langkah mereka selama sepuluh tahun terakhir.

FOTO combo pemain tim nasional Argentina, Lionel Messi, dan pemain tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo
FOTO combo pemain tim nasional Argentina, Lionel Messi, dan pemain tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo (AFP PHOTO/JEWEL SAMAD/ADRIAN DENNIS)

Berada di urutan berikutnya adalah Brasil kontra Meksiko dan Swedia kontra Swiss. Yang pertama lantaran sejak awal memang sudah diprediksi siapa pemenangnya dan ternyata memang sama sekali tidak meleset, sedangkan yang kedua lebih karena kurang menarik. Swedia yang tanpa bintang bentrok dengan Swiss yang juga tanpa bintang. Tentu, bintang yang dimaksud adalah bintang yang benar-benar bintang, seperti Zlatan Ibrahimovic. Bukan bintang sekadar.

Maka selain suporter kedua negara, tidak ada yang menaruh perhatian terlalu serius pada laga ini. Tak terkecuali di kedai Tok Awang. Dalam bursa taruhan yang diorganisir Jontra Polta, laga ini paling sepi peminat.

Bentrok Inggris dan Kolombia di urutan berikutnya. Seperti diperkirakan, laga ini berjalan terlalu kaku. Tidak banyak fantasi di lapangan. Gelandang-gelandang robot Inggris membuat pertandingan berjalan seperti pelajaran matematika di dalam kelas.

Gol Yerry Mina di menit 93 yang membawa Kolombia ke fase tambahan dan kemudian adu penalti, hanyalah kejutan kecil yang menyenangkan. Kurang lebih serupa dengan keberhasilan Inggris memenangkan penalti itu. Kemenangan pertama setelah tiga kekalahan sebelumnya.

PEMAIN-pemain tim nasional Inggris merayakan keberhasilan melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2018, setelah pada laga babak 16 besar menang adu penalti 5-4 atas Kolombia.
PEMAIN-pemain tim nasional Inggris merayakan keberhasilan melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2018, setelah pada laga babak 16 besar menang adu penalti 5-4 atas Kolombia. (AFP PHOTO/ALEXANDER NEMENOV)

Lalu pertandingan mana saja yang berada di peringkat-peringkat teratas dan pantas diperbincangkan? Berdasarkan urut-urutan adalah Kroasia versus Denmark, Spanyol kontra Rusia, dan Belgia melawan Jepang. Wak Razoki dan Ane Selwa menyebut ketiga pertandingan ini sebagai pertandingan-pertandingan yang diwarnai keberuntungan dan kesialan.

Dibanding dua laga lain, tingkat keberuntungan dan kesialan di laga Kroasia versus Denmark sebenarnya tidaklah seberapa menohok. Nyaris serupa pertandingan Inggris dan Kolombia, adu penalti pada hakekatnya memang untung-untungan. Memang, ada teknik yang ambil peran di sini. Dari yang biasa-biasa saja sampai yang penuh tipu daya dan menjengkelkan para kiper di seluruh dunia, Panenka. Namun seringkali, keberuntungan yang lebih dominan. Dalam hal Inggris lawan Kolombia, Inggris patut berterima kasih pada mistar gawang.

Keberuntungan model begini tidak terjadi pada Kroasia kontra Denmark. Maka yang membuatnya agak luar biasa adalah kedigdayaan kiper-kipernya.

"Dua-duanya bisa nahan tiga penalti. Si Schmeichel, nahan dua saat adu penalti dan satu di perpanjangan waktu. Pertandingan sudah mau habis. Itu bebannya gilak. Apalagi, yang dia hadapi pemain sekelas Luka Modric. Bukan tak mantap kali itu. Kurasa sekarang udah bisalah disejajarkan dia dengan bapaknya," kata Ane Selwa.

FOTO combo kiper tim nasional Denmark, Kasper Schmeichel, dan ayahnya, Peter Schmeichel, kiper tim nasional Denmark era 1990-an.
FOTO combo kiper tim nasional Denmark, Kasper Schmeichel, dan ayahnya, Peter Schmeichel, kiper tim nasional Denmark era 1990-an. (INTERNET)

Di luar ini, pertandingan berjalan seimbang. Babak pertama Kroasia yang dominan, babak kedua giliran Denmark. Di fase tambahan, keduanya bermain sangat hati-hati hingga jadi tontonan yang membosankan.

"Cumak penalti itulah yang bikin sport jantung sikit. Si Modric gagal nendang penalti. Kaloklah Kroasia waktu itu kalah, hancurlah dia. Istilahnya apa itu? From hero to zero. Apalagi kalok ada mafia di Kroasia yang kalah taruhan gara-gara itu, bisa lebih gawat lagi nasibnya. Bisa-bisa kayak Si Escobar pemain Kolombia dulu," ujar Wak Razoki.

Jika Kroasia versus Denmark berjalan seimbang, tidak demikian Rusia kontra Spanyol. Berstatus tuan rumah, bermain di hadapan puluhan ribu suporternya, Rusia justru sepenuhnya berada di bawah tekanan Spanyol. Benar-benar tertekan nyaris sepanjang 90 menit waktu pertandingan.

Beruntung bagi Rusia dan sial bagi Spanyol. Betapa 75 persen penguasaan bola, 1137 operan, dan 25 peluang hanya menghasilkan satu gol. Untuk jumlah gol yang sama, Rusia cuma perlu melepas 284 operan dan menciptakan enam peluang.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved