Kedai Tok Awang

Ramalan-ramalan Njeplak dan VAR yang Bunuh Sepakbola

Piala Dunia 2018 memang menghadirkan kejutan-kejutan yang bagi banyak orang tidak terlalu menyenangkan.

Ramalan-ramalan Njeplak dan VAR yang Bunuh Sepakbola
AFP PHOTO/JOHN MACDOUGAL/EMILIANO LASALVIA/FRANCISCO LEONG
FOTO combo suporter-suporter tim nasional Jerman, Argentina, dan Spanyol pascatersingkirnya tim yang mereka dukung di kompetisi Piala Dunia 2018. 

"Kaloklah solid sikit Argentina ni, paling enggak bisa sampek semifinal jugak mereka. Entah-entah masuk final pun. Soalnya, di semifinal mungkin bisa jumpa Brasil. Lawan musuh besar biasanya bisa agak lain mainnya. Lain semangatnya. Tapi, ya, mau cemana lagi. Bak orang kata, nasik udah jadi bubur ayam. Udah padam orang tu digas Perancis," ucap Jek Buntal dengan nada suara tak bersemangat.

Selain hasil akhir yang secara mengenaskan mendepak jago-jago lama itu dari persaingan babak gugur, Piala Dunia edisi ini banyak mengetengahkan pertandingan yang bikin pasar taruhan jungkir balik. Skor-skor tipis, gol-gol di penghujung waktu.

Satu sisi mengasyikkan, di lain sisi menjengkelkan. Terutama lantaran beberapa gol telat tersebut, datang dari titik putih. Hukuman yang diberikan wasit lewat keputusan yang diambil pascamemeriksa rekaman VAR (Video Assistant Referee).

"Jadinya kek asik-asik jambu. Dibilang asik, ya, asik, tapi enggak sampek asik kali," kata Sudung, yang sebenarnya, paling tidak jika dibandingkan Jek Buntal dan Sangkot, bernasib lebih baik. Kemenangan-kemenangan yang diraihnya cukup untuk membayar utangnya di kedai Tok Awang.

Malang baginya, Ocik Nensi menolak. "Tak sudi aku makan uang judi, Sudung! Kalok tak pernahnya kecik-kecik dulu kau belajar agama, pinomat kau dengar itu lagu Oma Irama."

Sudung senyum malu-malu mendengar repetan itu. Namun terus juga dia menjalin kerjasama regional dengan Jontra Polta, dan VAR, memang jadi biang keladi kekalahannya di laga Portugal kontra Iran.

WASIT memberikan isyarat untuk memeriksa VAR (Video Assistance Referee) pada pertandingan antara Portugal dan Iran, 26 Juni 2018. Hasil rekaman VAR membuat wasit memutuskan memberi tendangan penalti pada Iran di penghujung laga yang akhirnya berkesudahan 1-1.
WASIT memberikan isyarat untuk memeriksa VAR (Video Assistant Referee) pada pertandingan antara Portugal dan Iran, 26 Juni 2018. Hasil rekaman VAR membuat wasit memutuskan memberi tendangan penalti pada Iran di penghujung laga yang akhirnya berkesudahan 1-1. (AFP PHOTO/FILIPPO MONTEFORTE)

"Sa kira itu teknologi jadi bikin sepakbola trada natural lagi, Bung," sahut Pace Pae yang sedari tadi sibuk dengan telepon selularnya. Dia berkomunikasi lewat WhatsApp dengan kawannya di Jayapura, menanyakan apakah Boaz Salossa akhir pekan nanti akan main lawan Bhayangkara. "VAR su bunuh sepakbola!"

"Persis, Pace! Sepakbola itu permainan yang manusiawi. Bahkan ada yang sampek bilang sepakbola seperti kehidupan sendiri. Enggak lurus-lurus terus. Ada belok-beloknya, ada silap-silapnya. Cemana, Pak Guru?"

Zainuddin mengangkat bahu. "Teknologi ini sebenarnya dibikin dan diterapkan untuk meminimalisir kesalahan yang bisa berimbas merugikan tim yang bertanding. Kalok tahun 2010 sudah ada VAR, tendangan Frank Lampard pasti disahkan jadi gol dan mungkin saja Inggris enggak kalah dari Jerman."

"Iya, betul tu," kata Sangkot menyambung. "Pakek VAR sekarang wasit kayak enggak pernah salah. Jadi tak bisa lagi awak ngejek-ngejek wasit mata kayu."

Sangkot, Sudung, dan Pace Pae kemudian tertawa-tawa, dan baru berhenti saat dari balik steling, Ocik Nensi menyanyikan lagu Raisa. Semuanya telah berbeda. Apalagi salahku, apalagi salahmuuuuu... (t agus khaidir)

Telah dimuat Harian Tribun Medan
Kamis, 5 Juli 2018
Halaman 1

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved