Kedai Tok Awang

Ulangan Sejarah atau Sejarah Baru

Tinggal empat negara yang tersisa di Piala Dunia 2018: Perancis, Inggris, Belgia, dan Kroasia.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/YURI CORTEZ
PEMAIN tim nasional Inggris, Harry Maguire, berteriak usai mencetak gol pertama Inggris ke gawang Swedia, pada pertandingan babak semifinal Piala Dunia 2018, Sabtu, 7 Juli. 

"Nengok aku. Biasa aja mainnya. Enggak ada bagus-bagusnya pun."

"Biasa memang mainnya, Ne. Tapi ada istimewanya. Apalagi kalok lawannya Kroasia," kata Mak Idam menimpali.

Mak Idam lalu nyerocos, menjelaskan betapa Inggris lewat permainannnya yang tetap kaku mampu mendikte Swedia berkat kegemilangan strategi Gareth Southgate. Strateginya pun sebenarnya tidak berbeda. Tetap 4-4-2, hanya saja, dengan kecenderungan, Rahim Sterling menusuk di antara kedua bek tengah Swedia, Victor Lindeloft dan Andreas Granqvist. Sedangkan Harry Kane mulai bergerak dari posisi yang lebih dekat ke barisan gelandang.

PEMAIN tim nasional Inggris, Delle Ali, menyundul bola untuk mencetak gol ke gawang Swedia, pada pertandingan semifinal Piala Dunia 2018, Sabtu, 7 Juli.
PEMAIN tim nasional Inggris, Delle Ali, menyundul bola untuk mencetak gol ke gawang Swedia, pada pertandingan semifinal Piala Dunia 2018, Sabtu, 7 Juli. (AFP PHOTO/YURI CORTEZ)

Di lain sisi, imbuh Mak Idam, Southgate betul-betul memanfaatkan keunggulan pasukannya dari mekanisme bola mati. Inggris telah mencetak 11 gol sepanjang Piala Dunia 2018 dan hanya tiga yang berasal dari open play.

"Sebaliknya, Kroasia lemah di situasi kek gini. Kelen tengoknya semalam tu, kan. Kalok tak lemah orang tu, gol kedua Rusia enggak akan jadi," ujar Mak Idam

"Alamakjang, sejak kapan pulak Mak Idam balik ngedukung Inggris," sergah Ane Selwa. "Yang udah Mamak isinya formulir suporter pindahan itu?"

Mak Idam tertawa ngakak. Kilahnya, lantaran Indonesia tidak ikut piala dunia, maka tak perlu terlalu fanatik mendukung satu negara. Bahkan boleh-boleh saja memilih lebih dari satu negara sekaligus. Kalau satu favorit lewat, bisa pindah ke yang lain.

"Ah, tak betul Mamak ini. Tak macam Pak Udo dan Tok Awang," kata Sudung nyeletuk tanpa sedikitpun memindahkan tatap dari papan catur. Pertandingan antara dirinya dengan Lek Tuman sedang seru. Skor sementara 2-1,5 untuk keunggulan Lek Tuman. Sangkot menonton mereka sembari menyantap mi instan.

"Iyalah, sekali Jerman tetap Jerman. Kami akan datang dan juara empat tahun lagi, tunggu saja," kata Pak Udo menyahut.

Tok Awang awalnya tak ikut menyahut. Sejak kekalahan Brasil atas Belgia dia uring-uringan dan cenderung sensitif. Dia masih belum sepenuhnya percaya skuat Brasil telah meninggalkan Rusia. Dia masih belum percaya, Neymar meninggalkan Rusia bukan dengan tropi Piala Dunia, melainkan dengan olok-olok perihal potongan rambut lucu dan aksi berguling-guling di lapangan untuk mengelabui wasit.

Terlepas dari pilihan-pilihan strategi Tite yang monoton, yang apapun itu tetap saja menjadikan Neymar sebagai tujuan hingga terbaca dan akhirnya diantisipasi, bagi Tok Awang, sekiranya pun harus menepi, Brasil mestinya menepi dengan penuh hormat. Bukan diiringi olok-olok.

Maka tatkala Sangkot ikut pula menambah-nambahi celetukan Sudung dengan menyebut Brasil hanya kelihatan sehat dari luar namun pada dasarnya belum pulih sepenuhnya dari luka 2014, Tok Awang meledak.

"Macam lebih pande kau dari si Tite kutengok," sergahnya.

PEMAIN tim nasional Belgia, Marouane Fellaini, melihat ke arah dua pemain Brasil yang terjatuh pada satu momentum dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2018, Jumat, 6 Juli.
PEMAIN tim nasional Belgia, Marouane Fellaini, melihat ke arah dua pemain Brasil yang terjatuh pada satu momentum dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2018, Jumat, 6 Juli. (AFP PHOTO/ROMAN KRUCHININ)

"Ini bukan soal pande tak pande, Tok. Awak lihatnya kek gitu. Pemain-pemain Brasil panik kali waktu Si Fernandinho bikin gol bunuh diri. Mungkin teringat langsung orang tu waktu kenak bante Jerman empat tahun lalu."

Sangkot berupaya menjelaskan soal kepanikan. Betapa pascaterjadinya gol pertama, Brasil langsung meningkatkan serangan. Total menyerbu pertahanan Belgia dan berakibat makin lebarnya lubang di jantung pertahanan mereka. Brasil abai terhadap potensi pemain-pemain cepat Belgia. Mereka mengulang kesalahan yang dilakukan Jepang.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved