Kedai Tok Awang
28 menuju 52 atau Panggung Luka?
Kroasia, tim yang dari banyak sisi, jika mau jujur-jujuran, bermain lebih baik dari Inggris.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Keberhasilan tim nasional Inggris maju ke semifinal melesatkan euforia, tak terkecuali di kalangan pers mereka. Media-media Inggris yang di awal Piala Dunia 2018 bersikap sinis dan pesimistis, berbalik gagang. Mereka menyebut, kelolosan ke fase empat besar merupakan buah dari sistem kompetisi modern yang dimulai tahun 1992 itu.
Inggris, sebut mereka, akhirnya ke semifinal lagi setelah mencapainya 28 tahun lalu di Italia, dan akan melangkah lebih jauh lagi ke tahun 1966. Tahun tatkala mereka menjadi juara. Kalimat "Football Going Home" pun digemakan lagi.
Pertanyaannya, sejauh mana potensi Inggris? Final masih selangkah lagi, dan untuk itu, mereka harus lebih dulu melewati Kroasia. Tim yang dari banyak sisi, jika mau jujur-jujuran, bermain lebih baik dari Inggris.
"Keunggulan Inggris dari Kroasia cumak satu," kata Mak Idam. "Inggris lebih jago di bola-bola mati. Bola-bola udara. Panjang-panjang pemain orang tu, makanya paten-paten kali sundulannya."
Sejak pertandingan pertama penyisihan grup sampai perempat final, Inggris mencetak 11 gol. Dari gol-gol ini, delapan di antaranya berawal dari bola mati. Paling anyar adalah gol Maguire ke gawang Swedia. Sebaliknya Kroasia, cuma punya koleksi dua gol dari mekanisme serupa.
Namun bicara agresivitas dan kreativitas dalam open play, ceritanya jadi sungguh berbeda. Dibanding gelandang-gelandang Inggris yang serba terukur dan kaku, lini tengah Kroasia jadi kelihatan seperti para seniman.
"Waktu lawan Rusia itu masih ingatnya kelen, kan? Macam mana di tengah, Luka Modric dan Ivan Rakitic, main mantap kali. Sejak awal Piala Dunia memang nyetel kali orang ni dua. Duet gelandang terbaik lah sejauh ini kurasa. Padahal yang satu pemain Madrid yang satu lagi pemain Barca," kata Ane Selwa.
Modric dan Rakitic memang benar-benar seperti bersenyawa. Saling melengkapi satu sama lain. Lapangan menjadi panggung pertunjukan bagi mereka, dan Kroasia, menjadi orkestra dengan dua dirigen sekaligus.
"Kuncinya, iya, sekali lagi di orang ni dua. Kalok Si Southgate enggak bisa ngerusak harmonisasi Luka Modric dan Rakitic, pertandingan nanti akan jadi panggung luka. Panggung untuk Luka Modric dan luka betulan untuk Inggris," ujar Mak Idam.
"Apanya kelen cakap luka-luka dari tadi," kata Ocik Nensi menyeletuk lagi. "Siapa yang kecelakaan?"
"Bukan kecelakaan, Cik," sahut Sudung. "Ini nama orang. Luka Modric, jugak luka di hati bagi siapapun yang kalah nanti."
"Alamakjang, luka hati! Sedep kali! Ada lagunya tu, lagu Payung Teduh."
"Lagu yang mana tu, Cik? Tak pernah dengar awak. Lagu baru?"
"Ah, mana pulak lagu baru. udah terkenal kali pun itu lagunya. Yang kayak gini," kata Ocik Nensi, lalu mulai bernyanyi, luka, luka, luka, yang kurasakan... Bertubi, tubi, tubi, engkau berikan...
Sudung ingin tertawa, tetapi buru-buru diurungkannya.(t agus khaidir)
Dimuat Harian Tribun Medan
Rabu, 11 Juli 2018
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kroasia2_20180711_160711.jpg)