infografis

Tersiksa di Penjara, Tanpa Makanan, Namun Berkat Sajak Akhirnya Dibebaskan

Namanya mungkin tidak dikenal di Indonesia, tetapi pengalamannya mengerikan

tribunmedan
Armando Valladarcs 

Namun ia juga mengungkapkan keyakinannya akan tibanya masa depan yang cerah, "Suatu hari nanti, di kursi roda saya akan tumbuh sayap dan saya akan terbang melintasi kebun-kebun yang penuh anak-anak dan bunga-bunga viola."

Ketika petugas pengawasnya merampas chrom air raksa yang digunakan sebagai tinta penulis syairnya, maka ia pun menulis syair dengan tetesan darahnya.

"Semua milik saya telah mereka rampas, hampir semuanya. Yang tinggal pada diri saya hanya senyum dan kebanggaan, bahwa saya merasa bebas," kata Valladares.

Menurut Valladares, kekuatannya berasal dari kepercayaannya kepada Tuhan yang tak kunjung padam dan cinta istrinya. "Ia telah menanti saya selama 21 tahun, lebih lama daripada penantian Penelope terhadap Odysseus,” cerita Valladares.

Selama ia ditahan di Pulau Pinus, ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Marta yang waktu itu baru berusia empat belas tahun. Gadis itu mengunjungi ayahnya yang juga ditahan. "Namun sejak saat itu, saya tahu bahwa kelak saya akan menikah dengannya," kisahnya.

Hanya dua belas kali mereka berbicara dengan dipisahkan terali besi selama sembilan tahun, sebelumnya mereka menikah di depan catatan sipil di penjara pada tahun 1969.

Baca juga: Mantan Presiden Kuba Fidel Castro Meninggal Dunia pada Usia 90 Tahun

Setelah upacara pernikahan yang cuma memakan waktu 15 menit, yang berwajib melarang pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. Tiga tahun kemudian, pemerintah Kuba mengizinkan istri yang masih muda itu beremigrasi ke Miami, Amerika Serikat.

Di situ, Marta menyebarkan syair yang ditulis Armando pada kertas rokok dan surat kabar Partai Granma yang sudah kumal.

Armando berhasil menyelundupkan syair itu ke luar penjara. Istrinya menerbitkannya dengan judul: "Di atas kursi rodaku".

Tanpa kenal lelah, Marta memobilisir Amnesti Internasional, organisasi bantuan untuk para tahanan, politik, para politikus dan penulis untuk membebaskan suaminya.

Baca juga: Tuk! Fidelis Dijatuhi Hukuman 8 Bulan Penjara dan Denda Rp1 Miliar karena Berusaha Selamatkan Nyawa Istrinya

Bulan madu ke Disneyland

Castro tidak mau mengalah begitu saja dalam "duel" dengan penyair itu. "Selama berminggu-minggu, saudara perempuan saya diperiksa dan diancam untuk Dimasukkan penjara," cerita Valladares,

Valladares sendiri yang waktu itu dirawat di rumah sakit, kemudian dipindahkan ke sel penjara istimewa "Gabungan negara-negara Timur" yang terletak di Havana. Selama satu setengah tahun, ia terasing dari dunia luar, sampai-sampai istrinya berkata, "Saya sangka, mereka telah membunuhnya."

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved