Melestarikan Songket Deli dengan Tenun Tradisional

Setelah lulus kuliah animasi, bujukan sang ibu untuk ikut melestarikan songket Deli akhirnya membuat hati Irfania luluh.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
IRFANIA Ramadhani Lubis dan beberapa motif songket Deli hasil rancangannya saat ditemui di Galeri Songket Deli, Jl. Sei Beras, Medan, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Lulus dari jurusan animasi Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta, tak serta merta membuat Irfania Ramadhani Lubis menjadi seorang animator. Bujukan sang ibu untuk ikut melestarikan songket Deli akhirnya membuat hati Irfania luluh.

Setelah lulus kuliah di Desember 2014, Irfania pun memutuskan pulang kampung, meninggalkan dunia animator dan memilih total mengurus Galeri Songket Deli yang dirintis ibunya sejak April 2014.

Irfania mengatakan, adalah ibunya yang menjadi pemilik Galeri Songket Deli dan sekaligus memiliki ide awal untuk melestarikan songket Deli lewat galeri tersebut. Ide ibunya muncul didasarkan pada kebiasaan sultan di Tanah Deli di masa lalu yang memang memakai songket. Sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi, Irfania mengatakan, ibunya tak melihat lagi tradisi tenun menenun songket Deli tersebut di Tanah Deli. Hal itulah yang membuat ibunya berkeinginan melestarikan songket dari Tanah Deli, tetapi dengan cara tradisional yakni semuanya diproses dengan tangan (hand moved).

Irfania menceritakan, saat pertama sekali mendirikan galeri, ia dan ibunya tidak punya basic (dasar) tenun. Mereka mencari sendiri penenun yang dapat menenun songket Deli. Di awal-awal, mereka punya delapan penenun dan kemudian dilatih secara insentif.

“Untuk alat tenun tradisionalnya, kita buat sendiri dengan hibah dari Kemendikbud. Lalu kita coba-coba buat motif pertama, yakni motif Daun Tembakau Deli. Motif ini cukup sukses dan sudah didaftarkan HAKInya atas nama Dr Hj T Syarfina M. Hum tanggal 19 Desember 2014. Saat ini, kita sudah punya sekitar 70-an motif dengan 25 penenun yang tersebar di Medan, Pematangsiantar dan Batubara,” kata Irfania kepada Tribun, akhir Januari lalu.

Selama setahun pertama, kata Irfania, dirinya berusaha untuk ikut “memiliki” songket Deli dan Galeri Songket Deli. Namun, kata Irfania, di awal-awal dirinya tak kuat hati. Apalagi setelah empat tahun belajar animasi, justru “terlempar” mengurusi songket. Irfania bahkan sempat berpikir untuk pulang kembali ke Jakarta dan menjadi animator. Apalagi ketika melihat perkembangan dunia animasi di Medan tidak sebaik di Jakarta.

Namun, Irfania berusaha untuk menguatkan diri. Sembari berjalan, Irfania merasakankan ternyata ilmu animasinya tetap berguna, khususnya untuk desain. Irfania mengatakan, semua motif songket Deli ia desain dengan menggunakan komputer. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan meminimalisir kesalahan. Namun demikian, untuk produksi tetap secara manual (tradisional).

“Awal-awal memang belum kuat hati. Tetapi setelah dijalani menjadi seru juga. Ilmu animasi saya tetap ada gunanya. Kalau rasa belum kuat hati muncul, biasanya saya langsung berpikir, kalau bukan saya, ya siapa yang nerusin. Ya sudah saya ikhlas dan ternyata memang lebih seru,” katanya.

Keseruan ini, kata Irfania, dikarenakan banyaknya kesempatan yang ia peroleh setelah mengurusi songket Deli yang mungkin saja tak akan diperolehnya jika mengurusi animasi. “Berkat songket Deli, saya difasilitasi Telkom, Bank Indonesia dan Pemko Medan mengikuti pameran-pameran. Bahkan di tahun 2017 saya dapat kesempatan jadi Awardee Australian Award Indonesia di Australia. Saya bersama 24 peserta lainnya mendapat beasiswa short course selama dua minggu di Australia untuk belajar bisnis fashion dan textile di Australia. Bersama Telkom dan BI, kita juga difasilitasi pameran seperti Telkom Craft tahun 2017 dan Inacraft 2016,” katanya, bangga.

SONGKET Deli ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional.
SONGKET Deli ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional. (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Setahun berjalan atau di tahun kedua, Irfania total mengurusi Galeri Songket Deli. Irfania mengaku, setelah mendirikan Galeri Songket Deli, ternyata ada pihak lain yang juga hadir untuk menekuni tenun songket Deli. Terkait hal itu, Irfania mengungkapkan kegembiraannya. Artinya, semakin banyak yang tertarik, maka keberadaan songket Deli akan semakin dikenal. Meski ada banyak penenun, Irfania mengatakan, Galeri Songket Deli punya ciri khas yang tidak dimiliki penenun lainnya. Ciri khas tersebut ada di desain songket yang lebih kontemporer.

“Karena saya basic pendidikannya animasi, warna dan desain songket jadi terlihat fun dan menggunakan warna pastel. Desain ini membuat anak muda bisa memakainya. Kenapa kontemporer, karena kita ingin anak muda juga mau memakainya. Meski demikian, desain yang klasik dan modern juga tetap kita buat,” katanya.

Setelah tiga tahun mengurusi songket, Irfania berjanji akan tetap berkomitmen untuk melestarikan songket. Sebagai anak muda, dirinya merasa tidak sia-sia harus meninggalkan animasi dan memilih melestarikan songket. “Harapan saya ke depan, songket Deli bisa diekspor ke berbagai negara dan songket Deli bisa dipakai secara internasional. Sebelumnya kita pernah membuat produk tas dari songket dan terpilih ikut pameran yang difasilitasi Bank Indonesia di Palembang. Tas buatan kita dikurasi oleh Jennifer, seorang kurator dari Amerika Serikat. Menurut Jennifer, produk tas kita sudah bisa di ekspor karena memiliki desain yang baik. Mudah-mudahan cita-cita ekspor ini kesampaian,” ujarnya.

Keseriusan Irfania melestarikan songket Deli diganjar penghargaan dari Astra Indonesia sebagai Pemenang Provinsi Satu Indonesia Awards tahun 2017 tingkat Sumatera Utara.

Harga Rp 500 Ribu hingga Rp 1 Juta

IRFANIA mengatakan, produk yang dihasilkan Galeri Songket Deli adalah produksi tekstil (bakal) dan belum dijahit. Produk tekstil ini selanjutnya dapat dijahit menjadi sarung, kemeja, atau baju kombinasi. Sisanya bisa jadi tas dan kipas. Butuh waktu satu hingga dua bulan untuk menenun songket Deli. Tergantung jenis kainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved