Edisi Cetak Tribun Medan
Polisi Sebut Tanjungbalai Embrio Terorisme, Kapolres Mengaku Susah Tidur
Terkait terorisme, Wali Kota Tanjungbalai HM Syahrial menghimbau warga lebih peka dan aktif melihat kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.
MEDAN, TRIBUN-Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai mengaku, susah tidur atas terungkapnya kembali jaringan teroris di wilayah hukumnya.
Tim Densus 88 Antiteror Polri mengungkap adanya paham radikalisme di Gang Jumpul, Kelurahan Kapias Pulau, Kecamatan Teluknibung, Kota Tanjungbalai, Kamis lalu.
Dua terduga teroris masing-masing AN dan RI terpaksa ditembak mati oleh petugas, karena melakukan perlawanan saat hendak diamankan.
"Iyalah. Kurang tidurlah. Ya, pastilah. Ini demi keamanan kok," kata Irfan kepada Tribun Medan saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (20/10).
Menurut Irfan, pergerakan radikalisme di Tanjungbalai sudah termonitor oleh kepolisian sejak 2016.
"Bukan hanya Polres Tanjungbalai, tapi Densus dan Polda Sumut juga. Kelompok yang diamankan pada Mei 2018 lalu sudah diketahui. Tanjungbalai memang salah satu embrio," ujarnya.
Terkait terorisme, Wali Kota Tanjungbalai HM Syahrial menghimbau warga lebih peka dan aktif melihat kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.
"Saya mengimbau kepada masyarakat Tanjungbalai di manapun berada, untuk tetap hati-hati dan waspada terhadap ancaman terorisme dan tindakan radikalisme," kata Syahrial, Sabtu.
Menurutnya, jika warga melihat kegiatan mencurugak di sekitar lokasi tempat tinggal mereka segera melapor ke kepala lingkungan.
"Jika ada hal-hal atau kegiatan yang mencurigakan, masyarakat diminta melapor kepada kepala lingkungan, lurah, tau camat," katanya.
Ia juga mengimbau kepala lingkungan, lurah dan camat untuk mengecek, mengawasi dan mendata warga, terlebih pendatang baru. Dan, jika menemukan ada kegiatan yang mencurigakan segera melapor dan berkoordinasi dengan pihak berwenang baik kepolisian atau TNI.
Sehubungan dengan kejadian teror di Kota Tanjungbalai, Pemerintah Kota Tanjungbalai mengapresiasi dan mendukung penuh kinerja Polda Sumut. Sebab, menurutnya, petugas bertindak cepat mencegah terjadinya tindakan terorisme, yang membahayakan masyarakat dan mengganggu Kamtibmas di Kota Tanjungbalai.
Wali Kota juga mengutuk keras aksi terorisme di Kota Tanjungbalai. Ia meminta agar Polri didukung penuh seluruh elemen pemerintahan terkait, melakukan operasi penegakan hukum yang tegas terhadap kelompok-kelompok teroris.
"Kita meminta agar Polri, dengan dukungan penuh seluruh elemen pemerintahan terkait, melakukan operasi penegakan hukum yang keras terhadap kelompok-kelompok teroris, dan terus melakukan operasi penegakan hukum terhadap kelompok-kelompok teroris di wilayah Sumatera Utara, khususnya Kota Tanjungbalai," kata Wali Kota.
Syahrial mengajak semua pihak terkait mulai dari kepala lingkungan, lurah, camat, forkopimda, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, para ulama untuk bersama-sama menolak paham radikalisme dan tindakan terorisme di Kota Tanjungbalai.
"Kita berharap kondisi Kota Tanjungbalai yang damai, tak dicederai paham radikal. Radikalisme dapat mengganggu kedamaian dan kerukunan masyarakat Tanjungbalai, yang telah terjaga dan terpelihara hingga saat ini," kata Syahrial.
Tertutup
Kepling Lingkungan V Jalan Pukat, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluknibung, Samsul Bahri Sitorus mengatakan, RI alias Muhammad Rifai sangat tertutup, tidak ada pergaulan di lingkungan tempat tinggalnya.
"Sewaktu kita tegur, dia jarang menjawab. Dia biasa pergi pagi dan pulang sore. Tidak ada yang tahu pekerjaannya apa. Dia pernah jadi nelayan ikut orang, tapi tidak lama," kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai penjaga sekolah SD Negeri 134634 tersebut via telepon seluler, Sabtu.
"Pokoknya sangat tertutup kali dia, makanya kami sulit mencari tahu apa saja kegiatan yang dilakukannya. Sudah kami coba cari-cari nggak dapat. Karena setelah keluar dari rumah nggak tahu kami dia ke mana," katanya.
Samsul menceritakan RI dulu rajin ibadah, pernah ikut remaja musala, kadang menjadi muazin. Namun, ia dan beberapa temannya selesai salat tidak berdoa. "Semenjak tidak ke musala, dia salat ke tempat lain," ujarnya.
Gerebek
Tim Densus menggerebek kedua terduga teroris di sebuah kontrakan. Seorang terduga teroris menyerang petugas pakai pisau. Tim Densus kemudian melepaskan tembakan peringatan. Terduga teroris melarikan diri ke permukiman penduduk, dan bersembunyi di toilet umum.
Petugas lalu mendobrak pintu toilet, dan kembali mendapat perlawanan. Kedua terduga teroris menyerang petugas menggunakan senjata api dan bom rakitan.
Kemudian anggota Densus melakukan tindakan tegas, yang menyebabkan kedua tersangka meninggal dunia. Atas kejadian ini, Kota Tanjungbalai dinyatakan siaga satu.
Salah satu bentuk tindaan meminimalisir pergerakan terorisme, kepolisian menggandeng pemerintah daerah, Forum Keberagaman Umat Beragama (FKUB), camat dan kepling.
"Intinya, semua mendukung antiradikalisme. Pemko punya kesatuan seperti Kesbangpollinmas. Ya, tidak masalah. Kalau memang jaringannya ada, ya, perlu diambil, diambil saja. Daripada mereka menyebar paham radikalisme di Tanjungbalai. Amankan!" kata Irfan.
Kabid Humas Polda Sumut AKBP Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, kedua terduga teroris merupakan jaringan JAD.
Keduanya melanggar Pasal 15 jo Pasal 7 dan atau Pasal 15 jo Pasal 9 atau Pasal 13 a UU Nomor 5 tahun 2018 tentang perubahan atas UU Nomor 15 tahun 2003 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU nomor 1 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. (akb/ase/cr9)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kapolda_sumut_paparan_kasus_terduga_teroris_20181021_101108.jpg)