Kasus Demam Berdarah, Satu Pasien Anak-anak Asal Mandailing Natal Meninggal Dunia
Sepanjang tahun 2019, wabah demam berdarah telah menjangkiti sedikitnya tujuh orang di Sumut.
Laporan Wartawan Tribun Medan / Dohu Lase
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Sepanjang tahun 2019, wabah demam berdarah telah menjangkiti sedikitnya tujuh orang di Sumut. Satu di antaranya bahkan meninggal dunia akibatnya.
Pasien malang itu adalah anak usia di bawah 15 tahun asal Kabupaten Mandailing Natal.
"Tahun 2019, terlaporkan ada tujuh kasus. Satu meninggal dunia, pasien anak-anak, di Mandailing Natal," kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Sumut, dr Yulia Maryani MKes, Selasa (5/2/2019).
Kasus demam berdarah dengue (DBD) saat ini tengah merebak di sejumlah daerah endemis di Indonesia. Walau di Sumut kasus ini belum begitu menonjol, namun masyarakat tetap harus waspada.
Dikatakan Yulia, sepanjang tahun 2018, kasus DBD di Sumut berjumlah 5.728 kasus. 27 di antaranya meninggal dunia.
Daerah dengan pasien DBD terbanyak dipegang oleh Kota Medan, dengan 1.490 kasus. Disusul oleh Kabupaten Deliserdang dengan 997 kasus.
Mandailing Natal meraih peringkat terendah total kasus DBD tahun 2018, yaitu berjumlah nihil alias tidak ada kasus sama sekali.
"Data ini berdasarkan yang dilaporkan ke kita dari 33 kabupaten/kota yang ada di Sumut. Berdasarkan data ini, jumlah kasus DBD berkaitan dengan kepadatan penduduk. Semakin padat penduduk di suatu wilayah, maka semakin besar kemungkinan penyebaran DBD," ujar Yulia.
Dari 5.728 kasus tersebut, lanjut Yulia, hampir 70 persen di antaranya adalah anak-anak berumur kurang dari 15 tahun.
Nyamuk Aedes Aegepty, serangga pembawa virus dengue (penyebab penyakit DBD), tak hanya mengincar warga di daerah kumuh, melainkan juga warga yang hidup di lingkungan bersih.
"Justru kita lihat, anak-anak yang tinggal di lingkungan bersih banyak jadi korban. Karena bisa saja nyamuk Aedes ini berkembang biak di lingkungan kumuh, tetapi cari mangsa rumah-rumah atau sekolah-sekolah," tuturnya.
Menurut Yulia, kasus DBD di Sumut hingga kini tetap ada, karena kesadaran warga dalam melakukan pencegahan DBD masih rendah.
"Kita sudah giat menganjurkan lewat penyuluhan-penyuluhan untuk melakukan gerakan 3-M Plus, yaitu menutup dan menguras wadah penampungan air bersih, serta mengubur atau mendaur ulang wadah-wadah yang dapat menjadi menampung air," jelas Yulia.
Langkah tersebut, sambungnya, dilakukan agar tidak ada tempat bagi nyamuk Aedes untuk berkembang biak.