Main Hakim Sendiri Berujung Maut, 4 dari 11 Pelaku Ditangkap, Polisi Beberkan Peran Masing-masing

Ke empat satpam Unimed yang menghajar Joni dan Stefan tersebut adalah M Arya Prasta (22), Bagus Prayetno (18), M Abdul Kadir (21) dan Feri Zulham (26)

Penulis: M.Andimaz Kahfi | Editor: Randy P.F Hutagaol
Screenshoot Facebook
Stefan Sihombing dan Joni Pernando Silalahi dihakimi massa di Kampus Unimed Sumut. (Screenshoot Facebook) 

Massa sesekali menendang pelaku. Terlihat seorang wanita berupaya melarang, namun massa tetap menghakimi pelaku yang juga menjadi tontonan.

Kedua korban yakni, Joni Fernando Silalahi (30) warga Jalan Tangkul I, Kelurahan Siodorejo, Kecamatan Medan Tembung atau Japan PWI Laut Dendang.

Kemudian Stefan Samuel Hamonangan Sihombing (21) warga Jalan Perjuangan rumah bercat kuning, tepatnya di depan Lucky Net dan Mami laundry.

Video Kedua Terduga Maling Tergeletak

Pasca kejadian pengeroyokan terhadap kedua terduga pencuri ini, petugas Reskrim Polsek Percutseituan yang mendapat informasi, langsung menuju ke lokasi.

Kemudian keduanya pun dibawa ke RS Haji, namun nahas, akibat luka parah di sekujur tubuhnya kedua pelaku dikabarkan meninggal dunia.

Karena sudah meninggal jasad keduanya pun dievakuasi polisi ke RS Bhayangkara Medan untuk kepentingan otopsi.

Kapolsek Percutseituan Kompol Faidil Zikri membenarkan adanya kedua pelaku pencuri dua unit helm usai dianiaya massa dan akhirnya meninggal di RS Haji.

Kedua Korban Datang Untuk Berenang

Ketika disambangi ke rumah duka di Jalan Perjuangan Kecamatan Medan Perjuangan, keluarga Stefan Sihombing (21) tampak bersedih atas peristiwa keji tersebut.

Ayah Steven, Poltak Sihombing (62), meneteskan air mata dan tubuhnya bergetar mengingat peristiwa yang merenggut nyawa anaknya tersebut.

Ia bercerita bahwa batinnya bergejolak dan kesal atas tindakan arogansi massa yang menuding anaknya sebagai pelaku pencurian.

Pria berambut putih ini masih terpukul atas peristiwa yang merenggut nyawa anaknya. Beberapa kali dia pun menggerakan tongkatnya karena rasa kalutnya.

"Kecewa aku, kecewa. Kalau bisa kembali, Allah," ucapnya seraya menyeka air matanya di rumah duka, Kamis (21/2/2019).

Ayah Stefan Sihombing, Poltak Sihombing saat ditemui di rumah duka, Kamis (21/2/2019).
Ayah Stefan Sihombing, Poltak Sihombing saat ditemui di rumah duka, Kamis (21/2/2019). (Tribun Medan)

Ia pun mencoba tegar dengan menghisap sebatang rokok, namun air matanya kembali menetes saat dia mencoba menceritakan tentang anaknya.

"Anak ku bukan maling, saat itu ia pergi sama tamannya. Kayak bukan manusia mereka buat anakku itu sama temannya," ujar lirih.

Ia mengutarakan bahwa anaknya pergi ke Kampus Unimed bukan untuk mencuri, melainkan untuk berenang dan bertemu temannya.

"Mereka kan mau berenang dan ketemuan sama kawan wanitanya," ucapnya. Diketahui bahwa Kampus Unimed memiliki kolam renang yang terbuka untuk umum

Friska Silaban Temukan Suaminya Sekarat

Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu
Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu (Tribun Medan)

Friska Sari Silaban (26) istri dari pria yang tewas dikeroyok Satpam Unimed, Joni Fernando Silalahi (30) sangat terpukul.

Wanita  berkulit putih ini, tak pernah membayangkan bakal melahirkan anak kedua tanpa didampingi lagi oleh suami tercinta.

Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana hidup sendiri dalam keadaan hamil 5 bulan, dan harus mengasuh anak yang masih berusia 1 tahun 3 bulan.

Keadaan pelik ini terjadi, lantaran suami yang dicintai telah meninggal dunia, karena tuduhan suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan tidak bisa dibuktikan sama sekali.

Friska yang telah menjalani biduk rumah tangga selama 3 tahun dengan Joni, sekarang harus hidup sendiri untuk mencari nafkah bagi anaknya dan calon anaknya yang masih ada di dalam kandungan.

Joni merupakan korban penganiayaan yang dilakukan secara beramai-ramai, oleh oknum Satpam di Unimed hingga berujung kematian.

Mirisnya, Joni dan Stefan mengantarkan nyawanya di Unimed, karena dituduh mencuri sepeda motor dan helm.

Kejadian keji itu, dialami Joni saat berkunjung sore hari ke Kampus Universitas Negeri Medan (Unimed) bersama rekannya Stefan Samuel Hamonangan Sihombing (21) untuk main-main, pada Selasa (19/2/2019) lalu.

Joni dan Stefan tewas diamuk massa di kawasan kampus Universitas Negeri Medan (Unimed). Keduanya dipukuli setelah dituduh mencuri.

Mereka dituduh mencuri helm dan sepeda motor saat akan keluar areal kampus. Keduanya langsung dikerumuni massa.

Joni dan Stefan tak bisa mengelak. Keduanya dipukuli massa. Kejadian itu lalu dilaporkan ke pihak kepolisian Polsek Percut Sei Tuan, kemudian turun ke lokasi kejadian.

Petugas melarikan Joni dan Stefan ke Rumah Sakit Haji.

Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu
Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu (Tribun Medan)

Ditemui di rumah mertuanya, istri Joni, Friska Purnama Sari Silaban (26) hanya bisa tertunduk lesu saat kembali diingatkan tentang suami tercinta yang telah tiada.

Tatapan mata Friska lebih banyak kosong, sesekali ia melihat buah hatinya yang masih berusia setahun, serta beberapa kesempatan ia membuka smartphone yang digenggam.

"Waktu itu saya lihat di pos satpam kondisi suami saya sudah berlumuran darah keluar dari kepala, hidung dan mulut," kata Friska, Jumat (22/2/2019).

"Saya ngamuk, ini kenapa siapa yang bisa menjelaskan, tapi para satpamnya malah kabur," lanjut Friska.

Karena tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa suami dan teman suaminya dihajar hingga babak belur dan belakangan mati, Friska pun kembali mencecar para satpam.

"Pas aku tanya siapa yang curi helm, mereka (satpam) malah sibuk cari helm untuk membuktikan helm itu curian," ujarnya.

"Tapi mereka nggak bisa buktikan kalau suamiku mencuri helm. Mereka juga nggak bisa buktikan suamiku curi sepeda motor, karena tidak ada sepeda motor yang hilang," sambungnya.

Friska menuturkan bahwa tak lama setelahnya, ada seorang pria berperawakan tinggi, tegap, badannya berisi menggunakan pakai biasa mengaku seorang polisi.

"Saya polisi," kata pria itu, ditirukan Friska.

"Jadi kalau kau polisi, kau biarkan mereka main hakim sendiri," jawab Friska.

"Sempat aku mau ditonjok, tapi karena ada yang halangi tidak jadi. Tapi saya kasih saja nah kalau berani," ujar Friska.

Saat itu, Friska melihat kondisi suaminya di dalam pos satpam sudah tidak berdaya. Joni sudah dalam posisi diam saja dengan wajah berlumuran darah.

"Jujur saya sangat kecewa kali, sangat kali, melihat perlakuan main hakim sendiri terhadap suami saya. Satpam kan seharusnya mengamankan bukan ikut mengeroyok sampai tewas," ujar Friska.

Video Satpam Kampus Membabi Buta

Penjelasan Pihak Kampus Unimed

Humas Unimed M Surip membenarkan bahwa ada dua orang pria tewas dikeroyok di Kampus Unimed, kedua pria tersebut menurut Surip adalah maling.

"Mereka satu harian sudah diintai oleh petugas keamanan dan beberapa mahasiswa. Memang mereka tertangkap tangan mengambil helm dan sepeda motor," kata Surip.

"Jadi di pintu keluar, mereka ditangkap oleh petugas keamanan. Diteriaki maling dan langsung banyak mahasiswa berdatangan," sambungnya.

Surip menjelaskan bahwa selama ini di dalam kampus memang sudah sering terjadi kehilangan sepeda motor baik milik pegawai maupun mahasiswa. Saat terjadi kehilangan, satpam kampuslah yang kerap disalahkan.

Menurut Surip sebelum kejadian, kedua pelaku memang sudah diintai selama seminggu terakhir. Keduanya disebut sering masuk kampus sore-sore.

" Terkadang hilang kadang datang, begitu terus berulang. Makanya kita intai dan kedapatan dan dihakimi massa di pintu keluar," ungkap Surip.

Ditanya apakah pelaku diduga pernah beraksi di Unimed sebelumnya, Surip menduga bisa saja hal itu pernah terjadi. Karena mereka sering masuk kampus dengan pakaian biasa.

Ketika ditanya apakah Satpam melakukan pengamanan sudah SOP karena kedua pria tersebut tewas setelah dihajar satpam dan mahasiswa?

Surip menjelaskan bahwa petugas keamanan telah melerai mahasiswa untuk menghakimi dan langsung melaporkan ke polisi. Namun polisi lama datang karena mau magrib.

"Setelah datang langsung pelaku dibawa keluar oleh polisi. Kami tidak tahu kelanjutan mereka itu. Waktu dibawa keluar kampus mereka masih hidup. Orang masih bisa berjalan, tapi memang yang satu sudah tidak bisa jalan," urainya.

Lebih lanjut, soal adanya dugaan mati di hakimi massa, Surip menuturkan bahwa petugas keamanan sebenarnya sudah membantu melerai. Bahkan beberapa pegawai masuk juga untuk membantu melerai.

"Mungkin kalau ada pemukulan, karena mereka sudah kesal dan tidak bisa dibendung lagi," beber Surip.

(mak/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved