Hidroponik Mart Medan, Kian Suburnya Bisnis Sayur Hidroponik Non Pestisida

Sayur yang saya jual seperti bayam, kangkung, sawi, selada. Semua jenis sayur dataran rendah dan non pestisida.

TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Erwin Halim pemilik Hidroponik Mart Medan saat berada di kebunnya. 

Dua tahun belakangan bisnis Erwin mulai merambah ke perlengkapan hidroponik. Bisnis ini tentu tumbuh seiring dengan pertumbuhan orang-orang yang ingin belajar hidroponik. "Hampir setiap hari ada yang beli lho," katanya.

"Untuk kategori pemula seperti ibu-ibu rumah tangga cukup dengan rockwool, benih, nutrisi, dan net pot. Biasanya saya bilang kepada mereka cukup memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah saja. Yang penting nutrisinya bagus, cara menanamnya tepat, hasilnya pasti jadi," katanya.

Dalam hidroponik menurut Erwin hal yang tidak bisa dilupakan adalah sinar matahari dan air. "Tentunya nutrisi itu perlu tapi yang paling harus diperhatikan adalah dua hal itu," ujarnya.

Untuk masa tanam, menurut Erwin menanam dengan hidroponik lebih cepat panen dibandingkan menanam secara konvensional. Misalnya kangkung hidroponik bisa dipanen setelah 18 hari.

"Tapi itu tergantung permintaan konsumen juga. Ada yang ingin makan daun, berarti panennya lebih cepat, ada yang ingin makan batangnya karena garing berarti panennya lebih lama," ujarnya.

Tak sekadar menjual peralatan hidroponik, Erwin juga memberikan pelatihan tetang bertanam hidroponik. Ada beberapa grup bimbingannya yang hanya menanam di depan rumah tapi sayurannya bagus.

"Harga jual tanaman hidroponik seperti ini bisa dua kali lipat dari pada harga tanaman yang ditanam secara konvensional. Hal ini karena sayurannya sehat dan non pestisida," katanya.

Kemajuan teknologi turut berperan dalam pembangunan bisnis Erwin ini. Ia memasarkan produknya melalui media sosial dan e commerce. Keberdaan ojek online juga membantu dalam pengiriman barang ke tangan konsumen.

Tentunya bisnisnya tak selalu berjalan mulus. Baginya tantangan terbesar adalah mengedukasi masyarakat untuk sadar akan hidup sehat.

"Mereka banyak berpikir nutrisi yang dipakai adalah bahan kimia. Padahal yang ditakutkan bukan kimianya tapi pestisidanya. Pestisida yang membuat residu di daun yang kita makan lama kelamaan mengendap di tubuh dan menjadi penyakit. Jadi mengedukasi mulai dari nol sampai masyarakat mengerti, itu yang susah," ujarnya.

Meski banyak ditanyakan orang, menurut Erwin nutrisi yang digunakan pada tanaman tetap aman jika dalam batas wajar. "Dalam hidroponik hanya ada 12 unsur yang diberikan ke dalam air. Semua di kontrol dengan baik dengan formulasi dan konsentrasi yang baik," ujarnya.

Ia memulai usaha ini dengan modal Rp 100 ribuan. Erwin memulai hidroponik dalam sebuah box kecil. Saat ini dia bisa menjual sayur dengan harga Rp 40 ribu perkilogram.

"Intinya untuk membangun usaha seperti ini jangan berhenti mencoba kalau gagal. Kalau pemula biasanya gagal di awal karena belum paham. Jadi pelajari dan konsultasi lah dengan senior-senior hidroponik. Kalau gagal coba lagi," pungkasnya.

(cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved