Advertorial
Buddhayana untuk Agama Buddha Indonesia
Biksu Ashin Jinarakkhita juga dikenal dengan panggilan akrabnya “Su Kong”(kakek guru) dilahirkan di Bogortanggal 23 Januari 1923
Di Burma, ia berlatih meditasi di pusat pelatihan meditasi, Mahasi Sasana Yeikhta, Rangoon. Kemajuan yang dialaminya sangat pesat sehingga mencengangkan banyak orang. Ia pun mendapat bimbingan khusus dari biksu Nyanuttara Sayadaw. Akhirnya, pada tanggal 23 Januari 1954, Ti Chen ditahbiskan kembali menjadi Bhikkhu dalam tradisi Theravada.
Ia pun mendapatkan nama Jinarakkhita dari Bhante Mahasi Sayadaw dan diberi gelar Ashin. Maka ia pun menjadi orang Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi biksu setelah keruntuhan kerajaan Majapahit. Ini merupakan salah satu lompatan besar dalam perkembangan Agama Buddha di Indonesia. Setelah itu, Biksu Ashin Jinarakkhita pun kembali ke Indonesia pada 17 Januari 1955.
Karya-karya
Salah satu karya besar yang ditinggalkan Biksu Ashin Jinarakkhita ialah paham Buddhayana di Indonesia. Dimana ia melihat bahwa seharusnya ajaran Buddha tidak terbagi-bagi dalam sekte-sekte yang berbeda. Apalagi melihat histori dirinya yang pernah diajar dibawah bimbingan guru dari aliran Mahayana dan juga Theravada.
Selain itu juga Biksu Ashin Jinarakkhita memperkenalkan Sanghyang Adi Buddha sebagai konsep “Ketuhanan” dalam agama Buddha sehingga agama Buddha diakui secara sah oleh negara Republik Indonesia.
Kontribusi bagi Agama Buddha di Indonesia
Perayaan Tri Suci Waisak bersama di Borobudur
Ketika menjadi Anagarika , ia mencetuskan ide brilian untuk menyelenggarakan upacara Tri Suci Waisak secara nasional di Candi Borobudur. Akhirnya pada tanggal 22 Mei 1953 acara tersebut berhasil dilaksanakan. Upacara ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan.
Inilah satu momen penting tanda kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Masyarakat mulai meyadari bahwa agama Buddha dan penganutnya masih ada di Indonesia.Setelah itu, ia melanjutkan studinya mengenai agama Buddha baik di dalam maupun luar negri.
Menyebarkan Agama Buddha di Nusantara
Akhir tahun 1955 dimulai tour Dharma ke pelosok-pelosok tanah air. Ashin Jinarakkhita memulainya dari daerah Jawa Barat. Dalam perjalanannya itu ia mengunjungi setiap daerah yang ada penganut agama Buddha-nya, tidak peduli di kota-kota besar maupun di desa-desa terpencil. Kunjungannya memberi arti tersendiri bagai umat Buddha Indonesia di berbagai daerah yang baru pertama kali melihat sosok seorang biksu.
Tour Dharma ini tidak terbatas di Pula Jawa saja. Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya juga ia kunjungi. Pendek kata, hutan diterobosnya, gunung didaki, laut diseberangi, untuk membabarkan Dharma yang maha mulia ini kepada siapa saja yang membutuhkannya.
Dalam setiap kesempatan berkunjung ke berbagai daerah tersebut Bhante Ashin selalu mengingatkan umatnya untuk tidak bertindak masa bodoh terhadap kebudayaan dan ajaran agama Buddha yang sudah sejak dulu ada di Indonesia. Galilah yang lama, sesuaikan dengan zaman dan lingkungan.
Ashin Jinarakkhita menegaskan bahwa usaha mengembangkan agama Buddha tidak dapat lepas dari upaya untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ashin Jinarakkhita mendorong umatnya untuk terus menggali warisan ajaran Buddha yang tertanam di Indonesia. Karena bagaimanapun, secara kultural ajaran yang pernah membawa bangsa kita pada zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit itulah yang akan lebih bisa diterima oleh bangsa kita sendiri.
Didirikannya Lembaga-lembaga Buddhis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/maha-biksu-ashin-jinarakkhita-1923-2002.jpg)