Advertorial

Buddhayana untuk Agama Buddha Indonesia

Biksu Ashin Jinarakkhita juga dikenal dengan panggilan akrabnya “Su Kong”(kakek guru) dilahirkan di Bogortanggal 23 Januari 1923

Buddhayana untuk Agama Buddha Indonesia
TRIBUN MEDAN/HO
Maha Biksu Ashin Jinarakkhita (1923 – 2002) 

Pada tahun 1951, Boan An kembali ke Indonesia. Dia pun menjadi salah satu pendiri Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI), perkumpulan yang mencoba untuk melestarikan kebudayaan Buddhis, Konghucu, dan Tao di Indonesia.Beliau diangkat menjadi ketua GSKI dan juga menjadi wakil ketua pengurus pusat Pemuda Teosofi di Indonesia.

Salah satu usahanya dalam melestarikan agama Buddha di Indonesia ialah mengadakan perayaan Waisak secara nasional untuk pertama kalinya dalam beratus-ratus tahun di candi Borobudur pada tanggal 23 Mei 1953.

Berguru pada Mahabiksu

Ketertarikan Boan An pada ajaran Buddha membuat ia sering mengunjungi kelenteng Kong Hoa Sie yang berada di Jakarta. Disana ia sering belajar dari mahabiksu Sanghanata Aryamulya Pen Cing, yang menjadi guru Mahayana untuk Boan An. Ia pun ditahbiskan menjadi samanera dengan nama Ti Chen.

Dalam usaha Ti Chen untuk memperdalam ajaran Buddha, ia berusaha untuk menghubungi beberapa kedutaan agar dapat belajar di Sri Lanka, namun rupanya hal tersebut kurang mendapat perhatian dari kedutaan Sri Lanka, hingga akhirnya ia menghubungi kedutaan Burma dan mendapat persetujuan untuk berangkat ke Burma untuk mendalami ajaran Buddha. Pada akhir bulan Desember 1953, samanera Ti Chen pun berangkat menuju Burma.

Tee Boan An mengorganisir peringatan hari Tri Suci Waisak secara nasional ( 22 Mei 1953) di  Candi Borobudur yang pertama semenjak Agama Buddha tertidur di Bumi Indonesia selama 500 tahun.
Tee Boan An mengorganisir peringatan hari Tri Suci Waisak secara nasional ( 22 Mei 1953) di Candi Borobudur yang pertama semenjak Agama Buddha tertidur di Bumi Indonesia selama 500 tahun. (TRIBUN MEDAN/HO)

Di Burma, ia berlatih meditasi di pusat pelatihan meditasi, Mahasi Sasana Yeikhta, Rangoon. Kemajuan yang dialaminya sangat pesat sehingga mencengangkan banyak orang. Ia pun mendapat bimbingan khusus dari biksu Nyanuttara Sayadaw. Akhirnya, pada tanggal 23 Januari 1954, Ti Chen ditahbiskan kembali menjadi Bhikkhu dalam tradisi Theravada.

Ia pun mendapatkan nama Jinarakkhita dari Bhante Mahasi Sayadaw dan diberi gelar Ashin. Maka ia pun menjadi orang Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi biksu setelah keruntuhan kerajaan Majapahit. Ini merupakan salah satu lompatan besar dalam perkembangan Agama Buddha di Indonesia. Setelah itu, Biksu Ashin Jinarakkhita pun kembali ke Indonesia pada 17 Januari 1955.

Karya-karya

Salah satu karya besar yang ditinggalkan Biksu Ashin Jinarakkhita ialah paham Buddhayana di Indonesia. Dimana ia melihat bahwa seharusnya ajaran Buddha tidak terbagi-bagi dalam sekte-sekte yang berbeda. Apalagi melihat histori dirinya yang pernah diajar dibawah bimbingan guru dari aliran Mahayana dan juga Theravada.

Selain itu juga Biksu Ashin Jinarakkhita memperkenalkan Sanghyang Adi Buddha sebagai konsep “Ketuhanan” dalam agama Buddha sehingga agama Buddha diakui secara sah oleh negara Republik Indonesia.

Halaman
1234
Editor: Ismail
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved