Komunitas Indonesia Melek Media Ajak Masyarakat Kritis Informasi

Inisiator IMMedia yang sekaligus menjadi salahsatu narasumber mengatakan bahwa media yang tidak berimbang bagaikan sebuah monster.

Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Diskusi dengan tema 'Media Milik Siapa' di Warunk Everyday Jalan Dr Mansyur No. 134 Medan, mengajak mahasiswa dan berbagai komunitas untuk memahami metode penyiaran. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Menggelar Community Gathering bersama beberapa komunitas, Indonesia Melek Media (IMMEDIA) mengajak menyusuri peran media dalam menyiarkan informasi kepada masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, IMMedia pun mengangkat tema Media Milik Siapa, Sebagai topik pembahasan.

Inisiator IMMedia yang sekaligus menjadi salahsatu narasumber mengatakan bahwa media yang tidak berimbang bagaikan sebuah monster.

Apalagi, saat ini pemilik media mayoritas berasal dari elit elit politik yang memiliki kepentingan dan rentan memberikan informasi yang simpang-siur.

"Kita menghadapi monster, karena pemerintah yang punya wewenang justru tidak bisa dengan bijak mengatur industri media tersebut. kenapa saya bilang monster?. Karena negara saja tidak bisa mengurusi media nakal yang tidak berimbang," katanya.

Peraih Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Kategori Masyarakat Peduli Penyiaran tahun 2018 ini mengatakan, meski media dimiliki sosok sosok politis, tidak semua informasi yang disajikan keliru.

Oleh karena itu, ia mengajak teman-teman mahasiswa yang berasal dari berbagai komunitas tersebut untuk bijak menerima informasi dari tayangan yang disajikan. Baginya, salahsatu upaya terbaik memfilter informasi adalah memperkuat literasi masyarakat.

"Untuk hal seperti bagaimana cara kita untuk memahami kesimpangsiuran informasi adalah dengan cara memperkuat masyarakat. kalau masyarakatnya sudah kuat, sudah paham, sudah berliterasi dengan baik bagaimana pun informasi dipaparkan, Insyaallah Indinesia tidak lagi takut dengan informasi yang tidak benar," katanya.

"Kalau bukan IMMedia dan kalau bukan kawan kawan yang bertanggung jawab berliterasi, siapa lagi?. Jadi teman teman yang sudah terliterasi harusnya nih, membagikan sarannya dengan teman-temannya yang belum terliterasi," sambung alumni Fisip USU ini.

Di kesempatan yang sama, Marina Nasution, salahsatu jurnalis televisi yang diundang menjadi pemateri mengatakan bahwa media, khususnya televisi tak bisa dielakkan dari masyarakat. Sebab Televisi merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

"Siapa di sini yang pulang ke rumah langsung hidupkan TV?. Saya rasa kita semua sama. Padahal TV itu gak kita tonton. Hanya dijadikan teman suara aja. Iya kan?," Tanyanya.

Lantaran hal itu, Marina mengatakan peristiwa tersebut merupakan bukti kalau media tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat. Bahkan ia berujar kalau apa yang dibicarakan masyarakat adalah apa yang sudah dipikirkan media sebelumnya.

"Apa yang kita bicarakan adalah apa yang dipikirkan oleh media," katanya dalam diskusi yang berlangsung di Warunk Everyday, Jalan Dr Mansyur No. 134 Medan.

Secara hukum, media dijelaskannya merupakan milik pebisnis yang beroperasi dalam bentuk perusahaan. Namun begitu hak siar yang disajikan media merupakan hak rakyat Indonesia.

Mengapa demikian, Marina berujar bahwa frekuensi yang dipakai media yakni udara sebagai perantara informasi, merupakan milik negara dan diatur untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved