TRIBUNWIKI
Soponyono Pedagang Mi Rebus Legendaris di Kota Tebing Tinggi
Baharuddin pun memulai berdagang memakai nama tersebut, semenjak tahun 1948 di Tebing Tinggi. Menu Mi Rebus dan Sate Daging Sapi dengan Kuah Kacang
Soponyono Pedagang Mi Rebus Legendaris di Kota Tebing Tinggi
TRIBUN-MEDAN.com-Tebing Tinggi tak hanya memiliki kuliner khas legendaris seperti lemang dan roti kacang. Namun, Tebing Tinggi juga memiliki Pedagang Mi Rebus yang legendaris dari zaman setelah kemerdekaan yaitu Soponyono.
Soponyono merupakan bahasa Jawa yang diartikan ke bahasa Indonesia "Siapa Sangka". Nama tersebut dibawa dari tanah Jawa Timur oleh Baharuddin ke Sumatera yaitu Kota Tebing Tinggi.
Nama tersebut menjadi nama usahanya karena merupakan nama yang unik agar menarik perhatian konsumen.
Baharuddin pun memulai berdagang memakai nama tersebut, semenjak tahun 1948 di Tebing Tinggi. Menu Mi Rebus dan Sate Daging Sapi dengan Kuah Kacang menjadi menu andalannya.
Menu tersebut merupakan masakan khas kuliner Kabupaten Nganjuk, yang dibawa Baruddin Ke Kota Tebing Tinggi sebagai menu andalan dagangannya.
Di tahun 1948 Mi Rebus dijual Baharuddin dengan harga 1 Sen, sementara Sate Kacang dijual dengan harga 2 Sen.
Pada masa itu Baharuddin berjualan di Jalan Iskandar Muda Kota Tebing Tinggi, yang sering disebut Metro. Ia berjualan Mi Rebu dan Sate Kacang dengan memakai gerobak sorong.
Baca: Ahmad Dhani 2 Kali Menangis di Hadapan Mulan Jameela, Mohon-mohon Supaya Mau Dinikahi
Baca: FOTO-FOTO Libur Lebaran, Wisata Berkuda di Istana Maimun Medan ini Murah Meriah
Baca: Dua Pelaku Pencurian TV Serta Penadah Diringkus Polisi
Baca: KABAR DUKA DARI DEWI PERSSIK: Ayah Meninggal Dunia, Minggu Tadi, Postingan DP Dibanjiri Ucapan Duka
Setelah Baharuddin meninggal, Soponyono tersebut dilanjutkan oleh generasi kedua yaitu anak menantunya, Saiman dan Samin.
Mereka berdua juga merupakan orang yang berasal dari Pulau Jawa provinsi Jawa Barat Kabupaten Nganjuk.
Mereka melanjutkan usaha Soponyono semenjak tahun 1952 di tempat berbeda. Samin berjualan di Jalan Tjong A Fie atau sekarang dengan nama Jalan KH Ahmad Dahlan.
Baca: Pasutri Ditemukan Tewas di Kamar Kos, Istri Bersimbah Darah Tertutup Bantal, Sang Suami Gantung Diri
Baca: USU Perguruan Tinggdi di Luar Pulau Jawa yang Miliki Catatan Jumlah Publikasi Scopus Terbanyak
Sementara Saiman berjualan di Jalan Let Jen Suprapto, tepat di depan Masjid Raya Kota Tebing Tinggi.
Pada masa itu harga Mi Rebus dan Sate Kacang masih sama harganya dari pertama dijual oleh Baharuddin. Bergantinya tahun dan berganti juga la penerus usaha Soponyono ke generasi Ketiga.
Jatuhnya usaha pada generasi Ketiga semenjak tahun 1975, yang dilanjutkan oleh anaknya Saiman yaitu Poniran. Karena Saiman pada saat itu jatuh sakit. Pada masa itu harga Mi Rebus sekitar 25 Rupiah (perak) dan Sate Kacang dengan harga 50 Rupiah (perak).
Baca: Ban Produksi General Motors dan Michelin Ini Dipastikan Bikin Tukang Tambal Ban Gulung Tikar
Baca: LIVE SCORE: PREDIKSI SUSUNAN PEMAIN Portugal vs Belanda, Jadwal Swiss vs Inggris Malam Ini
Namun usaha yang dilanjutkan Poniran hanya bertahan sampai tahun 1980, karena pada masa itu Poniran diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mi-rebus.jpg)