Golkar Sumut Dukung Penuh Ketua Umum Airlangga Hartarto, Setuju Munas Akhir 2019
Berikut pernyataan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tandjung
Golkar Sumut Dukung Penuh Ketua Umum Airlangga Hartarto Setuju Munas Akhir 2019
TRIBUN-MEDAN.com-Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tandjung menjawab seputar pergantian kepemimpinan dan wacana dipercepatnya penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar.
"Kami berterimakasih kepada Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Airlangga Hartarto. Beliau layak untuk didukung kembali sebagai Ketum dalam satu periode hingga lima tahun mendatang," katanya.
Kepada Tribun/www.tribun-medan.com, Doli menjelaskan, sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golkar bahwa periodesasi satu kepemimpinan/kepengurusan DPP adalah lima tahun.
"Tahun 2019 ini merupakan akhir dari periodesasi DPP masa bhakti 2014-2019. Tepatnya jatuh pada Bulan Desember, karena Munas lalu di Bali dilaksanakan 1-4 Desember 2014 lalu," ujarnya, Senin (17/6/2019).
Sehingga, terkait soal pelaksanaan Munas, lanjut Doli, DPD Partai Golkar Sumut Sumut taat terhadap konstitusi.
Oleh karenanya, menurut Doli, jadwal Munas memang harus dilaksanakan pada akhir masa bhakti, tidak dimajukan dan tidak pula diundurkan.
Baca: Mengejutkan Reaksi Rossi setelah Diseruduk Lorenzo, meski Lemburnya hingga Jam 9 Malam jadi Percuma
Baca: Oknum TNI Prada DP Ngaku Habisi Nyawa Vera karena Hamil Muda, Visum Tunjukkan Hasil Berbeda
Baca: Pria Ini Tak Kunjung Balik ke Rumah Kurun 2 Bulan, Kepergok Tidur Bersama Janda di Kamar Kos
Baca: Istri Benturkan Kepala Suami Keduanya hingga Tewas, Ternyata Ini Musabab di Baliknya
Doli menjelaskan, pihaknya menilai sosok Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum telah mampu membawa Golkar keluar dari masa sulit dan masih bisa berhasil menempatkan Golkar dalam capaian seperti saat ini.
"Kepemimpinan Airlangga telah mampu menunjukkan kembali betapa Golkar memiliki “ketahanan” yang tinggi dalam menghadapi kesulitan sebesar apapun," ungkapnya.
Baca: Reaksi Chelsea Islan saat Ditanya Status Hubungannya dengan Calon Anggota Legislatif
Baca: Kronologi Ronatal Situmorang Ditemukan Tewas Mengenaskan seusai Perbaiki Mesin Cuci Plastik
Langkah, kebijakan, dan strategi yang dilakukan Airlangga, bagi Doli, mampu membalikkan keadaan dan mematahkan berbagai prediksi banyak orang yang memperkirakan Golkar akan hanya mampu memperoleh 6-7 persen di Pemilu 2019 kemarin.
Menurutnya, hal itu terjadi, karena Airlangga telah berhasil mengembangkan kembali tradisi konsolidasi secara partisipatif turun ke bawah.
Airlanngga, kata Doli, mengajak seluruh pimpinan dan kader partai untuk bergerak dan bekerja melakukan pemenangan Golkar.
" Ke Sumatera Utara saja, Airlangga telah tiga kali turun konsolidasi dalam kurun waktu lima bulan menjelang 17 April kemarin," jelasnya.
Baca: Begini Kondisi Bocah Raksasa Aria Permana seusai Operasi Bariatrik, Ini yang Sangat Dibutuhkan
Baca: Ragam Aplikasi Smartphone yang Paling Populer di Dunia, Apakah Kamu Punya di Handphone-mu?
Dikatakannya, selama kehadirannya Sang Ketua Umum di Sumatera Utara itu, Airlangga telah menyampaikan visi, gagasan, dan agenda-agenda pemenangan Golkar hingga pada Pemilu 2024.
Dalam setiap kunjungan Airlangga ke Sumut, menurut Doli, DPD Partai Golkar Sumatera Utara juga selalu melibatkan DPD Partai Golkar Kabupaten/Kota.
Hal itu dilakukan sebagai bagian kebijakan konsolidasi dalam membangun soliditas dan kebersamaan dalam pergerakan pemenangan Pemilu.
"Insya Allah Partai Golkar se-Sumatera Utara hingga saat ini masih solid dan kami akan pertahankan terus kebersamaan itu," tegasnya.
Doli mengungkapkan, dalam setiap pembicaraan bersama Ketua-Ketua DPD Kabupaten/Kota, pihaknya menyadari soliditas serta kekuatan bersama adalah modal penting membangun kembali kejayaan partai.
Baca: Kisah Eks Kabareskrim Polri Susno Duadji, Sekarang Pilih Tinggal di Desa, Blusukan dan Jadi Petani
Baca: Puluhan Narapidana Kabur dengan Memecahkan Kaca setelah Terjadi Kerusuhan di Rutan Lhoksukon
Doli mempersilakan siapapun kader Golkar yang akan maju menjadi Calon Ketua Umum.
Baginya, sosok Bambang Soesatyo atau para kader yang ingin mencalonkan diri, mesti menyampaikan gagasan alternatif ke depan.
"Jangan bicara kembali ke belakang, apalagi menyerang orang per orang. Itu akan kontraproduktif buat Golkar ke depan," tambahnya.
Ia berharap Munas yang akan datang menjadi wadah untuk melakukan evaluasi secara sungguh-sungguh terhadap apa yang dialami partai selama satu periode ke belakang.
Menurutnya lada periode tersebut, penuh dengan dinamika dan cobaan, terkait hasil Pemilu 2019.
Pada musyawarah tersebut, kata Doli, mesti ada evaluasi secara komprehensif yang melibatkan tak hanya DPP sebagai penanggung jawab tertinggi saja.
Melainkan, andil dari seluruh stakeholder partai, para pimpinan DPD Provinsi dan Kabupaten/Kota, juga dari para caleg.
"Munas bukan hanya melulu soal kontestasi perebutan jabatan Ketua Umum saja. Harus dibangun kesadaran baru untuk tidak mengulangi apa yang terjadi dalam lima tahun terakhir," jelasnya.
Doli mengatakan dalam situasi sulit sekalipun, Golkar masih bisa meraih hasil 85 kursi yang merupakan jumlah kursi kedua terbesar di DPR RI.
"Kesadaran baru itulah yang bisa membatasi dan mengeluarkan Golkar dari trauma dan ribut-ribut soal masa lalu. Yang dibutuhkan adalah bicara proyeksi ke depan," katanya.
Dalam kontestasi perebutan jabatan Ketua Umum, Doli berharap para kandidat lebih banyak mengedepankan penyampaian visi baru, misi baru, dan program baru untuk memenangkan Golkar di Pemilu 2024.
"Bukan terjebak dan surut ke belakang dengan polemik mencari-cari salah orang per orang. Dengan catatan seperti itu, siapa saja dipersilakan untuk maju menjadi Calon Ketua Umum,"pungkasnya.
Seperti diberitakan, kader muda Partai Golkar yang tergabung dalam Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) mendorong dipercepatnya pergantian kepemimpinan di Golkar.
Pada usulan itu, nama Ketua DPR Bambang Soesatyo mencuat sebagai ketua umum selanjutnya sebagai respons atas pencapaian Pemilu 2019 yang merupakan titik nadir bagi Golkar.
(gov/tribun-medan.com)