Lestarikan Reog Ponorogo Sumatera tanpa Mengenal Kesukuan
Jumarik menjelaskan sejarah maupun silsilah Reog Ponorogo dan Kuda Kepang, yang melewati masa yang cukup panjang
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Padepokan Turonggo Siswo Budoyo (TSB) adalah sanggar yang dibentuk oleh Jumarik untuk melestarikan leluhurnya sebagai seorang pria beretnis Jawa kelahiran Sumatera.
Sanggar yang kini berlokasi di Jalam Pasar III Timur, Kecamatan Medan Marelan ini, ia kelola bersama anak asuhnya dan para donatur yang ternyata berasal dari adat istiadat berbeda.
Di awal-awal diterangkan Jumarik, dirinya hanyalah seorang pemain Kuda Kepang. Sebuah kesenian Jawa dengan tunggangan properti berbentuk kuda sembari mempertontonkan atraksi kekebalan tubuh yang dilakukan karena adanya kekuatan magis.
Namun lambat laun, pria 52 tahun ini berpikir bagaimana dapat menghadirkan Reog Ponorogo di tanah Sumatera, khususnya Medan.
"Kita bangun pertama kali sanggar ini namanya Seruni pada tahun 2002. Waktu itu hanya Kuda Kepang saja. Tapi lama-lama ada beberapa donatur yang coba membantu kita berkembang, sehingga mampu membeli Reog Ponorogo beserta alat musiknya," ujar Jumarik kala ditemui awak Tribun Medan di Sanggar yang sekaligus sebagai tempat tinggalnya ini.
Dalam pertemuan dengan awak Tribun Medan, Selasa (2/7/2019) siang, Jumarik menjelaskan sejarah maupun silsilah Reog Ponorogo dan Kuda Kepang, yang melewati masa yang cukup panjang sebelum seni tari ini dapat diaktualisasi oleh manusia dalam pagelaran budaya.
Di tangan Jumarik dan Istrinya Bety Waty beserta beberapa sesepuh Jawa di kawasan Medan Utara, mereka mengkolaborasi kesenian Reog Ponorogo dengan kekhasan Sumatera. Mereka mengizinkan permainan ini dilaksanakan oleh remaja-remaja yang notabene bukan beretnis Jawa seperti mereka.
"Kalau main yang main Reog dan penari-penari itu biasanya kita butuh tenaga 30 orang. Kalau ada yang pemain Kuda Kepangnya jadi tambah 10 orang. Jadi totalnya kita yang latihan di sini ada 40 orang, remaja semua dan sukunya beda-beda," ucapnya dengan logat Jawa.
Diantara ke 40 remaja pemuda/pemudi yang memainkan Reog Ponorogo, beberapa diantaranya justru bertenis Batak dan Karo bahkan Tionghoa. Istri Jumarik, Bety Waty pun mengaku aneh atas kemauan anak-anak tersebut meski Reog Ponorogo maupun Kuda Kepang bukan khasnya suku mereka sendiri.
"Makanya itu aneh juga, Padahal mereka ini sukunya banyak juga yang bukan Jawa. apalagi rumahnya jauh-jauh tapi rela datang kemari latihan setiap Malam Rabu dan Malam Sabtu," kata Bety seraya tertawa.
Dikatakannya, dalam permainan Reog Ponorogo, seorang reog harus mampu mengangkat Singa Mangala atau Dadak Merak dengan menggigitnya. Padahal properti Dadak Merak ini beratnya mencapai 40 Kilogram. Belum lagi jika ada warga (Pengantin) yang ingin naik ke atas Reog.
"Berapa lah total beratnya yang ditanggung pemain Reog?. Makanya setiap hari mereka ini kita suruh latihan menggigit beban berat di tempat Gym. Biar mereka kuat," kata Bety.
Dalam permainan Reog, sedikitnya dibutuhkan 6-8 pria yang gagah berani, dengan pakaian serba hitam dengan polesan bedak merah di wajahnya. Mereka akan bertugas sesuai formasi yang didiskusikan.
Ada beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan sebelum Reog muncul dalam pertunjukan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jathilan.
Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan. Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/anggota-padepokan-turonggo-siswo-budoyo.jpg)