Minta Uang Keamanan, Empat Preman Amplas Dihadiahi Tuntutan 3,5 Tahun

Pasalnya atas perbuatan mereka, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vina Monika menghadiahi tuntutan pidana selama 3 tahun 6 bulan.

Minta Uang Keamanan, Empat Preman Amplas Dihadiahi Tuntutan 3,5 Tahun
Tribun Medan / Alija
Para terdakwa yang merupakan preman amplas tertunduk saat mendengarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vina Monika di Ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan, Senin (8/7/2019) Sore 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ulah Sanggup Silaban, Ricky Silalahi, Gidion Tambunan dan Frengki Sinambela yang semula ingin meminta uang keamanan pada petugas Loket Bus Koperasi Bintang Tapanuli bakal berujung ke jeruji besi.

Pasalnya atas perbuatan mereka, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vina Monika menghadiahi tuntutan pidana selama 3 tahun 6 bulan.

Pada sidang yang berlangsung di ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan, Senin (8/7/2019), keempatnya yang didukkan dihadapan Majelis Hakim yang dipimpin Erintuah Damanik tampak lesu.

Keempatnya hanya tertunduk sembari mendengarkan tuntutan JPU.

"Meminta majelis hakim yang menyidangkan perkara ini agar menghukum para terdakwa dengan hukuman masing-masing 3 tahun dan 6 bulan penjara, tandas Vina Monika

Dikatakan jaksa Vina dalam tuntutannya, para terdakwa merusak dan memukuli orang yang ada di loket tersebut dengan menggunakan bambu, peristiwa itu terjadi pada Februari 2019 di Loket Bus KBT Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Harjosari I Kecamatan Medan Amplas.

"Mereka memukuli korban Madia Siagian, Sentosa Silitonga, Charles Silitonga dan mobil KBT yang sedang parkir di halaman kantor," kata jaksa.

Sebelum kejadian, lanjut jaksa, terdakwa Sanggup Silaban ditemui Sikumis Pasaribu (DPO) di simpang Terminal Amplas, untuk mengajak bekerja melakukan penyerangan.

Selanjutnya dengan menaiki angkot mereka pun berangkat. Namun, tak disangka, di dalam angkot, sudah ada teman terdakwa lain yang akan ikut melakukan penyerangan.

Mereka ke loket awalnya bermaksud, untuk meminta uang keamanan. Namun karena tidak diberikan, mereka melakukan penyerangan.

"Sikumis Pasaribu kemudian memberikan satu persatu sebilah bambu, dan tiba di loket mereka langsung turun untuk merusak dan memukuli orang yang ada di loket tersebut dengan bambu," urai jaksa.

Setelah melakukan penyerangan, mereka pun kabur. Pada Maret 2019, keempat terdakwa diamankan tim polisi dari Polrestabes Medan. Sedangkan 4, rekan mereka yang lain belum berhasil ditangkap.

"Perbuatan para terdakwa tersebut dinilai bersalah melakukan tindak pidana dalam Pasal 406 Ayat 1 Kitab Undang Hukum Pidana," tegas jaksa.

Dalam sidang selanjutnya, keempat terdakwa akan diberikan kesempatan menyusun nota pembelaan (pledoi) yang akan dibacakan pada persidangan Senin pekan mendatang.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved