Euro Terperosok, Ini Respons Pengamat dan Pelaku Usaha terkait Stabilitas Ekonomi
melemahnya nilai tukar Euro terhadap mata uang negara-negara lain didorong oleh kinerja perekonomian negara-negara Eropa.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Euro terperosok mendekati level terendah dua bulan pada hari Kamis siang (25/7/2019), menjelang rapat Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan memberikan sinyal pelonggaran moneter di tengah pertumbuhan zona euro yang tersendat-sendat.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Wahyu Ario Pratomo mengatakan, melemahnya nilai tukar Euro terhadap mata uang negara-negara lain didorong oleh kinerja perekonomian negara-negara Eropa yang melambat khususnya sektor industri manufaktur.
"Memang dalam dua bulan terakhir sejak awal Bulan Juni terus melemah hingga saat ini. Tentunya berdampak terhadap perekonomian di Eropa. Sebenarnya pelemahan tersebut akan memberikan manfaat bagi negara-negara Eropa mengingat daya saing mereka akan semakin meningkat. Sehingga dalam beberapa bulan ke depan dapat meningkatkan ekspor negara-negara Eropa atau juga impor mereka akan berkurang dan memperbaiki neraca perdagangannya," ucap Wahyu, Kamis (25/7/2019).
Ia menjelaskan bagi Indonesia, perdagangan negara-negara Eropa tidak begitu besar dibandingkan negara-negara di kawasan lain seperti di Tiongkok, Jepang, India dan Amerika Serikat.
"Ada beberapa negara saja yang cukup besar yang menjadi tujuan ekspor Indonesia yakni Jerman, Belanda dan Italia. Oleh karena itu, dampaknya belum bisa dilihat dalam jangka pendek ini. Untuk potensi menganggu stabilitas ekonomi Indonesia khususnya Sumut masih belum akan terjadi. Karena biasanya di negara yang perekonomiannya tidak berjalan dengan baik akan ada kebijakan yang mengantisipasi (counter cyclical policy) untuk perbaikan perekonomian," ujarnya.
Wahyu mengatakan antisipasi kebijakan yang akan diambil seperti penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa menjadi stimulan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Eropa, sehingga akan kembali menggairahkan perekonomian Eropa.
"Menurut saya dalam jangka panjang perekonomian akan kembali dalam keadaan stabil. Karena masing-masing negara telah menyiapkan kebijakan yang mendorong perekonomian untuk tetap berjalan sesuai dengan yang diharapkan yaitu tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun dinamika ekonomi yang sangat cepat membuat perekonomian selalu mengalami perubahan. Apalagi dengan era industri 4.0 sekarang dimana inovasi menjadi tumbuh cepat dan pelaku bisnis yang tidak dapat melakukan perubahan mengikut perkembangan teknologi akan menjadi tertinggal. Era disruption telah tiba, teknologi khususnya teknologi informasi memberikan pengaruh yang besar bagi bisnis," ucapnya.
Untuk itu, kata Wahyu, pelaku bisnis di Sumut harus melakukan perubahan. "Lihat saat ini pelaku bisnis dari China misalnya merambah pasar domestik melalui market place di Indonesia. Persaingan global sudah semakin nyata, yang dahulu sebenarnya sudah diramalkan. Namun kita belum melakukan tindakan secara nyata, dan seperti merasa tidak mungkin barang kita bersaing dengan barang negara lain dengan alasan jauh. Tapi ternyata perkembangan teknologi dan konektivitas telah menyebabkan barang dari negara lain masuk secara besar-besaran ke Indonesia terutama dari Tiongkok. Impor Indonesia dari Tiongkok terus meningkat sehingga neraca perdagangan kita dengan Tiongkok terus defisit," ungkapnya.
Diakui Wahyu, pelaku bisnis di Indonesia khususnya Sumut harus terus berbenah. "Saat ini mungkin kita masih memiliki keunggulan absolut untuk kelapa sawit, tetapi mungkin ke depan sawit kita akan disaingi oleh negara lain seperti Vietnam yang juga sudah mengembangkan sawitnya. Sepertinya halnya dulu kita unggul di karet, namun saat ini Thailand menjadi negara produsen karet terbesar di dunia," katanya.
Ia menambahkan industri karet di Thailand berkembang karena industri otomotifnya yang juga berkembang. Sehingga permintaan karet mereka tetap tinggi karena ada industri hilir yang membelinya.
"Harusnya di Indonesia juga tidak hanya menjual CPO saja. Perhatian juga industri turunannya. Namun jika kita lihat perkembangannya masih cukup lambat. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei contohnya, telah dirintis pembangunannya sejak 2012 melalui PP no 29 tahun 2012, namun sampai saat ini yang besar hanya Uniliver saja. Jauh dari harapan yang dirancang ketika kawasan ini mulai dibangun," ujar Wahyu.
Dalam kesempatan yang berbeda Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan,
Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan jika melihat pasar modal sebagai indikasi ekonomi Indonesia, maka memang dapat dikatakan kalau mata uang Euro tidaklah terlalu berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, sebab memang secara korelasi, meskipun Euro mengalami penurunan yang cukup besar dalam lima tahun terakhir ini, dan dapat dilihat kalau Pasar Indonesia (IHSG) terus mengalami kenaikan, meski di tengah sentimen Brexit yang berhembus dengan kencang.
"Tetapi berbeda halnya dengan US Dollar, dimana pada tahun lalu saat USD menguat dari range 13200 menuju ke level 15400, IHSG juga mengalami pelemahan yang signifikan dimana IHSG melemah dari titik tertinggi di level 6693 dan mengalami penurunan hingga mencapai level 5557, atau mengalami depresiasi sebesar 17 persen," ucap Frankie.
Ia menjelaskan hal ini disebabkan karena dari segi perdagangan maupun investasi, Eropa tidaklah memiliki posisi yang dominan seperti halnya Tiongkok, Amerika, maupun Jepang yang memiliki hubungan dagang dan investasi yang jauh lebih besar. Oleh sebab itu, meskipun Euro mengalami penurunan, IHSG juga tetap berhasil melanjutkan trend kenaikannya.
"Jadi konklusinya adalah kalau untuk pasar modal, Euro masih tidak berpengaruh kuat selayaknya US Dollar, dan memang saat ini pelaku pasar sedang mencermati aksi apa yang akan dilakukan oleh bank sentral Amerika (The Fed) pada tanggal 31 July 2019 ini," kata Frankie.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/wahyu-ario-pratomo_20180103_173653.jpg)