Euro Terperosok, Ini Respons Pengamat dan Pelaku Usaha terkait Stabilitas Ekonomi

melemahnya nilai tukar Euro terhadap mata uang negara-negara lain didorong oleh kinerja perekonomian negara-negara Eropa.

Euro Terperosok, Ini Respons Pengamat dan Pelaku Usaha terkait Stabilitas Ekonomi
Tribun Medan/Ayu
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Wahyu Ario Pratomo. 

"Harusnya di Indonesia juga tidak hanya menjual CPO saja. Perhatian juga industri turunannya. Namun jika kita lihat perkembangannya masih cukup lambat. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei contohnya, telah dirintis pembangunannya sejak 2012 melalui PP no 29 tahun 2012, namun sampai saat ini yang besar hanya Uniliver saja. Jauh dari harapan yang dirancang ketika kawasan ini mulai dibangun," ujar Wahyu.

Dalam kesempatan yang berbeda Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan,
Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan jika melihat pasar modal sebagai indikasi ekonomi Indonesia, maka memang dapat dikatakan kalau mata uang Euro tidaklah terlalu berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, sebab memang secara korelasi, meskipun Euro mengalami penurunan yang cukup besar dalam lima tahun terakhir ini, dan dapat dilihat kalau Pasar Indonesia (IHSG) terus mengalami kenaikan, meski di tengah sentimen Brexit yang berhembus dengan kencang.

"Tetapi berbeda halnya dengan US Dollar, dimana pada tahun lalu saat USD menguat dari range 13200 menuju ke level 15400, IHSG juga mengalami pelemahan yang signifikan dimana IHSG melemah dari titik tertinggi di level 6693 dan mengalami penurunan hingga mencapai level 5557, atau mengalami depresiasi sebesar 17 persen," ucap Frankie.

Ia menjelaskan hal ini disebabkan karena dari segi perdagangan maupun investasi, Eropa tidaklah memiliki posisi yang dominan seperti halnya Tiongkok, Amerika, maupun Jepang yang memiliki hubungan dagang dan investasi yang jauh lebih besar. Oleh sebab itu, meskipun Euro mengalami penurunan, IHSG juga tetap berhasil melanjutkan trend kenaikannya.

"Jadi konklusinya adalah kalau untuk pasar modal, Euro masih tidak berpengaruh kuat selayaknya US Dollar, dan memang saat ini pelaku pasar sedang mencermati aksi apa yang akan dilakukan oleh bank sentral Amerika (The Fed) pada tanggal 31 July 2019 ini," kata Frankie.

Selain itu, Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia, Tbk, Ridwan Goh menambahkan krisis mata uang suatu negara apabila bersifat temporer, selama tidak berdampak pada krisis ekonomi dunia, biasanya tidak terlalu berpengaruh besar terhadap ekonomi Indonesia.

"Melemahnya mata uang Euro bisa menandakan melemahnya ekonomi Uni Eropa yang berdampak melemahnya daya beli masyarakat Uni Eropa. Bisa berdampak positif terhadap dunia usaha di Indonesia apabila terdapat kebutuhan impor bahan baku bagi produknya," ucap Ridwan.

Ia menjelaskan untuk jangka panjang perlu dicermati lagi dampaknya terhadap kebijaksanaan AS menghadapi melemahnya Euro, apakah akan semakin kuatnya Dollar AS terhadap mata uang dunia lainnya. Kalau dollar AS semakin kuat, juga akan ada dua kemungkinan terhadap dunia usaha bisa positif bisa negatif, tergantung apakah produknya berorientasi ekspor atau tidak.

Diakuinya, Euro yang terperosok tidak begitu berpengaruh terhadap usahanya sebab pihaknya menggunakan transaksi US Dollar.

"Kita buat cetakannya, tapi produsen sarung tangan memang banyak kirim produk sarung tangan ke Eropa. Bisnis kesehatan biasanya recession proof artinya tidak terpengaruh dengan resesi atau melemahnya ekonomi negara
karena bisnis kesehatan tidak bisa dianggarkan turun untuk penghematan," ucapnya.

Halaman
123
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved