Pemerintah China Paksa Copot Logo Halal Bahasa Arab di Restoran dan Kedai
Beberapa toko besar mengganti tanda-tanda mereka dengan istilah China untuk halal - "qing zhen".
TRIBUN-MEDAN.com-Pemerintah Beijing, ibu kota China, mendesak semua restoran dan kedai yang menjual makanan halal untuk menghapus logo halal.
Simbol-simbol lain yang dianggap terkait dengan agama Islam juga diharuskan untuk dihilangkan dari restoran.
Bahkan, menurut kesaksian para karyawan dari sebelas restoran dan kedai yang menjual produk halal menyebutkan bahwa simbol bulan sabit pun turut menjadi objek yang terlarang untuk terlihat.
Pegawai pemerintah dari berbagai kantor mengatakan kepada salah seorang manajer toko mie di Beijing untuk menutupi "halal" dalam bahasa Arab pada papan nama tokonya.
Catatan saja, saat ini ada sekitar 1.000 toko dan restoran yang menjual produk halal di Beijing.
"Mereka mengatakan ini adalah budaya asing dan Anda harus menggunakan lebih banyak budaya China," kata manajer yang menolak menyebutkan namanya kepada Reuters.
Baca: Menteri Urusan Agama Malaysia Dikecam setelah Kunjungi Kamp Uighur di China
Baca: Urus Izin Halal Produk Anda Sebelum 17 Oktober
Kampanye melawan simbol-simbol Arab dilakukan sejak 2016, yang bertujuan untuk memastikan agama sesuai dengan arus utama budaya China.
Kampanye ini mencakup penghapusan kubah gaya Timur Tengah di banyak masjid di seluruh negeri dengan pagoda gaya China.
China yang merupakan rumah bagi 20 juta warga muslim, secara resmi menjamin kebebasan beragama. Tetapi pemerintah telah berkampanye untuk membawa umat beriman sejalan dengan ideologi Partai Komunis.
Bukan hanya warga muslim yang telah diperiksa. Pihak berwenang telah menutup banyak gereja Kristen bawah tanah, dan menghancurkan beberapa gereja yang dianggap ilegal oleh pemerintah.
Umat muslim China mendapat perhatian khusus sejak kerusuhan tahun 2009 antara sebagian besar warga muslim Uighur dengan mayoritas etnis China Han di wilayah paling barat Xinjiang, tempat tinggal minoritas Uighur.
Kejadian-kejadian kekerasan etnis membuat beberapa orang Uighur yang meradang atas kontrol pemerintah, melakukan serangan pisau dan bom mentah di tempat-tempat umum dan terhadap polisi dan pihak berwenang lainnya.
Sebagai tanggapan, China meluncurkan apa yang digambarkan sebagai tindakan keras terhadap terorisme di Xinjiang.
Sekarang, China menghadapi kritik keras dari negara-negara Barat dan kelompok-kelompok hak asasi atas kebijakannya, khususnya penahanan massal dan pengawasan terhadap warga Uighur dan muslim lainnya di sana.
Pemerintah mengatakan tindakannya di Xinjiang diperlukan untuk membasmi ekstremisme agama. Pemerintah China juga telah memperluas kontrol yang lebih ketat terhadap minoritas muslim lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/restoran_halal_china.jpg)