Bergaji Rp 15 Ribu Per Hari, Aria jadi Pelayan setelah Pulang Sekolah untuk Hidupi Ayah dan Adiknya

Aria yang mengenakan kaca mata ini setiap pulang sekolah sekitar pukul 14.00WIB langsung bergegas berganti pakaian untuk bekerja menjadi pelayan

Bergaji Rp 15 Ribu Per Hari, Aria jadi Pelayan setelah Pulang Sekolah untuk Hidupi Ayah dan Adiknya
TRIBUN MEDAN/Tommy
Bergaji Rp 15 Ribu Per Hari, Aria jadi Pelayan setelah Pulang Sekolah untuk Hidupi Ayah dan Adiknya. Aria Kusuma Wijaya Siswa Kelas XII SMA 6 Pematangsiantar berdiri di samping ayahnya Norman Saputra yang mengalami lumpuh di rumahnya di Jalan Viata Yudha, Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Sitalasari, Perumahan BTN Blok 9 Nomor B5 Kota Pematangsiantar, Sabtu (10/8/2019). Aria menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai kehidupan hidup. 

Tapi pas lagi tidak ada makanan, contohnya saat saya tidak kerja, adik beli sayur dan ikan seadanya. Itulah dihemat.

Memang sekali seminggu saya libur,"ungkap Aria Kusuma Wijaya.

Bagi Aria Kusuma Wijaya, ayahnya merupakan sosok penyemangat hidup dan menginspirasi karena sejak ibunya meninggal dunia.

Ibunya meninggal dunia ketika Aria Kusuma Wijaya duduk di kelas VI SD.

Ibunya, Suri Fatimah meninggal dunia karena mengidap penyakit kanker.

Baca: Pemain Malaysia dan Thailand Baku Hantam di Piala AFF U-15 2019

Baca: Neymar Ditawar Real Madrid dengan Harga Fantastis, Barcelona Minta Tolong Jangan Diterima

Saat disinggung tentang uang sekolah, Aria Kusuma Wijaya mengaku mendapatkan perlakukan khusus.

Saat ini, pihak sekolah telah membebaskan Aria Kusuma Wijaya dan adiknya Zawa Kencana dari beban SPP hingga kelak nanti tamat.

Zawa merupakan siswi kelas XI di SMA 6 Pematangsiantar.

"Guru-guru saya tau masalah baru-baru ini ketika adik saya ijin kepada guru untuk tidak ikut pramuka. Kebetulan pramuka kewajiban di sekolah,"katanya.

"Baru-baru ini saya terbuka.

Saat guru nanya adik kenapa tidak bisa, adik bilang harus menjaga ayah yang sedang sakit.

Dan guru mencoba mencari kebenarannya dan dari situlah juga guru tau kalau saya abangnya Zawa Kencana. Guru saya juga sudah datang ke rumah ini,"ungkap Aria Kusuma Wijaya.

Tak Bisa Berobat karena BPJS Belum Bayar

Ayah Aria Kusuma Wijaya, Norman Saputra (49) memiliki kondisi yang memprihatinkan. Ia mengalami sakit lumpuh tidak dapat bergerak.

Tubuh Norman juga tampak kurus kering.

Kerangka tubuhnya juga tampak terlihat jelas.

Norman juga tidak dapat menggunakan kartu BPJS karena tertunggak selama tujuh bulan.

"Pernah memang saya mendapat perawatan di Rumah Sakit Tentara lewat bantuan partai Nasdem, saat itu sudah baikan tapi tidak lama kambuh lagi.

Sejak dari itu saya tidak berobat karena tidak uang" ucapnya saat diwawancarai terbaring di rumahnya.

Norman menceritakan pernah bekerja di bidang pemasaran jual beli tanah dan rumah.

Pernah juga dipercaya sebagai ketua PAC Partai Nasdem, Kecamatan Sitalasari.

Sejak sakit, semua sumber mata ekonomi mati.

Sebagai duda yang ditinggal mati istrinya lima tahun silam, Norman Saputra berusaha memperjuangkan kedua anaknya.

Dia tidak menyangka, masalah ini bisa saja muncul dari beban pikiran sejak ditinggal istrinya.

Norman Saputra mengaku bahwa hingga saat ini jenis penyakit yang menggorogoti tubuhnya belum diketahui. Tapi awalnya sesak.

Sesuai keterangan dokter, ia menderita TBC.

Hanya saja, diagnosa tersebut seolah belum dapat dia terima mengingat kondisi fisiknya dan juga tidak pernah batuk darah.

"Usai dari rumah sakit, saya sudah lumayan, naik berat badan. Tetapi sekarang drop lagi, khususnya sejak lebaran kemarin" jelasnya dengan nada pelan sembari sesekali batuk.

Norman mengakh sangat salut dengan perjuangan puteranya.

Ia mengaku sedih melihat Aria setiap hari sibuk mengurusinya.

Bahkan, harus memikirkan biaya hidup dan biaya kontrakan rumah Rp 2 juta per tahun.

Norman mengaku tidak berani lagi memaksakan diri pergi ke kamar mandi karena sudah dua kali jatuh.

"Kayak manalah mau ke kamar mandi tenaga sudah tidak ada lagi.

Paling parah sehabis lebaran.

Sebelum lebaran masih bisa jalan-jalan.

Sekarang saya hanya bisa terbaring saja, karena kalau jalan selalu sesak.

Dulu, kalau sesaknya hilang bisa jalan pelan-pelan.

Tapi sekarang total tidur aja,"pungkasnya.

(tmy/tribun-medan.com).

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved