Sempat Berjaya, Kini Sepatu Bunut Asahan Sepi Peminat
Pemasaran sepatu kulit khas Bunut ini tak seperti dulu. Sepatu Bunut kini dipasarkan hanya di lingkungan Kabupaten Asahan.
TRIBUN-MEDAN.com, KISARAN - Sepatu Bunut atau Bunut Shoes merupakan salah satu ikon Kabupaten Asahan.
Bunut merupakan nama kelurahan, tempat pusat kerajinan sepatu kulit berada, tepatnya di kawasan perlintasan Jalan Lintas Sumatera Utara, Batubara-Asahan, tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Asahan.
Sejarah keberadaan Sepatu Bunut atau Bunut Shoes, berawal ketika adanya pengusaha asing yang menanamkan modal untuk mendirikan pabrik sepatu sekitar tahun 1970-an.
Pabrik getah penghasil karet bernama Uni Royal, sekarang menjadi PT Bakrie Sumatera Plantantions (BSP) tbk, merupakan salah satu penyedia bahan dasar pembuatan tapak Sepatu Bunut atau Bunut Shoes. Sehingga tak heran, kala itu produk sepatu kulit khas Bunut sempat menembus pasar Amerika.
"Dulu karyawan pabrik Sepatu Bunut membuat sepatu, kulitnya impor dari Eropa, sedangkan tapaknya berasal dari pengelolaan karet di perkebunan. Dulu sepatu bunut ini di ekspor sampai ke luar negeri, khususnya Amerika," kata seorang pengrajin Sepatu Bunut hingga kini, bernama Zufri, Sabtu (14/9/2019).
Kini hal tersebut tinggal cerita, setelah pengusaha asing, selaku pemodal meninggalkan Kabupaten Asahan. Maka pabrik sepatu tersebut pun harus tutup dan seluruh karyawannya dirumahkan.
Kemudian pada tahun 1987, beberapa karyawan yang memiliki keterampilan berinisiatif membuka usaha rumahan dengan modal yang tidak besar. Dan beberapa pengrajin ada yang membuka usaha tersebut sampai turun temurun sampai hari ini.
"Setelah pabrik tutup, jadi ada pengalaman sedikit, ada modal, kita buka lah usaha rumahan. Pekerjanya merupakan karyawan yang pernah bekerja di pabrik Sepatu Bunut dulu," ucapnya.
Bila ketika pabrik masih berjalan, setiap pengrajin hanya bisa membuat dua model sepatu, yaitu pantofel dan pansus. Kini pengrajin sudah memiliki ketrampilan untuk membuat berbagai model sepatu kulit.
Menurut Zufri, keterampilan itu dimiliki setelah beberapa tahun lalu Pemkab Asahan memfasilitasi para pengrajin untuk magang, belajar membuat berbagai model sepatu ke Kota Bandung.
"Diajak sama pemda magang ke Bandung, belajar buat sepatu, termasuk model-model lainnya," ungkapnya.
Namun, pemasaran sepatu kulit khas Bunut ini tak seperti dulu. Sepatu Bunut kini dipasarkan hanya di lingkungan Kabupaten Asahan.
Terlebih produksi Sepatu Bunut yang dihasilkan pengrajin tidak sebanyak dulu.
Zufri mengaku setiap pengrajin yang bekerja di usaha rumahan hanya bisa memproduksi selusin sepatu per dua hari, dikarenakan tingkat kerumitannya lebih sulit dari pada membuat sandal.
"Kalau penjualan masih sekup, hanya di sekitar Asahan ini. Macam toko-toko di pinggir Jalinsum. Dari luar ada, tapi nggak banyak. Kalau produksi, karena rumit, per dua hari bisa selesaikan satu lusin pasang sepatu," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/seorang-konsumen-tengah-melihat-produk-sepatu-bunut-di-salah-satu-toko.jpg)