Dua Hari di Tobasa, Menteri Susi Mengomel soal Sampah Plastik, KJA hingga Kotoran Ternak Babi

Keberadaan Keramba Jaring Apung (KJA), sampah plastik hingga kotoran babi menjadi sorotan Susi dalam pidatonya saat kunjungan kerja.

Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Menteri Susi bersama anak-anak pinggiran Danau Toba melepas bibit ikan di Pantai Pare-parean, Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Minggu (15/5/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, TOBASA -Dua hari berada di Kabupaten Toba Samosir, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi tak henti-hentinya membahas persoalan kelestarian ekosistem Danau Toba.

Keberadaan Keramba Jaring Apung (KJA), sampah plastik hingga kotoran babi menjadi sorotan Susi dalam pidatonya saat kunjungan kerja di Pantai Pare-parean, Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Minggu (15/9/2019) Siang. 

Keramba Jaring Apung (KJA) yang sudah ada sejak puluhan tahun, diakui Susi turut mencemari. Oleh karenanya KJA harus dikurangi, supaya air di Danau Toba tidak kotor.

"Boleh (ada) tapi harus diukur, daya dukung Danau Toba ini berapa besar ? kalau terlalau banyak dan terlalu lama (sampai) tidak  ada jeda, maka kualitas air Danau Toba akan jelek," kata Susi sehari sebelumnya pada saat Karnaval Danau Toba di Balige, Sabtu (14/9/2019).

Susi juga menyinggung anggaran yang diterima oleh Pemkab Kawasan Danau Toba yang dinilainya berumlah besar. Bahkan, provinsi lain disebutnya cemburu

Karenanya, kata Susi agar Pemerintah Daerah Toba dan rakyatnya tidak menyia-nyiakan hal itu. Dia meminta agar warga mengawal anggaran tersebut. 

"Toba ini jadi daerah pariwisata, kalau provinsi lain cemburu wajar untuk Toba. Jangan disia-siakan, jangan tidak efektif. Anda harus mengawal anggaran ini dengan baik," anjurnya kepada warga Tobasa di hadapan Forkompimda. 

Dia menekankan agar kebiasaan membuang sampah plastik ke Danau Toba dihentikan oleh warga secara sadar. Minimnya kebersihan Danau Toba diingatkannya kepada warga akan menjadi perusak ekosistem danau hingga membuat ikan tidak baik.

Susi bahkan mencontohkan memakai alat peraga keranjang yang pemakaianya tidak sekali pakai. "Pakai keranjang yang bisa dipakai berkali-kali. Dulu tidak ada keresek,  kita bisa hidup kok,"sebutnya.

Susi menekankan agar sumber polusi air dijauhkan dari Danau Toba.  Demi mewujudkan kelestarian ikan endemik dan lainnya, Susi meminta Danau Toba harus direvitalisasi. 

 "Masyarakat harus bersih. Bukan tidak boleh ada industri, tapi pastikan peternakan babi, peternakan sapi, peternakan ikan atau apa pun itu tidak boleh kotorannya dibuang ke Danau Toba. Kalau anda mau jualan Danau Toba yah harus bersih Danau Toba,"pesannya.

Susi juga membeberkan, daya dukung Danau Toba untuk KJA sudah melampaui batas. Hal itu dibuktikannya dengan membandingkan berenang 15 tahun lalu dengan saat ini berbeda dan akan terkena gatal-gatal pada bagian tubuh. 

"15 tahun kita berenang ke Danau Toba masih tenang-tenang saja. Sekarang katanya kalau mau berenang ke Danau Toba jangan, karena airnya gatal-gatal. Saya dengar juga kematian-kematian ikan dari KJA sering terjadi. Itu tandanya daya dukung Danau Toba tidak baik lagi,"jelasnya. 

Susi juga menyoroti kelebihan produksi dan pakan KJA yang mengendap di Dasar Danau Toba. Dia menyebutkan, Hidrogen Sulfida yang tidak habis akan merusak ekosistem hingga membuat punah ikan endemik. KJA masyarakat dan PT Aquafarm menurutnya tidak boleh diistimewakan. 

"Pengurangan KJA harus berkeadilan. Korporasi dan masyarakat tidak boleh dibedakan. Baik itu KJA Aquafarm, Suritani Pamuka dan masyarakat harus sama, misalnya masyarakat sudah hilang separuh maka korporasi pun harus sama. Kalau budidaya tidak diatur, maka danau akan hancur,"cetusnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved