Ngopi Sore

Send In The Clowns: Bagaimana Seorang Bandit Lahir

Dalam kondisi-kondisi tertentu, dalam kemarahan dan kesedihan dan kesakitan yang sudah tak lagi tertahankan, Arthur lepas kendali.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
www.indiatoday.in
THE JOKER 

Padahal Arthur sudah lama belajar berkompromi. Belajar menerima berbagai kenyataan pahit.

Sedari bocah ia berulangkali dihadapkan pada kekerasan-kekerasan dan siksaan yang dilakukan oleh orang-orang sekitar.

Kawan sepermainan. Orang-orang yang lebih tua. Termasuk dari Sophie Dumond, ibunya. Arthur juga mengidap penyakit saraf.

Kompilasi siksaan fisik dan mental ini sedikit banyak mengganggu perkembangan jiwanya. Dalam kondisi-kondisi tertentu, dalam kemarahan dan kesedihan dan kesakitan yang sudah tak lagi tertahankan, Arthur lepas kendali. Dan ia akan tertawa seliar-liarnya, segila-gilanya.

Satu hari, satu momentum yang disangka Arthur akan mengubah hidupnya, justru memelantingkannya ke dalam kubang kemarahan, kesedihan, dan kesakitan, yang paripurna.

Seketika, cara pandang Arthur terhadap hidup dan kehidupan yang ia jalani berubah. Tidak ada lagi kesabaran. Tidak ada lagi kepasrahan.

Arthur sampai pada titik kesadaran betapa kesabaran dan kepasrahannya selama ini hanya menempatkannya pada posisi tertindas dan terhina.

Arthur Fleck alias Joker dalam satu scene film Joker yang dibintangi Joaquin Phoenix
Arthur Fleck alias Joker dalam satu scene film Joker yang dibintangi Joaquin Phoenix (Warner Bros/www.deseret.com)

Bahkan ironis, para penindas dan penghina ini justru datang dari dekat-dekat dia. Randall, rekannya sesama komika. Juga Murray Franklin, presenter acara komedi yang dipuja Arthur sebagai idola. Juga ibunya tentu saja.

Arthur pun secara sadar mengubah diri jadi represif. Tawanya subversif. Sikapnya berubah jadi teror. Dari sosok humoris yang menderita dan menyimpan nestapa, sosok yang tak pernah tega menyakiti orang lain, Arthur menjelma Joker dan jadi ancaman bagi siapapun.

Ia membekap ibunya dengan bantal sampai kehabisan nafas.

Ia menusuk mata Randall dengan gunting lantas menghantamkan kepalanya ke tembok. Arthur tertawa saat darah dari kepala Randall yang pecah muncrat membasahi wajah dan tubuhnya.

Ia menembak Murray Franklin. Tak tanggung, Arthur menembaknya dalam acara yang dipancarluaskan secara nasional.

Tiga orang tak dikenal yang mengeroyoknya di gerbong kereta api bawah tanah juga dihabisinya dengan membabi buta.

Begitulah seorang bandit lahir dari rahim konspirasi masyarakat yang sok moralis padahal brengsek.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved