Ngopi Sore
Wiranto Sang Public Enemy, Siapa Menikamnya?
Hampir semua pejabat di lingkaran terdekat Presiden Joko Widodo punya musuh. Namun musuh Wiranto terbilang yang paling banyak.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Pandeglang yang dingin, Kamis, 10 Oktober, berubah panas. Bukan cuaca, tentu saja. Pandeglang tetap semeriwing, tetap sejuk, tetapi jadi panas di media massa. Terutama media online. Juga media sosial. Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polhukam), Jenderal TNI (Purn) Wiranto, kena tikam di sana.
Tak banyak pejabat tinggi negara; orang-orang penting, diserang secara terbuka di muka publik di Indonesia. Tidak sampai hitungan jari kedua tangan. Selain Wiranto, tercatat nama Matori Abdul Djalil. Sebagaimana Wiranto, dia juga ditikam.
Kemudian pastinya ada Sukarno. Bahkan tidak sekali dua kali. Dalam beberapa buku tentang Sukarno disebut bahwa percobaan pembunuhan Si Bung Besar terjadi sebanyak tujuh kali. Versi Megawati Sukarnoputri lebih banyak lagi: 23 kali.
Serangan terhadap pejabat tinggi negara jelas bukan perkara yang bisa begitu saja diacuhkan. Sebab selalu ada sesuatu di baliknya. Ada motif besar. Anwar Sadat, Benazir Bhuto, Indira Gandhi, Yasser Arafat, John F Kennedy, dan masih banyak lagi. Atau sebutlah nama-nama Benigno Aquino Jr atau Martin Luther King Jr atau Oscar Romero. Atau Malcolm Little alias El-Hajj Malik El-Shabazz alias Malcom X. Atau yang selevel dengan Wiranto, Menteri Luar Negeri Swedia, Anna Lindh.
Memang selalu ada motif besar. Namun apakah motif serupa juga ada di belakang penikaman Wiranto di Pandeglang? Sejauh ini, walau pelaku langsung ditangkap di lokasi kejadian, belum ada titik terang. Persisnya, polisi belum mengungkap.
Namun berbagai opini sudah melesat-lesat. Terutama sekali di media sosial. Halaman-halaman Facebook, Twitter, Instagram, juga aplikasi berbasis percakapan seperti Line dan WhatsApp, riuh rendah dengan percakapan penikaman Wiranto. Berbagai telaah dan teori mengemuka. Termasuk yang menyebut peristiwa ini ini merupakan sebangsa rekayasa.
Apakah mungkin demikian? Mungkin saja. Apabila motif besar ada di belakang peristiwa, politik, misalnya, maka rekayasa apapun bisa dilakukan. Namun sampai di sini mencuat anomali. Sekiranya memang politik yang jadi tolok ukur, teori rekayasa justru janggal.
Wiranto seorang jenderal. Pernah menjabat Panglima TNI. Ia juga pendiri dan ketua partai. Pendeknya, politisi yang tingkat kelihaiannya sudah sungguh sangat aduhai. Rasa-rasanya tidak mungkin ia berakting, membiarkan dirinya ditikam senjata tajam.
Memang, jika Anda ingat, Wiranto pernah melakukan kekonyolan-kekonyolan dalam kampanyenya saat mencoba mencalonkan diri jadi presiden. Ia pernah menyamar jadi pedagang asongan. Pernah jadi kernet bus dan penarik becak.
Persoalannya, sekadar mengubah penampilan agar mirip tongkrongan pedagang asongan, kernet bus, atau penarik becak, tentu tidak dapat dibandingkan dengan membiarkan diri kena tikam, bukan?
Risikonya besar sekali. Iya kalau tikaman pisau tepat sasaran; menembus bagian tubuh yang tidak berbahaya. Bagaimana kalau meleset? Bagaimana kalau dalam pergumulan, yang katakanlah juga direkayasa, pisau tanpa sengaja melesak menembus jantung atau paru-paru? Bagaimana kalau menancap di leher?
Lagi pula, tikaman pisau, di manapun pasti meninggalkan perih yang tiada terperikan. Kena sayat silet saja sakit, apalagi ditikam pisau kunai shuriken, salah satu senjata rahasia ninja paling mematikan. Apakah Wiranto memang merencanakan semuanya dan mengambil risiko sedemikian besar? Saya, rasa-rasanya, kok, kurang percaya.
Saya lebih percaya beliau ditikam oleh pihak lain. Pihak-pihak yang memiliki pertentangan pandangan dan kepentingan dengan dia. Entah menyangkut politik, ideologi partai-partai, atau kebijakan yang diambilnya sebagai pejabat pemerintah. Siapa?
Polisi yang lebih berkompeten menjawab. Pelaku sudah ditangkap; sepasang suami istri, dan barangkali dalam beberapa jam ke depan jawabannya sudah diberikan.
Satu yang pasti, Wiranto adalah "public enemy". Hampir semua pejabat di lingkaran terdekat Presiden Joko Widodo punya musuh. Di antara mereka, musuh Wiranto terbilang yang paling banyak. Musuhnya bukan cuma datang dari kalangan politisi, tetapi juga dari kalangan "masyarakat biasa" yang memendam benci teramat sangat padanya.
Pernyataan-pernyataan Wiranto yang kontroversial; ngawur, konyol, seringkali menyakitkan hati orang-orang yang mendengarnya. Teranyar adalah soal pengungsi bencana gempa bumi.
Tidak terhitung banyaknya mahasiswa dan mantan mahasiswa yang tak menyukainya. Juga aktivis dan mantan aktivis. Bukan sebatas politik. Aktivis sosial, aktivis lingkungan hidup, juga menaruh ketidaksukaan kepadanya. 'Tak ada yang abadi, kecuali Wiranto', demikian anekdot satir yang mengemuka.
Belum lagi para pensiunan jenderal yang berseberangan kubu dengan dia. Baik yang memendam dendam lama saat masih sama-sama belum berstatus purnawirawan, maupun yang baru bermusuhan setelah pensiun. Beberapa waktu lalu, Wiranto menjadi sasaran pembunuhan yang disebut-sebut didalangi kolega lamanya di ketentaraan, Kivlan Zein.
Kelompok-kelompok radikal juga menaruh dendam kesumat padanya. Riwayat Wiranto dengan kelompok-kelompok ini berkelindan nyaris sempurna.
Sejumlah kalangan menudingnya terlibat dalam. Bukan hanya "dekat", melainkan juga turut berperan melahirkan, membesarkan, dan memelihara. kelompok-kelompok ini, setelah "tidak terpakai", lantas dibunuh. Sisa-sisa sel, memberontak. Balik melawan.
Hanya saja, sampai sekarang, tudingan-tudingan ini tidak pernah bisa dibuktikan. Berhenti pada sekadar cerita, yang makin ke sini, lantaran makin tiada jelas juntrungannya, mulai mengerucut jadi mitos.
Begitu pun, apa yang menyeruak di media sosial, saya kira tidak baik juga. Perut Wiranto dirobek pisau ninja dan banyak yang mensyukurinya. Malah tidak sedikit yang bilang, dengan nada menyayangkan, kenapa cuma sebegitu. Kenapa sekadar luka.
Alangkah menyedihkan. Indonesia adalah negara bagi orang-orang beragama, dan saya kira, tidak ada agama yang mengajarkan sumpah serapah pada umatnya. Tak ada agama yang menganjurkan umatnya mengutuk. Tak terkecuali pada orang yang dibenci.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/wiranto3.jpg)