Ekowisata Mangrove menjadi Nafas Perekonomian Belawansicanang

Dampak faktor ekonomi yang diberikan Hutan mangrove ini, seperti hasil Hutan mangrove yang bisa dikelolah sebagai makanan, semacam kerupuk jeruju.

Tayang:
Tribun Medan/Akhyar Giantoro
POKDARWIS lagi pelatihan cara pemandu wisata yang dibimbing oleh YAGASU di Sekolah Alam Ekowisata Mangrove di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Minggu (27/10/2019). 

Kemudian, Rusmiono juga berpesan agar semua instansi pemerintahan dan masyarakat luas agar mendukung mengelolah Hutan Mangrove. Karena Hutan Mangrove sangat penting bagi kehidupan manusia. Selanjutnya, Rusmiono juga berharap agar dapat bantuan dari pemerintah atau segala instansi pemerinta untuk memperluas kawasan tracking sekitar 1 Km.

Selanjutnya, dalam hal ini juga Reseach and Field Monitoring Manager YAGASU, Grace Panjaitan, menyatakan peran YAGASU selalu tetap komitmen untuk membantu atau memfasilitasi POKDARWIS Belawansicanang. Baik itu untuk mengembangkan kapasitas POKDARWIS, sumber daya manusianya secara lebih baik lagi, karena POKDARWIS merupakan pengelolah Ekowisata Mengrove sebenarnya.

Kemudian, YAGASU juga tetap berkomitmet menyediakan program-program pendampingan masyarakat. Salah satunya pelatihan pemandu wisata di Sekolah Alam, hal ini dilakukan agar masyarakat atau POKDARWIS mampu menjadi pemandu wisata yang baik, siap menyambut tamu dan siap untuk memberikan informasih terkait seputaran Mangrove.

“Hal ini dilakukan karena banyak sekali informasi tentang Mangrove yang sangat bagus yang bisa mereka sampaikan kepada masyarakat atau pengunjung Ekowisata Mangrove ini. Baik itu manfaatnya atau secara kegunaannya secara fisik, secara ekologi lingkungan yang mampu menahan desa mereka dari gelombang laut dan juga angin topan serta acaman abrasi” ucapnya.

Grace juga menjelaskan bahwa Ekowisata Mangrove ini YAGASU dengan POKDARWIS sudah mulai dari tahun 2013. Baik itu kegiatan memfasilitasi POKDARWIS atau masyarakata Balawansicanang secara umumnya dalam membuat tata ruang, kemudian dari tata ruang tersebut memiliki potensi Hutan Mangrove.

“Nah memfasilitasi membuat tata ruang yang memiliki potensi hutan mangrove sesuai kata Ketua POKDARWIS, ada sekitar kurang lebih 895 Hektar. Kemudian dari DPM yang 895 Hektar mereka sepakati untuk memisahkan ynag 178 Hakter menjadi Daerha Perlindungan Mangrove Berbasis Masyarakat, itu lah lokasi wisata saat ini,” tuturnya.

Akan tetapi ketika YAGASU sudah memberikan zonasi yang lain, dan ditidurkan atau tidak produktif maka tidak ada manfaatnya. Maka dari itu, kawasan ekowisata ini YAGASU mau ada peningkatan ekonomi masyarakat. Hal ini tentunya merupakan peningkatan ekonomi yang berkelanjutan.

Kemudian, Grace menambahkan bahwa YAGASU terus melakukan upaya dan tidak berhenti dalam pengembangan Ekowisata Mangrove saja. Melainkan, melengkapi rencana kedepan dan memfasilitasi untuk prodak ekonomi yang berbasis Mangrove.

“Prodak ekonomi dari mangrove itu contohnya, pengambangan kue-kue dari Mangrove, Pengembangan keripik dari Mangrove yang dari daun jeruju, kemudian pewarnaan alami untuk batik,” ucapnya.

Selanjutnya, hal ini juga menjadi kotmitmen bersama. Bahkan YAGASU akan bekerja sama dengan aktor atau pelaku pariwisata lain. Supaya Ekowisata Mangrove menjadi destinasi wisata yang saling berkaitan dengan destinasi wisata lainnya. Lalu tidak hanya mengegokan destinasi wisata Belawansicangan, tetapi dari wisata Belawansicanang bisa ditransfer para wisatawan dari manca negar maupun lokal ke tempat detinasi wisata lain.

“Jadi harapannya semua, ekonomi masyarakat pesisir ini yang memiliki lokasi ekowisata ataupun potensi  dan ini menjadi suatu koneki, serta daerah ini menjadi suatu field projek,” katanya.

Grace juga menjelaskan bahwa dari pihak YAGASU akan membuat devisi khusus yang bernama devisi khusus pengembangan usahan. Namun di devisi tersebut terdpat tiga yaitu batik, ekowisata dan perikanan. Rencana ini YAGASU akan menempatkan kurang lebih tiga orang dari pihak YAGASU secara intens.

“dari tiga orang devisi khusus YAGASU ini tidak hanya bekerja sendiri tetapi dia akan terkoneksi bidang usaha di atasnya. Jadi harapanya ada yang konsen, benar –benar memperhatikan apa kebutuhan, bagaimana proges manajeman kelompok. Karena input dari mereka la yang kami terima untuk menyusun program kemudian, apakah masih perlukah pelatihan A atau B” ucapanya.

Dalam hal ini juga Grace mecenterikan setelah diresmikan sebagai Ekowisata Mangrove Belawansicanang, YAGASU tidak ingin melangkahi masyarakat Belawansiacanang. Namun pihak YAGASU ingin masyarakat terlibat langsung, agara masyarakat tersebut sadar potensi yang ada di desa mereka.

“Jadi dari mereka kami tanya dahulu, jangan kami yang membawa program. Tetapi kami mempertanyakan mereka sadarkah desanya memliki potensi, kemudian dari potensi itu kami list, lalu dari list tersbut kami kasih arahan untuk potensi mana yang bisa dikembangkan, dan mendapatkan hasil komitmen bersama baru kembangkan bersama. Hanya itu yang bisa kami lakukan sepanjang kami diterima di kalangan masyaraka Belawansicanang,” tuturnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved