Sanghadana Kathinakala Sagin 2019, Penuh Momen Berharga Perjalanan Sangha
Perayaan Sanghadana Kathinakala Sangha Agung Indonesia (SAGIN) tahun 2019 ini memberi makna tersendiri bagi Umat Buddhayana di Sumatera Utara.
MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Perayaan Sanghadana Kathinakala Sangha Agung Indonesia (SAGIN) tahun 2019 ini memberi makna tersendiri bagi Umat Buddhayana di Sumatera Utara. Perayaan tahun ini bertepatan dengan 20 masa vassa Y.M. Bhante Punnajato dan Y.M Bhante Thiradhammo.
Tentunya, masa 20 tahun menjalani praktik sebagai seorang samana, merupakan suatu kurun waktu yang tak boleh dipandang pendek untuk sebuah proses latih diri, yang tentunya penuh dengan tantangan dengan pahit manis getirnya perjalanan dan berbuah teladan bagi yang berhasil melampaui semua hal tersebut.
Dan yang terasa istimewa adalah Y.M Bhante Punnajato Mahathera merupakan Putera Suku Karo pertama di Indonesia yang berhasil melewati 20 masa Vassa atau juga bisa kita sebut Mahathera. Keberhasilan beliau menjadi tandamata sumbangsih suku Karo pada perkembangan Agama Buddha di Indonesia khususnya Sumatera Utara.
Bhante Punnajato Mahathera dilahirkan dengan nama Kurnia Bangun, di daerah Batukarang, di Kecamatan Payung, Tanah Karo, Sumatera Utara, 22 November 1956, dari pasangan Ajaren Bangun (Ayah, sudah almarhum) dan Ukurmin Br Sembiring (Ibu, juga sudah almarhumah).
Secara geografis, daerah Batu Karang, tempat kelahiran beliau berada di bagian Selatan Gunung Sinabung, di mana sebagian besar kawasan itu merupakan hamparan persawahan, sehingga hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai petani.
Berasal dari keluarga non Buddhis, Kurnia Bangun merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara karena memang di tanah kelahiran beliau tak ada yang beragama Buddha. Ayahnya merupakan seorang Nasrani, sedangkan ibu pada masa itu masih belum mengenal agama, boleh dikatakan penganut kepercayaan lokal. Saudara perempuan beliau, yang merupakan kakak tertua, setelah menikah, memilih beragama Islam, demikian juga abang beliau juga seorang muslim.
Setelah gagal membina berumah tangga, pada tahun 1996 Kurnia Bangun berusaha mencari aktivitas lain merantau ke Medan. Sesampai di Ibukota Sumatera Utara ini, Kurnia berkunjung ke rumah kerabat dekat ibunya di Medan, yang bernama Sedia Sembiring (alm) yang merupakan staf dari Pembimas Buddha masa itu, Bapak Arifin Anwar.
Pak Sedia Sembiring lah menyarankan beliau untuk dapat melatih diri sebagai Samanera. Maka setelahnya, Pak Sedia Sembiring mengajak Kurnia Bangun untuk berangkat menuju Wihara Borobudur berjumpa dengan Bhante Jinadhammo Mahathera.
Tanpa basa-basi, Pariban beliau langsung mengatakan kepada Bhante bahwa saudaranya dari kampung sudah yatim piatu, dan berminat menjadi samanera.
Ternyata jawaban Bhante Jinadhammo lebih mengagetkan karena menolak menerima dirinya sebagai samanera, namun demikian, saat itu Bhante Jinadhammo men-Trisarana Kurnia Bangun di wihara Borobudur. Pada tanggal 05 November 1996, tepat jam 11.00, resmilah Kurnia Bangun memeluk agama Buddha, dengan nama Buddhis Virasati.
Setelah visudhi, Bhante Jinadhammo mengatakan jika berminat menjadi samanera, meminta Kurnia Bangun untuk bekerja di Pekanbaru dulu selama 1 tahun. Dengan didampingi Bhante Jinadhammo, Kurnia Bangun berangkat ke Pekanbaru.
Tiba di sana, ia dibawa ke Cetiya Tri Ratna, terletak di belakang Wihara Dharmaloka dan diperkenalkan kepada pemilik Cetiya dan memulai kerja untuk merawat cetiya tersebut, Bhante Jinadhammo juga mengingatkan untuk tetap rajin mempelajari buku-buku Buddhis yang tersedia di sana. Kurnia Bangun bekerja selama kurang lebih setahun, mulai dari tahun 1996 sampai tahun 1997.
Karena rajin, Kurnia cukup disayangi oleh majikannya. Bahkan putera majikannya yang memiliki toko, memintanya juga untuk membantunya di toko. Pada saat itu, kehidupan Kurnia cukup nyaman ditambah lagi majikan tak pelit memberikan uang saku tambahan untuknya. Namun pikirannya masih teringat akan janji keinginannya kepada Bhante Jinadhammo untuk menjadi samanera.
Maka pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 1998, jam 05.00, Kurnia Bangun dicukur rambutnya menjadi seorang samanera dengan masih menyandang nama saat di-visudhi Trisarana: Virasati. Samanera Virasati pada masa awal pelatihannya banyak dibimbing oleh Yang Mulia Biku Suhadayo Nyanavardhana dan Biku Kampiro, yang juga berdiam di Wihara Borobudur.
Setelah menjalani pelatihan sebagai samanera, maka dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 06 Mei 2000, bertempat di Wat Boworanives Vihara, Bangkok, Thailand, Samanera Virasati di-upasampada menjadi seorang biku, oleh Y.M.Biku Punnagamo Mahathera (Upajjhaya) dan Y.M. Biku Vin Vijano Mahathera (Guru Pembimbing), dan diberi nama Punnajato.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/perayaan-sanghadana-kathinakala-sangha-agung-indonesia-sagin.jpg)