Erna Guru Mengaji yang Sebatangkara, Bergantung Air Hujan untuk Memasak
Erna (83), warga Gang Jawa Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal, hidup sebatang kara selama belasan tahun, tanpa sanak saudara.
"Saya menampung air hujan, airnya bersih kok. Dulu ada sumur, sekarang tak ada lagi," ungkapnya.
Erna bersyukur, beberapa waktu lalu ada orang baik yang memperbaiki rumahnya. Namun, setelah sekian lama, atap rumahnya telah bocor, karena diambil orang yang tak dikenal.
"Kata tetanggaku, seng di atas rumahku ini ada yang ambil, saya tak tahu," ucapnya.
Sehari-hari, wanita lanjut usia berdarah Jawa ini memasak menggunakan kayu bakar.
"Aku tak menggunakan kompor, kalau aku memasak air memakai kayu bakar. Anak-anak di luar itu aku suruh membelah kayu," jelasnya.
Ironis, Erna sama sekali tak memiliki kartu jaminan sosial. Ia mengaku kerap membayar sendiri, bila penyakitnya kambuh di rumah sakit.
"Allah itu tidak tidur. Allah selalu ada, terkadang saya berdoa agar ada bantuan bila aku sakit,alhamdulillah orang datang membantu," jelasnya.
Sementara itu, sang tetangga Martina Tanjung mengatakan, nenek Erna telah tinggal puluhan tahun. Martina mengatakan, terkadang ia menyempatkan untuk memberikan sedikit makanan kepada Erna.
"Kadang saya berteriak dari rumah saya, nek, udah makan apa belum? Lagi puasa katanya," ujar Martina.
Martina mengungkapkan, beberapa waktu lalu, Nenek Erna mengeluhkan skit yang dideritanya.
"Kami bersawa wraga lain membawanya ke rumah sakit, di sana membayar tidak gratis," jelasnya.
Di lain pihak, aktivis kemanusiaan yang juga Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera menjelaskan, dirinya telah melaporkan kondisi Erna ke Dinas Sosial.
"Saya meminta Nenek Erna untuk didata, agar masuk ke database penerima bantuan minggu lalu. Mereka (Dinsos) mengatakan, nek Erna akan didata tahun depan alias 2020," pungkasnya. (gov/tribun-medan.com)