Ini Dua Pemain Calon 'Tsubasa dan Hyuga' Timnas Indonesia pada Masa Depan

Sepak terjang Rafli dan Nico sempat dibahas secara khusus oleh Timo Scheunemann.

Garuda Select II
Alfriyanto Nico (menunjukan jempol) bersama Bagus Kahfi saat turun bersama dalam sebuah laga yang dijalani tim Garuda Select. 

"No doubt, bakat Rafli besar. Saya sendiri melihat kemiripan cara bermain antara Rafli dan Firman Utina. Namun, sama seperti pemain-pemain lainya, bakat Rafli harus terus diasah karena masih memiliki banyak kekurangan," tutur Timo yang dikutip dari laman programgarudaselect.

"Pemain berkelas dilahirkan sekaligus diciptakan. Bakat alam harus dipoles kalau menginginkan hasil akhir yang memuaskan bak permata," lanjut Timo.

Kendati memiliki skill yang bagus, Timo menyebut Rafli harus menjadi lebih kuat dan berani secara fisik.

Oleh karena itu, selama tiga kali dalam seminggu, ia dan anak-anak lainny mengikuti sesi gym bersama pelatih fisik, Jake Simons.

Selain itu, sebagai pembagi bola, Rafli harus belajar membuat keputusan dengan tepat dan mengeksekusinya dengan precise, di antaranya mengeksekusi umpan yang benar, termasuk bagaimana berlari dengan arah yang benar saat menjemput bola di belakang.

"Harapan kita semua, Rafli dan anak-anak berbakat lainnya yang tergabung dalam program Garuda Select ini terus bersemangat mengasah kemampuan mereka, sehingga pada akhirnya permata tercipta," ucap Timo.

Alfriyanto Nico (menunjukan jempol) bersama Bagus Kahfi saat turun bersama dalam sebuah laga yang dijalani tim Garuda Select.
Alfriyanto Nico (menunjukan jempol) bersama Bagus Kahfi saat turun bersama dalam sebuah laga yang dijalani tim Garuda Select.(Garuda Select II)

Sementara itu, mengenai Nico, Timo menilai remaja asal Solo itu dipilih tim seleksi Garuda Select karena memiliki potensi.

Tak cuma memiliki skill dan kecepatan, Nico juga dinilai sebagai petarung yang punya mental kuat dan tidak cengeng.

"Saya melihat Nico pemain yang cukup spesial. Ia striker tipe pekerja keras yang punya kecepatan, skill lumayan, dan kekuatan otot. Ini jarang ditemui di Indonesia," ucap Timo.

Seperti halnya Rafli, Timo tak memiliki keraguan mengenai potensi besar yang dimiliki Nico.

Tetapi, seperti para pemain lain, pemain tim U-16 Persija Jakarta itu juga dinilai masih harus berkembang dan banyak belajar.

Di bawah arahan Des Walker, Nico belajar untuk berani berduel dan tidak gampang jatuh dan tidak menunjukkan rasa sakit pada lawan.

Nico juga diminta untuk tidak banyak menggiring bola, tapi cukup melakukan 1-2 sentuhan saja.

Dengan sentuhan pertama, bola dikontrol dengan baik. Dengan demikian, umpan yang diberikan ke rekan setim pada sentuhan berikutnya memiliki kans yang lebih besar untuk sampai ke tujuan dengan baik.

Selain itu, keuntungan dua sentuhan dibandingkan dengan satu sentuhan adalah situasi permainan akan berubah dalam hitungan sepersekian detik, sehingga akan ada opsi lain yang bisa dipilih.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved