Ternak Babi Mati karena Virus di Dairi Sudah Tembus 12 Ribu

Data terbaru dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Dairi, terlaporkan jumlah ternak babi masyarakat mati sakit karena virus sudah mencapai

Ternak Babi Mati karena Virus di Dairi Sudah Tembus 12 Ribu
TRIBUN MEDAN/DOHU LASE
Seorang peternak babi di Siempat Nempu Hulu, Kabupaten Dairi, mengamati babinya yang terbujur lesu di lantai kandang, karena telah terpapar wabah demam babi, Oktober 2019 silam. 

Ternak Babi Mati karena Virus di Dairi Sudah Tembus 12 Ribu

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dohu Lase

TRIBUN-MEDAN.COM, DAIRI - Wabah demam babi masih terus merebak di Kabupaten Dairi.

Data terbaru dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Dairi, terlaporkan jumlah ternak babi masyarakat mati sakit karena virus sudah mencapai 12.668 ekor.

"Itu data per 30 Desember 2019. Ternak babi mati terbanyak ada di Sidikalang, dengan jumlah 3.035 ekor," kata Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian Dairi, John Manurung, Selasa (14/1/2020).

John mengatakan, wabah yang membunuh babi di Dairi diduga kuat virus African Swine Fever atau demam babi Afrika.

"Babi, kalau sudah terpapar virus ASF, 100 persen pasti mati. Wabah ini belum ditemukan penawarnya, sehingga kami dari Bidang Peternakan tidak bisa berbuat banyak. Hanya sosialisasi dan gencarkan disinfeksi, agar wabah ini tak meluas. Sudah begitu pun, tetap saja jumlah babi mati di Dairi meningkat," kata John.

Disinggung soal wacana Gubernur Sumut tentang pemusnahan hewan babi, John menilai hal itu bisa saja diterima peternak babi di Dairi asal ada ganti rugi.

"Saya pikir, masyarakat tak akan mau ternak babinya yang masih hidup dimusnahkan tanpa ganti rugi. Pasti bakal ada penolakan, jadi masalah baru lagi," katanya.

Sementara itu, Bangsa Barus, seorang peternak babi asal Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi mengatakan, tak setuju dengan wacana pemusnahan hewan babi.

"Ternak babi peliharaan saya saat ini ada 14 ekor. Belum ada yang mati sakit. Wacana pemusnahan babi itu, saya tidak setuju. Berapa pun ganti rugi diberikan, saya tetap menolak," kata Barus.

Menurutnya, babi merupakan hewan yang selalu dipakai untuk acara-acara adat Suku Batak beragama Kristen di Dairi.

Jika dimusnahkan, maka akan ada masa di mana mendapatkan babi begitu sulit. (cr16/tribun-medan.com)

Penulis: Dohu Lase
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved