TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan

Di Kota Medan juga telah terdata sejumlah warga yang menganut agama Bahá'í.

TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan
Tribun-Medan.com/Aqmarul Akhyar
Irham Hadi Purnama, warga Medan yang menganut agama Baha’i 

Dalam catatan sejarah yang diceritakan oleh Irham, Agama Baha’i merupakan agama yang lahir di Persia (Iran). Agama ini kemudian tersebar luas ke negara-negara lainnya di dunia.

Menurut sepengetahuan Irham, awal mulanya Agama Baha’i masuk ke Indonesia karena datangnya orang Iran yang menganut Agama Baha’i untuk bekerja sebagai tenaga medis atau sebagai dokter. Lambat laun, Agama Baha’i pun berkembang di Indonesia.

Ia juga mengatakan banyak generasi penganut Agama Bahai yang datang ke Indonesia, ada yang ke Jawa, Bali, Denpasar dan ini terjadi dari kurang lebih sebelum tahun 1965.

Sepanjang sepengetahuan Irham, mereka datang karena di Indonesia lagi membutuhkan tenaga dokter atau medis. Lalu, tersebarlah Agama Baha’i.

Selanjutnya, inilah sejarah ringkas Agama Baha’i dalam buku Agama Baha’i .

Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Baha’i adalah Bah’a’ulláh, yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Umat Baha’i berkeyakinan bahwa agama harus menjadi sumber perdamaian dan keselarasan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun dunia. Umat Baha’i telah dikenal sebagai sahabat bagi para penganut semua agama, karena melaksanakan keyakinan ini secara aktif. Ajaran-ajaran Agama Bahá’í antara lain adalah keyakinan pada keesaan Tuhan, kebebasan beragama, kesatuan dalam keanekaragaman, serta menjalani kehidupan yang murni dan suci.

Selain itu, Agama Baha’i juga mengajarkan peningkatan kehidupan rohani, ekonomi, dan sosial- budaya, mewajibkan pendidikan bagi semua anak, menunjukkan kesetiaan pada pemerintah, serta menggunakan musyawarah sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Ajaran-ajaran tersebut ditujukan untuk kesatuan umat manusia demi terciptanya perdamaian dunia.

Bah’a’ulláh (yang berarti Kemuliaan Tuhan) adalah Pembawa Wahyu Agama Baha’i. Pada tahun 1863, Ia mengumumkan misi-Nya untuk menciptakan kesatuan umat manusia serta mewujudkan keselarasan di antara agama-agama. Dalam perjalanan-Nya di sebagian besar kerajaan Turki, Bah’a’ulláh banyak menulis wahyu yang diterima-Nya dan menjelaskan secara luas tentang keesaan Tuhan, kesatuan agama serta kesatuan umat manusia.

Walaupun Bah’a’ulláh dijatuhi hukuman karena ajaran agama-Nya, sebagaimana juga dialami oleh para Utusan Tuhan yang lainnya, namun Bahá’u’lláh terus mengumumkan bahwa umat manusia kini berada pada ambang pintu zaman baru, zaman kedewasaan.

Halaman
1234
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved