TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan

Di Kota Medan juga telah terdata sejumlah warga yang menganut agama Bahá'í.

TRIBUN-WIKI-MEDAN: Eksistensi Agama Baha’i di Kota Medan
Tribun-Medan.com/Aqmarul Akhyar
Irham Hadi Purnama, warga Medan yang menganut agama Baha’i 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sekarang terbuka kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat seluruh bumi dengan semua bangsanya yang beranekaragam, dalam satu perspektif.

Bah’a’ulláh mengajarkan bahwa semua agama berasal dari Tuhan dan mereka saling mengisi serta melengkapi. Semua Utusan Tuhan mengajarkan keesaan Tuhan dan mewujudkan cinta Tuhan dalam kalbu-kalbu para hamba-Nya. Mereka telah mendidik umat manusia secara berkesinambungan ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi dalam perkembangan jasmani dan rohani.

Bah’a’ulláh bersabda bahwa kini saatnya telah tiba bagi setiap bangsa di dunia untuk menjadi anggota dari satu keluarga besar umat manusia. Selanjutnya, Ia juga mengajarkan bahwa saatnya telah tiba untuk mewujudkan kesatuan umat manusia serta mendirikan suatu masyarakat sedunia.

Dalam Surat wasiat-Nya, Bah’a’ulláh menunjuk putra sulung-Nya, ‘Abdu’l-Bah’a, sebagai suri Teladan Agama Baha’í, Penafsir yang sah atas Tulisan Suci-Nya, serta Pemimpin Agama Baha’í setelah Bah’a’ulláh wafat. Bah’a’ulláh wafat pada tahun 1892 di Bahji yang berada di Tanah Suci.

Pada tahun 1911-1913, ‘Abdu’l-Bah’a melakukan perjalanan ke Mesir, Eropa, dan Amerika. Dia mengumumkan misi Bah’a’ulláh mengenai perdamaian dan keadilan sosial kepada umat semua agama, berbagai organisasi pendukung perdamaian, para pengajar di universitas-universitas, para wartawan, pejabat pemerintah, serta khalayak umum lainnya.

‘Abdu’l-Bah’a, yang wafat pada tahun 1921, dalam surat wasiatnya menunjuk cucu tertuanya, Shoghi Effendi Rabbani, sebagai Wali Agama Bahá’í dan Penafsir ajaran agama ini. Hingga wafatnya pada tahun 1957, Shoghi Effendi menerjemahkan banyak Tulisan Suci Bahá’u’lláh dan ‘Abdu’l-Bah’a ke dalam Bahasa Inggris dan menjelaskan makna dari Tulisan-tulisan suci. Dia juga membantu didirikannya lembaga-lembaga masyarakat Bahá’í yang berdasarkan pada ajaran Baha’í di seluruh penjuru dunia.

‘Abdu’l-Bahá dan Shoghi Effendi dengan setia telah menuntun Agama Bahá’í sesuai dengan ajaran-ajaran Bah’a’ulláh dan memelihara kesatuan umat Baha’í sehingga tidak akan ada sekte ataupun aliran di dalam Agama Baha’í. Setelah Shoghi Effendi, sesuai dengan amanat dari Bah’a’ulláh, umat Baha’í dibimbing oleh lembaga internasional yang bernama Balai Keadilan Sedunia.

Tentang Umat Bah’ai di Kota Medan

Menurut cerita dari Irham, umat Baha’i di Kota Medan ada sekitar kurang lebih 100 orang. Kemudian, setiap bulan sekali pada hari ke 19 Umat Baha’i Kota Medan, melakukan pertemuan. Dalam pertemuan ini, mereka membahas tentang Agama yang dianutnya. Selain itu, di dalam pertemuan ini umat Agama Baha’i bermusyawarah terkait sosial.

“Perayaan 19 hari, Jadi disitulah bermusyawarah. Jadi apabila kami membayangkan sebuah kampung, disetiap pertemuan dan musyawarah hari ke 19 ini lah kami memikirkan siapa yang tak bisa sekolah, bagaimana jembatan itu, terus kami melakukan iuran untuk membantu semama manusia dan lebih memikirkan kemanusiaan atau kegiatan sosial,” ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved