Sekolah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Terapkan Subsidi Silang Sejak Lama
Melalui program anak asuh, SMP Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan Sunggal berupaya memberikan kesempatan bagi masyarakat kurang mampu.
Penulis: Satia |
TRIBUN-MEDAN.com-Melalui program anak asuh, SMP Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan Sunggal berupaya memberikan kesempatan bagi masyarakat yang tidak mampu untuk sekolah.
Kepala sekolah SMP Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan Sunggal, Dra. Listiani, M.Pd mengatakan pihaknya menyediakan program anak asuh, sehingga uang sekolah memiliki tiga tingkatan, yakni siswa yang membayar penuh, siswa yang pengurangan dan siswa yang sama sekali tidak bayar.
"Kalau anak asuh itu sama sekali tidak bayar uang sekolah biasanya mereka ada tim, ada koordinasi anak asuh yang mengerjakan itu artinya mereka mendaftar, kemudian disurvei rumahnya, ikut ujian tertulis, ada ujian wawancara setelah itu dinyatakan mereka lulus, kalau mereka lulus berarti mereka tidak membayar uang sekolah," jelasnya.
Ia mengatakan setelah itu para anak asuh dibimbing setiap bulan oleh koordinatornya, dan diberi pengarahan. Pada umumnya anak asuh adalah anak anak yang kurang mampu, anak yatim, anak yatim piatu, dan fakir miskin.
"Bisa juga ketika disurvei teryata rumahnya layak dan enggak tergolong tidak mampu, jadi mungkin dia enggak lulus karena dilihat mampu, karena program anak asuh ini untuk anak anak yang tidak mampu tapi mempunyai minat belajar yang bagus dan mau sekolah," ungkapnya.
Kata Listiani, peserta anak-anak asuh yang telah daftar, dan dinyatakan tidak lulus maka pihaknya akan menawarkan pada peserta tersebut akan diberi pengurangan uang sekolah sesuai dengan tingkat ekonominya.
"Apakah memang mau sekolah disini? Kalau memang mau sekolah disini kita kasih pengurangan, siswa mampu bayar berapa. Ya sudah bila mampu bayar Rp 100 ribu ya bayar Rp 100 ribu, tapi kalau ekonomi siswa itu mampu maka kita juga sarankan tidak boleh pengurangan dan tidak boleh menjadi anak asuh. Jadi istilahnya subsidi silang, anak anak yang bayar uang sekolah itu yang membantu orang orang yang tadinya anak asuh, jadi artinya mereka tahu dan yang bayar penuh itu enggak protes," ungkapnya.
Diakuinya, pada saat di kelas pun sekolah ini tidak membedakan anak anak asuh dengan anak anak yang membayar uang sekolah secara penuh. "Jadi semua murid sama, artinya kalau mau masuk itu enggak tahu itu mana anak asuh dan mana yang enggak karena semua kelas sama dan tidak ada yang dibedakan," tambahnya.
Ia mengatakan di dalam pelayanan mendidik siswa juga tidak dibedakan antara yang bayar uang sekolah penuh dan anak asuh sebab seluruh fasilitas sekolah dipergunakan secara bersama sama.
"Sekolah negeri mungkin mereka enggak bisa, tapi pada umumnya yang masuk ke SMP ini biasanya sebelum testing ke negeri kita sudah adakan testing. Kita juga selalu mengadakan bakti sosial untuk memberikan bantuan kepada anak anak yang kurang mampu," ucapnya. (nat/tribun-medan.com)