Mengenal Lebih Dekat Grup Naga Barongsai Vipama Tandam Deliserdang
Grup Naga Barongsai ini sudah lama berdiri di Vihara Pahala Maitreya Tandam, bahkan tiga kali berganti nama, kepengurusan dan kepelatihan.
TRIBUN-MEDAN.com – Hari Imlek di Kota Medan tak terlepas dari tradisi seni Tionghoanya, yaitu pertunjukan seni Barongsai. Biasanya pertunjukan seni Barongsai sering dilihat di viahara-viahara yang ada di Kota Medan.
Bahkan, sebagian masyarakat Medan menunggu-nunggu pertunjukan seni Barongsai, baik di vihara maupun di tempat-tempat pusat perbelanjaan di Kota Medan, Sabtu (25/1/2020).
Ternyata, pelaku-pelaku seni pertunjukan Barongsai di Kota Medan ini, terdiri dari berbagai grup atau komunitasnya tersendiri. Salah satu grup terkenal di kalangan sebagian masyarakat Tionghao Medan, yaitu Grup Naga Barongsai Vipama Tandam, yang terletak Gedung Garuda Mas, Jalan A Kadir/Pasar V Tionghua, Nomor 295 Tandam Hulu II, Kabupaten Deli Serdang.
Grup Naga Barongsai ini sudah lama berdiri di Vihara Pahala Maitreya Tandam, bahkan tiga kali berganti nama, kepengurusan dan kepelatihan. Saat ini Grup Naga Barongsai merupakan generasi ketiga yang aktif kembali dan di bawah asauhan pelatih yang handal yaitu Chandra.
Grup di bawah asuhan Chandra ini, baru saja aktif pada 21 Juni 2009. Akan tetapi, selang dua tahun berdiri Grup Naga Barongsai Vipama Tandam, sudah menjuarai peringkat kempat kejuaraan Barongsai di Kuala Kedah di Maslaysia. Kemudian, di akhir-akhir ini juga prestasi Grup Naga Barongsai Vipama Tandam menjuarai peringkat ketiga di kejuaraan Piala Mitsu Sumatera Utara.
Grup Naga Barongsai Vipama Tandam ini berpusat latihan di Vihara Pahala Maitreya Tandam. Dengan jadwal latihan untuk di weekday dari Senin sampai hari Jumat, tetapi menjelang hari Imlek grup ini setiap hari melakukan latihan selama satu hari dua kali latihan. Jadwalnya latihan tersebut dengan dua tahap, tahap pertama dari pukul 16.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB.
Lalu, pada tahap kedua dilakukan pada pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Hal ini dilakukan karena untuk melahirkan generasi baru, agar bisa berkompetisi di kenjuaran Barongsai maupun Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Dari penjelasan Chandra, Barongsai saat ini tidak hanya sekedar dari seni tradisi Tionghoa. Melainkan, sudah diperlombakan oleh Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) yang menaungi kesenian Barongsai telah diakui oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia KONI. Jadi, sekarang pemain Barongsai bisa disebut sebagai Atlet Barongsai.
Oleh karena itu, saat ini Grup Naga Barongsai Vipama Tandam lagi merintis untuk berbaur kepada masyarakat luas dalam perekrutan anggota Barongsai. Karena menurutnya selama ini sebagian masyarakat Medan, masih menganggap Barongsai merupakan tradisi kesenian Tionghoa. Pada hal, Chandra menjelaska bahwa suku dan agama apapun boleh bermain Barongsai sebab sudah menjadi bagian dari KONI.
Selanjutnya, Chandara menceritakan bahwa anggota dari Grup Naga Barongsai Vipama Tandam, sebagian besar merupakan anak-anak dari daerah Tandam. Jumlah anggota Grup Naga Barongsai Vipama Tandam kurang lebih dari 40 orang.
Kemudian, Chandra menjelaskan bahwa menjadi pemain atau atlet Barongsai pun ada tahapannya. Tahapan pertama yaitu belajar kategori musik, yaitu calon pemain untuk penghafalan musik Barongsai. Tahap kedua, yaitu cara pukul gendang, dan cara pukul gong. Lalu, tahap ketiga para calon pemain belajar cara memegang kepala Barongsai dan lanjutnya cara seni bermain Barongsai. Tahapan-tahapan ini biasanya ditargetkan minimal dalam jangka waktu tiga bulan harus bisa dikuasai.
Setelah itu, baru masuk dalam penjiwaan dalam bermain Barongsai. Tapahapan terakhir ini biasanya dapat dikuasai dalam jangka waktu minimal sampai setengah tahun. Dalam hal ini juga, Chandra menjelaskan bahwa untuk menjadi anggota atau pemain Barongsai, minimal dari tingkat kelas 6 SD sampai Mahasiswa. Kemudian, untuk seleksi menjadi pemain Barongsai di Grup Naga Barongsai Vipama Tandam tidak ada. Namun seleksi tersebut lebih ke arah seleksi alam.
Latar Belakang Berdirinya Grup Naga Barongsai Vipama Tandam
Chandra mennceritakan bahwa dirinya merupakan atlet Wushu, dan menggeluti Barongsai setelah masa Presiden Gusdur. Hal ini dikarenakan pada era 1998 tradisi Kesenian Barongsai Tionghoa tak diperbolehkan. Lalu, pada masa Kepresidenan Gusdur, Ia dipanggil ke Vihara Setia Buddha sebagai pemain Wushu.
Lalu, beralih pemain ke Barongsai, dan disekolahkan ke Padang selama tiga minggu untuk mendalami Pila Tongkat Besi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/grup_naga_barongsai_vipama.jpg)