Mengenal Lebih Dekat Grup Naga Barongsai Vipama Tandam Deliserdang

Grup Naga Barongsai ini sudah lama berdiri di Vihara Pahala Maitreya Tandam, bahkan tiga kali berganti nama, kepengurusan dan kepelatihan.

Tayang:
Aqmarul Akhyar
Anggota Grup Naga Barongsai Vipama, Vihara Pahala Maitreya Tandam, di Polonia Hotel setelah penampilan, Sabtu (25/1/2020). 

Setelah mendalami permainan Barongsai, Ia belajar lagi ke Malaysia sampai tiga tahun berbasis Internasional. Lalu, dipanggil oleh pihak Vihara Pahala Maitreya Tandam pada tahun 2009 untuk mengajar grup Barongsainya. Hal ini juga karena Chandra merupakan umat dari Vihara Pahala Maitreya Tandam.

Akan tetapi, Chandra memberikan persyaratan kepada muridnya dan pihak Vihara, agar ilmu yang diajarkan tidak digunakan semena-mena dan targetkan go internasional.

Selanjutnya, Chandra juga menjelaskan bahwa setiap kali Grup Naga Barongsai Vipama untuk tampil di luar viahara ada tarifnya. Namun, tarif tersebut tidak lain hanya untuk keperluan makan dan minum serta biaya akomodasi Grup Naga Barongsai Vipama. Kemudian, Chandra mengatakan bila dari tarif tersebut mendapatakan keuntungan, maka keuntungan tersebut untuk biaya latihan Grup Naga Barongsai Vipama.

Filosofi Barongsai menurut Grup Naga Barongsai Vipama

Chandra menjelaskan bahwa filosofi Barongsai dalam masyarakat Tionghoa, bahwa Barongsai merupakan seekor binatang yang sangat suci, gagah dan perkasa. Kemudian, Barongsai ini juga dipercaya oleh sebagian masyrakat Tionghoa untuk menghilangkan aura negatif atau makhluk halus.

Barongsai ini merupakan binatang yang berbentuk singa, dan ini terdiri dari dua macam. Pertama bentuk seperti Bebek dan kedua seperti bentuk Anjing. Kemudian. Chandra juga menjelaskan Barongsai ada dua aliran.

Barongsai aliran Tiongkok selatan ini terbagi dalam dua tipe. Fuk San dan Hok San. Penyebutannya mendasar nama asal kota pembuatannya. Bentuk Fuk San identik dengan mulut yang melengkung ke atas. Dengan kepala besar dan tanduk runcing.

Tipe Hok San bentuk mulutnya menyerupai mulut bebek dan lebih berbulu. Ujung tanduknya bulat melingkar. Badannya lebih pendek dan lebih ringan dari barongsai Fuk San. Tiap barongsai memiliki beragam ekspresi. Mulai gembira, takut, marah, ragu-ragu, mabuk tidur, waspada, dan sebagainya.

Dalam hal ini,  Chandra, mengatakan bahwasanya Grup Naga Barongsai Vipama yang diasuhnya merupakan Barongsai aliran Hok San. Aliran-aliran ini juga merupakan aliran perguruan yang diketahui masyrakat Tionghoa. Kemudian, yang membedakannya lagi juga adalah aliran musiknya.

Selanjutnya, Chandra menjelaskan juga bahwa warna-warna dari Barongsai juga memiliki makna, untuk Barongsai warna merah, kuning dan putih untuk acara membuka pintu rezeki. Lalu, untuk warna hitam untuk mengusir roh halus yang jahat atau acar teretentu di vihara. Sementara untuk acara berduka, biasanya warna putih. Kemudian, untuk waran Ungu dan Orange biasanya untuk acara agma Hindu.

Chandra juga mengatakan bahwa setiap bermain Barongsai pastiada manusia memakai topeng. Nah, manusia memakai topeng ini merupakan badut. Dalam cerita dari tradisinya Tionghoa, bahwasanya badut ini disebut Laukepo yang bisa yang menjinakkan Barongsai (Singa) tersebut.  

(cr22/tribun-medan)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved