Bantah Anaknya Tak Punya Etika, Kepsek SMAN 8 Sebut Guru Matematika Sebagai Provokator

Kepala SMAN 8 Medan, Jongor Panjaitan tak terima anaknya disebut tak punya etika oleh Herman Manurung, guru Matematika.

Bantah Anaknya Tak Punya Etika, Kepsek SMAN 8 Sebut Guru Matematika Sebagai Provokator
Tribun Medan/Maurits Pardosi
Jongor Panjaitan, Kepala SMAN 8 Jalan Sampali, Pandau Hulu, Kecamatan Medan Area membeberkan harapannya atas perkelahian sesama guru Deni Panjaitan dengan Herbin Manurung. 

Bantah Anaknya Tak Punya Etika, Kepsek SMAN 8 Sebut Guru Matematika Sebagai Provokator

MEDAN-TRIBUN.com, MEDAN - Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 8 Medan, Jongor Panjaitan tak terima anaknya disebut tak punya etika oleh Herman Manurung, guru Matematika.

Ia bahkan menyebut Herbin Manurung sebagai provokator atas masalah yang terjadi selama setahun lebih di sekolah tersebut.

"Jangan dia bilang anak saya nggak punya etika," ungkap Jongor Panjaitan kepada www.tribunmedan.com saat ditemui di kantornya di SMAN 8 Jalan Sampali, Pandau Hulu, Kecamatan Medan Area, Selasa (4/2/2020).

"Masalah di SMAN sudah berlangsung selama satu tahun lebih, dan dialah provokator di belakang ini," imbuhnya.

Adapun Herbin Manurung telah melaporkan sesama guru di SMAN 8, Deni Panjaitan yang juga merupakan anak kepala sekolah, ke Polsek Medan Area.

Jongor Panjaitan menguraikan bahwa posisi anaknya di sekolah tersebut hanyalah sebagai guru olahraga, bukan sebagai pengawas kepsek.

Ia menyebutkan bahwa dirinya juga pernah di-bully dari Manurung dan tuduhan selingkuh.

"Jadi akibat satu tahun lebih, kebetulan memang anak saya sebagai guru olahraga, bukan pengawal saya, bukan. Jadi gimana lah (reaksi) anak sama bapak yang sudah dibully, dituduh selingkuh,” ujarnya.

Perihal perkelahian antara Deni Panjaitan dengan Herman Manurung, Kepsek membenarkan peristiwa tersebut.

Perkelahian tersebut berawal dari pemanggilan siswa yang bersangkut paut dengan perkelahian guru pada pagi hari di sekolah.

Perkelahian Deni Panjaitan dengan Herman ditandai dengan adanya adu mulut di dalam kelas.

"Ada masalah guru kita berkelahi pagi-pagi, trus menyangkutlah ke siswa kita dua orang, Disuruh Wakil Kepala Sekolah lah anak saya memanggil siswa itu ke dalam kelas. Setelah disuruh, kebetulan memang si Manurung sedang mengajar di dalam kelas, kemudian ditunggulah sepuluh menit dan tidak datang. Lalu, diulangilah memanggil, terjadilah perkelahian mereka, adu mulut di dalam kelas," tutur Jongor Panjaitan.

(cr3/medan-tribun.com)

Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved