Disdik Simalungun Diduga Bisniskan NUPTK, Guru Honorer Diminta Setor Uang Belasan Juta
Guru honorer di Simalungun kerap jadi "sapi perah" oknum Dinas Pendidikan. Saat ini, guru honorer diminta setor uang belasan juta
Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
Jumlahnya sama sesuai yang diinformasikan TM, Korwil Pematang Sidamanik.
"Sudah ada teman kami yang nyetor Rp 14 juta untuk dapat NUPTK itu. Ini kan luar biasa sudah," kata Ganda.
Ia mengatakan, pembayaran untuk perpanjangan NUPTK itu sangat tidak masuk akal.
Sebab bagaimana mungkin guru honorer bisa bayar belasan juta, sementara gaji perbulan saja hanya Rp 1 juta.
• Pegawai Honorer USU Ditemukan Tewas Diduga Bunuh Diri, Belajar di Youtube Sebelum Bertindak
"Ini trik mereka biar kami (guru honorer lama) resah, terus berhenti ngajar.
Guru-guru baru kemudian diminta nyetor," ungkap Ganda.
Tidak hanya dipusingkan dengan biaya perpanjangan NUPTK yang diminta Disdik Simalungun, para guru honorer juga dibuat resah dengan adanya pemotongan gaji.
"Tahun 2018 sampai pertengahan, gaji kami itu Rp 2 juta perbulan.
Semester selanjutnya hingga akhir 2019 gaji kami itu Rp 1 juta perbulan.
Waktu itu bisa kami terima meskipun berat, mau makan apa dari gaji segitu," kata Ganda.
Pada tahun 2018, lanjut Ganda, bahwa jumlah guru honorer di Simalungun mencapai 1.502 orang.
Gajinya bersumber dari APBD. Namun, kata Ganda, belakangan alokasi anggaran kian terbatas.
Dampaknya, gaji guru honorer dipotong.
"Di tahun 2019, kok banyak kejanggalan. Ada 1.800 guru honorer baru yang terbit SK-nya di akhir 2019.
Kan aneh, logikanya enggak sanggup menggaji, kok ada guru baru," ujar Ganda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/aksi-demo-sejumlah-guru-honorer-ke-kantor-bupati-simalungun-jumat-2822020-siang.jpg)