Getirnya Nasib Paramedis yang Merawat Pasien Covid-19, Tak Dilengkapi APD hingga 1 Orang Meninggal
Ini Kisah Tenaga Medis dan Janji Pemerintah untuk Mereka yang Ada di Garda Terdepan Hadapi Covid-19
Sampai-sampai saat bekerja Mawar belum menggunakan ADP yang tidak sesuai standar pada umumnya untuk menangani corona.
“Aku cuma pakai baju gaun yang dipakai buat operasi bukan baju astronot yang sesuai standar,” sambung Mawar.
Setiap harinya, 15 hingga 25 pasien terduga Covid-19 dilayani oleh tenaga medis.
Tak jarang pula ia membeli masker menggunakan uang pribadi untuk dipakainya selama bertugas.
Berbeda dengan Mawar, Melati bersama rekan kerjanya di rumah sakitnya justru bertugas dengan kondisi irit.
Arti irit yang dimaksud adalah ADP yang ada di rumah sakit belum tentu stoknya mencukupi untuk para tenaga medis.
“Berusaha sehemat mungkin (pakai masker dan baju APD), lebih menjaga supaya tidak cepat kotor jadi bisa dipakai lebih lama (dalam satu sift). Saya juga letakkan kain di dalam masker supaya bisa dipakai seharian,” ucap Melati.
Sama dengan Mawar jika stok APD habis, Melati dan teman-temannya rela patungan untuk membeli masker meski mahal harganya.
“Kalau merasa stok masker di rumah sakit sudah mulai mau habis, perawatnya inisiatif beli masker yang memang harganya sekarang mahal,” ucap dia.
Meski begitu, Mawar dan Melati percaya segala rintangan yang dihadapinya ini untuk membuat si pasien sembuh.
Mereka pun senang bila pasien yang datang kembali pulang dalam keadaan sehat walafiat.
Satu tenaga medis positif Covid-19 meninggal
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan, 25 tenaga medis yang bekerja di rumah sakit rujukan pemerintah untuk menangani virus corona dinyatakan positif Covid-19.
Bahkan satu di antaranya telah meninggal dunia.
"Saat ini sudah ada 25 tenaga medis di Jakarta yang terkonfirmasi Covid-19 dan satu meninggal dunia," ujar Gubernur dalam jumpa pers di Balai Kota, Jumat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/paramedis-yang-merawat-pasien-covid-19.jpg)