Dhian dan Keluarga yang Sudah Tujuh Kali Ramadan di Belanda Sangat Merindukan Suara Azan

Mendengar suara azan, dan ada yang membangunkan saat sahur pada Bulan Ramadan momen yang sangat dirindukan Dhian Sistemardika Ningdiah

HO
Warga negara Indonesia Dhian Sistemardika Ningdiah dan keluarga saat menikmati makanan di Belanda. 

TRIBUN-MEDAN.com - Mendengar suara azan, dan ada yang membangunkan saat sahur pada Bulan Ramadan momen yang sangat dirindukan Dhian Sistemardika Ningdiah. Sudah tujuh tahun ia tak pernah lagi merasakan hal itu.

Sejak Februari 2014, atau tujuh kali puasa Dhian memang sudah tinggal di Belanda.

"Saya dan keluarga sudah tujuh tahun tinggal di Belanda. Tahun pertama saya puasa di sini, durasinya sekitar 19 jam. Tapi, makin ke sini lama puasanya kian berkurang. Karena jadwal Ramadan berubah setiap tahun dan durasinya mengikuti musim yang terjadi di Belanda," ujarnya saat dihubungi Tribun Medan melalui aplikasi WhatsApp, Senin (27/4).

Wanita kelahiran 15 Desember tersebut juga sangat merindukan makanan-makanan khas Ramadan di Indonesia. "Saya rindu manyantap makanan khas Ramadan, seperti kolak, gorengan dan makanan lainnya," ungkapnya.

Dhian dan keluarga, yang saat ini tinggal di Capelle Aan Den Ijssel, Belanda, merindukan tradisi-tradisi yang cuma ada saat Ramadan di Indonesia.

"Saya dan keluarga kangen Salat Tarawih bareng di masjid dan mendengar suara orang-orang untuk membangunkan orang lain untuk sahur. Di Belanda jarang ada masjid, kalaupun ada jauh jaraknya," katanya.

Ia menuturkan, di Belanda saat Ramadan tidak ada tradisi khusus, sehingga ia dan keluarga sangat merindukan tradisi-tradisi saat Ramadan.

"Tapi, sesekali komunitas orang Indonesia di sini suka mengadakan buka puasa bersama di Masjid Denhaag atau masjid orang Indonesia. Di sana kami buka puasa bersama, mengaji dan mendengarkan ceramah," tuturnya.

Saat ini, aktivitas warga di Belanda sedang dibatasi, karena ada pandemi virus corona penyebab Covid-19. Kegiatan di tempat-tempat umum seperti tempat pertemuan, tempat olahraga, horeka (hotel, restoran, dan Kafe), sekolah dan daycare ditutup untuk sementara waktu

"Tapi, minggu lalu Perdana Menteri Belanda sudah ngumumin bahwa horeka, pertokoan dan daycare akan mulai dibuka kembali pada 11 Mei. Tapi, work from home atau WFH dilanjutkan hingga 20 Mei," terangnya.

Menurutnya, Belanda dari dulu memang sudah sepi baik saat Ramadan maupun tidak Ramadan. "Tapi, biasanya tiap Lebaran saya antar makanan khas Idul Fitri, seperti opor dan lontong kepada tetangga-tetangga dekat rumah. Mereka suka dan happy dikasih itu. Mereka appreciate," ungkapnya.

Sejak tinggal di Belanda, Dhian dan keluarga belum pernah pulang kampung ke Jakarta tempat ia dan keluarga tinggal.

"Belum pernah pulang, karena saya punya anak yang masih sekolah. Selama tujuh tahun tinggal di sini, Lebaran belum pernah bertepatan dengan anak saya libur sekolah. Jadi, kami enggak bisa mudik pas Lebaran, karena anak harus sekolah. Di sini lumayan susah kalau mau izin anak sekolah, kecuali hal-hal urgent. Itu pun perlu ada alasan dan bukti-bukti yang jelas dulu untuk diajukan. Jika,disetujui baru bisa izin," katanya.

Ia menambahkan, sejak tinggal di Belanda tidak pernah kesulitan mencari kebutuhan pokok atau makanan halal. Di sekitar tempat tinggalnya banyak orang Turki dan Maroko.

"Alhamdulillah, di Belanda sangat gampang nyari makanan halal. Banyak orang Turki dan Maroko yang tinggal dan berdagang di sini. Jadi, alhamdulillah gampang nyari warung makan halal dan toko daging halal," katanya.(pra)

Editor: Perdata O Ginting S
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved