Persentase Pasien Sembuh Sumut di Atas Nasional

Luar biasa. Ternyata persentase kesembuhan pasien Covid-19 di Sumut sekitar 36 persen melebihi persentase kesembuhan nasional, yang hanya 16 persen.

Tayang:
TRI BUN MEDAN/Victory Arrival
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pemprov Sumut, dr. Aris Yudhariansyah 

TRIBUN-MEDAN.com - Lima pasien positif Covid-19 kembali sembuh di Sumut, Selasa (28/4). Sehingga total sudah 40 pasien yang pulih di Sumut.

Sedangkan jumlah pasien positif Covid-19 bertahan pada angka 111. Berdasarkan data tersebut, persentase kesembuhan Covid-19 di Sumut 36 persen.

Persentase itu jauh di atas persentase kesembuhan secara nasional, 13 persen.

Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah mengatakan, angka kesembuhan di Sumut akibat paparan Covid-19 saat ini berada di 36 persen.

Angka tersebut menurutnya jauh di atas rata-rata nasional.

"Kita patut mensyukuri angka kesembuhan Covid-19 di Sumut saat ini, yang berada pada angka 36 persen. Angka ini jauh berada di atas angka rata-rata nasional," ujarnya saat konfrensi pers di Pemprov Sumut, Selasa sore.

Aris menambahkan, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan angka kesembuhan di Sumut.

"Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan angka kesembuhan hingga pendemi ini berakhir di Sumut. Tapi, ini tentunya dengan dukungan masyarakat," katanya.

Aris kemudian merincikan lima pasien yang pulih, yakni empat pasien asal Kota Medan, dan satu pasien dari Kota Pematangsiantar.

Mereka ada yang dirawat di Rumah Sakit Colombia Asia Medan, RS GL Tobing Medan, dan Rumah Sakit Umum Daerah Djasamen Saragih Siantar.

Dari lima pasien tersebut empat di antaranya laki-laki, dan satu orang perempuan.

Ia juga menyebutkan jumlah pasien dalam pengawasan atau PDP Covid-19 berkurang 15 orang, jadi 138 pasien. Sedangkan pasien yang meninggal 12 orang. Namun, Aris memprediksi, penularan Covid- 10 masih terjadi di Sumut.

"Saudara-saudara sekalian gambaran yang saya sampaikan dalm data ini menunjukkan bahwa masih terjadi penularan di antara kita. Masih ada orang sakit membawa virus, tapi tidak merasakan dirinya sakit, yang masih berada di tengah-tengah kita. itulah yang harus segera kita hentikan," ujar Aris.

Secara nasional hingga Selasa pukul 12.00 WIB, terjadi penambahan 415 pasien Covid-19. Penambahan itu menyebabkan total ada 9.511 kasus Covid-19 di Indonesia, sejak pasien pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

Hal ini diungkapkan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta pada Selasa sore. "Kasus positif (totalnya) ada 9.511 orang," ujar Yuri.

Data dalam periode yang sama menunjukkan, ada penambahan 103 pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh. Hingga kemarin, total ada 1.254 pasien yang dinyatakan negatif virus corona setelah menjalani dua kali pemeriksaan.

"Kita bersyukur pasien sembuh sudah cukup banyak," tutur Yuri.

Namun, ia juga mengungkapkan kabar duka dengan masih adanya pasien yang meninggal setelah dinyatakan positif virus corona.

Ada penambahan delapan pasien Covid-19 yang meninggal pada 27-28 April 2020. Dengan demikian, total ada 773 pasien Covid-19 yang tutup usia.

Tak Ada Pasien Positif

Lima hari berturut-turut, sejak 24-28 April 2020 RSUP Haji Adam Malik Medan tidak merawat pasien berstatus positif Covid-19.

Namun, kemarin terdapat penambahan dua pasien PDP. Kasubag Humas RSUP Adam Malik Rosario Dorothy Simanjuntak menyebut, sembilan PDP masih menunggu hasil uji swab.

"Masih ada sembilan pasien kita menunggu hasil uji polymerase chain reaction atau PCR keluar," tuturnya.

Rosa menambahkan, sebagian spesiemen tersebut dikirim ke Rumah Sakit USU dan sebagian ke Litbangkes Kemenkes RI Jakarta.  "Sebagian masih dikirimkan ke Jakarta, karena yang di RS USU kan terbatas," katanya.

PSBB Surabaya

Hari pertama pembatasan sosial berskala besar atau PSBB, kemacetan lalu lintas terjadi di Bundaran Waru atau tepatnya di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa.

Koordinator Protokol Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M Fikser mengatakan, memasuki masa PSBB, petugas yang berjaga di perbatasan melakukan screening terhadap warga yang akan masuk ke Surabaya.

"Karena proses screening itu, kendaraan berhenti dan menimbulkan kemacetan. Tapi, kami berharap ke depan, karena Surabaya dan Sidoarjo melaksanakan PSBB, kami minta warga di rumah saja," kata Fikser saat dihubungi, Selasa.

Dengan adanya pemeriksaan kendaraan di Bunderan Waru menuju arah Jalan Ahmad Yani, Surabaya itu, Fikser berharap warga tidak mengunjungi Surabaya tanpa tujuan yang jelas.

Fikser menyampaikan, kemacetan di Bundaran Waru dimungkinkan karena masih ada warga yang belum tahu bahwa Kota Surabaya menerapkan PSBB.

"Karena mungkin ini hari pertama (PSBB), jadi mungkin ada warga yang tidak tahu. Tapi, kami berharap dalam beberapa hari kemudian warga sudah mengetahui tentang PSBB di Surabaya," katanya dikutip dari Kompas.com.

Fikser mengungkapkan, saat dilakukan pemeriksaan kendaraan, petugas akan melakukan pengecekan suhu tubuh pengendara. Apabila suhu tubuh di atas 38 derajat celsius, mereka akan menjalani rapid test.

Selain itu, lanjut Fikser, masyarakat yang dikenakan screening juga ditanyai kepentingannya masuk ke Surabaya. Jika tanpa tujuan yang jelas, mereka akan diminta kembali. "Kami tegas minta kembali dan melarang untuk masuk," ujar Fikser.

Ia menambahkan, sampai saat ini situasi di posko pemeriksaan atau check point di perbatasan, terutama di kawasan Bundaran Waru, masih terjadi kemacetan. Selain itu, di beberapa check point, seperti di kawasan Lakarsantri dan Karangpilang, Surabaya, disebut juga terjadi kepadatan kendaraan.

"Jadi, di pintu-pintu utama, akses masuk ke Surabaya (nontol) pada macet semua. Kami akan terus melakukan sosialisasi agar beberapa hari ke depan jalanan bisa kembali normal dan lengang, ya. Warga sudah tahu dan bisa tinggal di rumah," kata Fikser.

Melambat

Ada berita gembira yang disampaikan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Doni Monardo.

Kasus corona menunjukkan tren melambat, hingga diharapkan pada Juli mendatang aktivitas warga Indonesia kembali normal. Doni mengatakan, kasus Covid-19 di DKI Jakarta mengalami pelambatan yang cukup pesat.

"Khusus DKI Jakarta perkembangan terakhir kasus positif mengalami perlambatan yang pesat. Saat ini, grafiknya telah flat," kata Doni, Selasa. Ia berharap ke depan, kasus corona terus menurun. "Kita doakan semoga tidak terlalu banyak kasus positif yang terjadi," kata Doni.

Menurunnya kasus Covid-19 tersebut, menurut Doni, karena penerapan PSBB yang berjalan secara baik. Pelaksanaan PSBB tersebut telah dilaporkan Gubenur Jakarta Anies Baswedan kepada Presiden Joko Widodo.

"Ini karena PSBB telah berjalan dengan baik," tuturnya.

Pemerintah DKI, menurut Doni, tegas dalam menerapkan PSBB. Pemerintah DKI juga mengeluarkan imbauan, peringatan, dan sanksi kepada perusahaan-perusahaan yang tidak mengikuti protokol kesehatan.

"Ada 543 perusahaan dan tempat kerja yang melakukan pelanggaran. Sudah 76 yang disegel sementara. Karena, perusahaan itu bukan 11 komponen atau bidang yang dapat pengecualian. Sisanya, dalam bentuk peringatan dan teguran. Mudah-mudahan langkah tegas Gugus Tugas Provinsi DKI dapat memberikan efek yang positif bagi semakin berkurangnya kasus positif di Jakarta," ujarnya.

Jumlah penambahan kasus virus corona di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok juga terus menurun. Hal itu dikatakan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Berli Hamdani Gelung Sakti.

Penurunan tersebut terjadi pasca diberlakukannya kebijakan PSBB. "Saya sampaikan, kalau kemarin sudah disampaikan ada penurunan kasus terutama di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kota Bogor (Kabupaten Bogor dan Kota Depok). Bahkan angkanya 38,5 persen," kata Berli.

Kendati menurun, lanjut Berli, namun sebarannya meluas. "Kalau dilihat dari sebaran kasus, untuk Bodebek selama sembilan hari melakukan PSBB menunjukkan penurunan. Tapi, secara wilayah ada perluasan. Jadi sebarannya melebar," ujar Berli.

Menurut dia, Pemprov Jawa Barat akan menggencarkan pengetesan Covid-19 melalui metode PCR di kawasan yang memberlakukan PSBB, seperti di Bandung Raya dan Bodebek.

Ia mengatakan, pengetesan Covid-19 sistem rapid diagnostic test atau RDT akan digencarkan di kawasan non- PSBB, yang fungsinya memperluas pemetaan sebaran Covid-9 di Jawa Barat.

Berakhir September

Para ilmuwan di Universitas Teknologi dan Desain Singapura (SUTD) memprediksi wabah Covid-19 di Indonesia bakal kelar pada Juni nanti. Menurut mereka, saat ini Indonesia sudah memasuki masa puncak.

Prediksi tersebut dibuat Laboratorium Inovasi Berbasis Data atau DDI SUTD dan ditampilkan di situsnya, bertajuk Kapankah Covid-19 akan Berakhir? Mereka tak hanya membuat perkiraan untuk Indonesia. Ada 27 negara lain yang ikut diprediksi oleh akademisi dari SUTD ini.

Mereka membuat prediksi tersebut berdasarkan data yang terus diperbaharui, terakhir pada 26 April 2020. Metode yang digunakan adalah model SIR, atau susceptible atau rentan, infected atau tertular, recovered atau sembuh, diterapkan untuk memperkirakan kurva siklus hidup pandemi virus corona.

Mereka menerapkan kode-kode dari Milan Batista, ilmuwan dari Universitas Ljubljana, Slovenia. Juga, mereka memanfaatkan data dari situs Our World in Data.

Namun, Laboratorium Inovasi Berbasis Data SUTD ini memperingatkan bahwa penelitian yang mereka tampilkan di situs itu hanya bertujuan untuk pendidikan dan riset, serta bisa jadi memuat kesalahan atau error.

(vic/chan/wen)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved