Ramadan di Australia,Yulisyah Putri Ikut Tradisi Berbuka Bersama Mahasiswa Muslim Internasional
Menjalani Ramadan di Australia sama seperti bulan lainnya karena tidak ada hari khusus selama Ramadan.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Menjalani Ramadan dan berbuka puasa di negeri orang tentu akan berbeda saat melakukannya bersama keluarga.
Hal ini dirasakan oleh Yulisyah Putri, mahasiswa asal Medan yang sedang menempuh pendidikan magister di Monash University Caulfield, Australia.
Di Australia, Yulisyah tidak sendiri menjalani Ramadan.
Bersama sang suami yang juga menempuh pendidikan di University of Melbourne ini bisa mengobati rasa rindunya jalani Ramadan jauh dari keluarga.
Yulisyah menuturkan bahwa di univesitas tempat ia belajar ada tradisi buka puasa bersama dengan mahasiswa muslim dari seluruh dunia, diantaranya Turki, Arab, Pakistan, dan Bangladesh.
Ia menuturkan bahwa tradisi ini sangat unik karena selagi menunggu berbuka puasa, ia dan mahasiswa lainnya dari berbagai negara dapat bertukar informasi ataupun budaya dari berbagai negara.
"Tentu yang paling dirindukan itu buka bersama keluarga ya. Di sini kita buka bersamanya itu di Universitas Monash Caulfield. Kebetulan disini selalu ada buka puasa gratis, misalnya buka jam enam saya dan teman-teman lainnya datang jam enam kurang. Kita duduk di musala sambil bercerita saling mengenal satu sama lain dan cerita budaya masing," ungkap Yulisyah, Sabtu (2/5/2020).
Tahun 2020 menjadi Ramadan kedua oleh Yulisyah bersama suami di Melbourne Australia sejak Januari 2019.
Bagi Yulisyah, Jalani Ramadan di Australia sangat berbeda dengan Indonesia yang begitu kental khas Ramadan yang sangat bernuansa islami.
"Indonesia terasa sekali bulan Ramadannya, ada buka bareng, ngabuburit, pokoknya suasananya islami banget. tapi di Australia kita tidak akan menemukan itu. Mungkin misalnya ke musala baru buka bareng. Di Indonesia biasanya satu kampung yang merayakan, disini multinasional ada Pakistan, Turki, Singapura dan lainnya. Jadi seru aja kita bisa belajar bareng dari budaya masing" ujar Yulisyah.
Bagi Yulisyah, selama Ramadan di Australia, hal yang paling unik yaitu saat harus jalani tarawih di Australia.
"Nah yang unik di Australia itu ketika menjalani tarawih yaitu dari mazhabnya. Terkadang saya suka bingung kalau saat tarawih tiba-tiba ada qunut, ya karena mazhabnya dari Arab atau dari negara lain," tutur Yulisyah.
Di Australia sendiri juga memiliki masjid milik warga Indonesia.
Yulisyah menjelaskan bahwa untuk ke masjid tersebut harus menempuh waktu selama satu jam.
"Di Australia juga ada masjid Indonesia, ceramahnya juga berbahasa Indonesia, tapi itu jauh dari rumah. Biasanya sampai satu jam dari rumah. Tahun lalu beberapa kali ke sana," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/yulisyah-1.jpg)