Breaking News:

Masjid Raya Sultan Basyaruddin: Pernah Jadi Markas Belanda hingga Simpan Bedug Berusia 166 Tahun

Masjid Raya Sultan Basyaruddin merupakan peninggalan dari Sultan Serdang ke IV, Tuanku Basyaruddin Syaiful Alamsyah.

TRIBUN MEDAN/HO
DOKUMENTASI Masjid Basyaruddin yang dibangun sejak tahun 1854 yang terletak di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu, Deliserdang. 

Saat ini, Masjid Raya Sultan Basyaruddin sudah ditutupi dengan keramik putih.

Damuri menuturkan walau ada beberapa perbaikan, namun nuansa khas melayu begitu terasa ketika memasuki masjid tersebut.

"Kalau dulu jendela tidak ada. Semuanya berbentuk pintu kayu dan di atasnya itu ada bentuk gaya khas melayu. Namun, karena dinilai rasa gelap, jadi dibuatlah jendela. Kalau aslinya dia pintu kayu seperti ini (sambil menunjukkan pintu kayu di tengah masjid)," kata Damuri.

Lezatnya Bubur Sup India, Menu Favorit Berbuka Puasa di Masjid Ghaudiyah Medan

Berdiri sejak tahun 1854, masjid ini memiliki sejarah dengan tentara Belanda dan Jepang. Damuri yang mendengar cerita dari leluhur terdahulu mengungkapkan bahwa dulunya Masjid Sultan Basyaruddin sempat menjadi persembunyian sementara tentara Belanda.

"Dulu sempat masjid ini jadi persembunyian tentara belanda. Namun hanya sebentar saja. Ini waktu penyerangan tentara Belanda ke Kesultanan Serdang di tahun 1865 yang jadi markas Belanda. Masyarakat sekitar ya tidak terima, namun tidak berani brontak karena mereka punya senjata," ungkapnya.

Selain Belanda, Masjid ini juga punya sejarah dengan tentara Belanda. Menurut cerita Damuri, dulunya di belakang masjid ini ada parit besar yang dibangun oleh tentara Jepang untuk mengalirkan air menuju perkebunan kelapa sawit yang ada di daerah Serdang.

"Ketika masuk Jepang, belakang sumur ini dibuat parit besar yang mengalirkan air langsung ke Serdang menuju kebun sawit milik Jepang," kata Damuri.

DOKUMENTASI bedug milik Masjid Raya  Sultan Basyaruddin yang telah ada sejak masjid ini pertama kali dibangun.
DOKUMENTASI bedug milik Masjid Raya Sultan Basyaruddin yang telah ada sejak masjid ini pertama kali dibangun. (TRIBUN MEDAN/HO)

Ornamen khas Melayu sudah dapat dilihat dari pintu masuk dengan dilengkapi lubang angin berbentuk busur dan ornamen bunga khas Melayu.

Di dalam masjid, bangunan dan benda lainnya masih asli tanpa diubah, diantaranya ada mimbar yang sudah ada sejak tahun 1854.

"Mimbar ini merupakan sejarah peninggalan Sultan Serdang. Kalau untuk detailnya ini masih asli belum ada dirombak dan selain itu disini juga ada bedug yang dari awal berdiri masjid sudah ada sejak berdirinya masjid ini lebih dari 100 tahun yang lalu, namun saat ini sudah sangat jarang kita gunakan," ujar Damuri.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved