Masa New Normal, Investor Properti Masih Wait and See
Prospek properti masa New Normal ini khususnya untuk residensial, rumah tapak atau landed house akan banyak permintaan dibandingkan dengan apartemen.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Penerapan normal baru atau new normal di Indonesia diyakini bisa meningkatkan penjualan di sektor properti meski jumlah kenaikannya tidak signifikan.
"Saat pandemi ini secara general penjualan properti memang mengalami penurunan hingga 50 persen. Di tengah adanya New Normal ini, penjualan akan meningkat meski tidak signifikan," kata Analis Properti Sumatera Utara Edy Sanjaya, Selasa (9/6/2020).
Ia mengatakan sektor properti akan membaik perlahan.
Hal ini sejalan dengan investor yang masih wait and see hingga saat ini.
"Untuk harga juga belum akan mengalami kenaikan. Apalagi pengembang ini ingin menjual stok yang ada dengan cepat jadi harga tidak akan mengalami kenaikan. Bahkan mungkin ada diskon dan gimmick," ujarnya.
Sedangkan untuk prospek properti masa New Normal ini khususnya untuk residensial, kata Edy rumah tapak atau landed house akan banyak permintaan dibandingkan dengan apartemen.
• Properti Jadi Pilihan Investasi yang Tepat di Tengah Pandemi Covid-19
"Minat masyarakat akan apartemen ini ke depan akan berkurang karena selama Covid-19 ini kita sudah terbiasa dengan physical distancing dan social distancing. Sementara kalau apartemen saat mau masuk ke unit, kita harus masuk lift yang berbagi dengan orang lain," katanya.
Sedangkan untuk properti komersial seperti perkantoran, menurutnya akan ada penurunan permintaan. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah mulai terbiasa dengan sistem kerja dari rumah.
"Belakangan ini orang sudah mulai terbiasa dengan work from home jadi orang tidak masalah meski tidak berkantor. Gaya kerja orang-orang itu akan berbeda nantinya," katanya.
Sementara itu untuk pusat perbelanjaan ia mengatakan tidak akan ada penambahan pusat perbelanjaan dalam waktu dekat. Bahkan outlet di mal diperkirakan akan banyak tutup atau disewakan murah.
"Untuk kawasan industri mungkin akan mengalami penurunan karena corona ini membuat perusahaan banyak collapse, jadi enggak ada kebutuhan di kawasan industri," katanya.
Ia mengatakan untuk pembangunan rumah di lapangan, pengembang akan menetapkan konsep cluster. Jadi akan disiapkan hand sanitizer, pengecekan suhu pada pembangunan rumah.
"Sedangkan untuk pemasaran properti akan lebih condong kepada online, calon pembeli tidak perlu datang ke lapangan. Untuk rumah contoh akan divideokan dan dikirim ke calon customer, jadi dari rumah juga bisa melihat rumah contoh," katanya.
• Analis Properti Sumut Sebut Sekarang Momentum Tepat Untuk Beli Properti
Ia mengatakan untuk rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) juga terpengaruh dengan New Normal ini karena rumah tipe ini merupakan kebutuhan untuk end user. Kata Edy peningkatannya tidak akan signifikan karena saat ini banyak pabrik yang merumahkan karyawan jadi banyak yang kehilangan pekerjaan juga.
"Saat ini banyak properti yang dijual baik dari properti pengembang, primary, ataupun secondary karena banyak yang membutuhkan uang. Bahkan ada yang menjual hingga 50 persen dari harga pasar," katanya.
Ia menyarankan untuk investor yang memiliki uang saatnya mencari properti dengan harga murah. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
"Tapi harus lihat juga lokasinya. Jadi jangan cari lokasi yang tidak bagus yang akan dijual kembali susah, tidak liquid, ini akan menyulitkan pemilik," pungkasnya. (sep/tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/06032020_pameran_properti_danil_siregar-3.jpg)