Korban Pelecehan Seksual Dosen Swinger Sebut Pelaku Saban Minggu Cari Target, Sudah dari Tahun 2014
BA menyasar para korban untuk dengan modus riset untuk menceritakan fantasinya tentang swinger (tukar pasangan).
"Pelaku mengaku memanfaatkan nama NU dan nama UGM untuk menyasar target dengan dalih penelitian, konsultasi, curhat, dll," tuturnya.
"Memanfaatkan grup-grup alumni UGM dan jaringan NU untuk mencari target perempuan dan menghubungi secara random."
Dikutip dari Kompas.com, pelaku sempat membuat pernyataan meminta maaf melalui akun Facebook miliknya, Bams Utara.

Ia membuat video yang mengakui perbuatan pelecehan seksual tersebut.
"Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mendengarkan video saya ini. Saya membuat rekaman ini dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari siapapun," kata Bambang Arianto.
Ia juga mengklarifikasi modus penelitian yang disebutnya adalah bohong.
"Saya ingin menjelaskan bahwa pernyataan saya mengenai rencana penelitian tentang swinger kepada banyak perempuan adalah bohong," katanya.
"Bahwa sesungguhnya saya sebenarnya lebih ingin berfantasi swinger secara virtual semata. Hal itu dikarenakan kata swinger sering menghantui saya di setiap waktu dan tempat."
"Selain berfantasi secara virtual tentang swinger, saya juga pernah melakukan pelecehan secara fisik. Oleh sebab itu secara khusus saya meminta maaf kepada seluruh korban baik dari kampus UGM Bulaksumur, maupun yang lain, yang pernah menjadi korban pelecehan saya baik secara fisik, tulisan maupun verbal sehingga menimbulkan banyak trauma."
Meskipun begitu, saat ditelusuri kembali akun Facebook atas nama tersebut beserta videonya telah dihapus.
Bermodus Riset
Dalam unggahan lain, LA mengungkapkan awal mula dirinya dihubungi BA.
Ia membenarkan modus BA beralasan hendak meneliti tentang praktek swinger.
LA yang merupakan peneliti awalnya percaya dengan penuturan BA.
"Saya ceritakan padanya sebatas etika dan aturan pengambilan data. Lalu, dia cerita bahwa dia akan riset sensitif macam itu, tepatnya tentang gaya hidup swinger di kalangan kelas sosial menengah ke atas," tutur LA.