TRIBUN Wiki

TRIBUN-MEDAN-WIKI: Menyelisik Jejak Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat

Bangunan berkonsep seperti bangunan yang sering digunakan oleh masyarakat di negara-negara Eropa pada awal abad ke 19.

Editor: Salomo Tarigan
T ri bun-Medan.com/Arjuna Bakkara
Pesanggrahan Soekarno di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. 

Laporan Reporter T ri bun-Medan.com/Aqmarul Akhyar

T RI BUN-MEDAN-WIKI.com –

Bapak bangsa Indonesia, Dr. Ir. H. Soekarno sering diasingkan oleh Belanda ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Satu di antaranya, di Sumatra Utara, yaitu Kota Parapat, di kawasan ini ada satu rumah pengasingan Presiden I RI tersebut. 

Rumah pengasingan tersebut dibangun pada tahun 1820 oleh Belanda, yang saat itu digunakan sebagai villa bagi mandor kebun.

Rumah berukuran 10 x 20 meter dengan arsitektur bergaya Eropa tersebut berdiri kokoh di atas lahan seluas dua hektare.

Soekarno di rumah pengasingan di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara.
Soekarno di rumah pengasingan di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara. (T RI BUN-MEDAN / ist)

Saat ini rumah tersebut dijadikan Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara sebagai objek wisata sejarah, dan Mess Pemda bagi para pejabat Pemerintahan Sumut yang datang berkunjung ke Kota Parapat.

Dalam cacatan sejarah, Soekarno atau disebut Bung Karno diasingkan pada 4 Januari 1949 di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumut.

Bung Karno tak sendiri di asingkan di Parapat, Bung karno diasingkan oleh Belanda bersama dua rekan seperjuangannya, Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI) dan Haji Agus Salim. 

Di rumah pesanggrahannya di Parapat, Bung Karno mendapat pengawasan sangat ketat dari tentara Belanda.

Pengawasan tersebut tak hanya pada Bung Karno, namun juga pada kedua pegawainya yang ada di rumah tersebut.

Kedua pegawainya ialah Buka Sinaga dan Sitindaon, yang juga menjadi perantara pesan rahasia Bung Karno kepada para pejuang gerilyawan.

Hampir 2 bulan aktivitas dan kegiatan Bung Karno dikawal ketat oleh tentara kolonial Belanda supaya tidak bocor lagi informasi ke para pejuang gerilyawan.

Namun, pada masa itu tak ada kehabisan akal untuk membocorkan informasi ke para pejuang gerilyawan. Informasi kepada gerilyawan disampaikan melalui makanan dan sayur-sayuran.

Bung Karno meminta pada Sitindaon untuk membawakan makanan paha ayam.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved